Seketika suasana hening. Barisan wajah yang tak kukenal tampak khusyuk memanjatkan doa pada sang pencipta sambil menunduk ke arah makam yang sudah berumur itu. Di belakangnya tampak seorang ibu membawa rangkaian bunga dan sebotol air, membisu menanti sela di tengah ritual ziarah kubur yang sedang berlangsung.

Ibu Nur Aeni. (Foto: Fakhri Samadi. Tanggal: 10 April 2010)
Dan ketika doa telah dipanjatkan rangkaian bunga dan sebotol air itu ia serahkan kepada para peziarah sebagai penyempurna ibadah sunnah mereka kali ini. Potongan adegan ini terjadi di sebuah kompleks Pemakaman Islam Panaikang di bilangan Urip Sumiharjo, Makassar.
Sosok Ibu nan tegar itu adalah Nur Aeni. Perempuan baya berdarah Takalar-Buton yang sehari-hari mangkal di kompleks Pemakaman Islam Panaikang menjajakan rangkaian bunga dan air bersih bagi peziarah kubur yang datang dari penjuru kota. Ia setia menanti peziarah yang datang untuk menjenguk sanak saudara yang lebih dahulu menghadap yang kuasa.
“Saya berjualan di sini sejak masih kecil, masih SD ka’ itu hari”, kenang ibu beranak dua ini. Dengan sebuah gerobak tua berbahan dasar kayu, ia menjajakan barang dagangannya di setiap kesempatan berjualan. Orang tua Nur Aeni juga berprofesi sebagai penjual keperluan ziarah kubur yang kemudian ia lanjutkan untuk menyambung hidup. “Waktu masih kecil ka’, ini tempat masih hutan-hutan, nda’ ada pi juga itu taman makam pahlawan yang di sebelah itu, ada beberapa pahlawan yang dikubur di sini waktu belum jadi itu TMP”, tuturnya ketika ditanya perjalanan kompleks pemakaman ini.
Tempat peristirahatan terakhir bagi legenda sepakbola Ramang, mungkin saja jadi destinasi akhir dari babakan hidup Ibu Nur

Berjualan sejak masih SD. (Foto: Fakhri Samadi. Tanggal: 10 April 2010)
Kini kompleks pemakaman yang membentang di atas lahan seluas ±60.000 m2 ini, dipadati oleh ribuan jenazah kaum muslimin dan terdaftar secara administratif sebagai salah satu tempat pemakman umum di Kota Makassar. Di sebelah barat kompleks pemakaman berbatasan dengan pemukiman warga Panaikang, ibu Nur membangun rumah sederhananya di situ. Rumah sederhana yang didominasi lembaran seng dan kayu itu, ia hidup bersama suami dan kedua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Suaminya yang berprofesi sebagai penggali kuburan di kompleks pemakaman yang sama, kadang-kadang ikut membantu ibu Nur berjualan jika ramai pengunjung.

Siluet Nur Aeni dan kembang ziarah. (Foto: Fakhri Samadi. Tanggal: 10 April 2010)
Rangkaian bunga yang ia tawarkan kepada pengunjung mulai dari Rp 3.000 hingga Rp 5.000 perkeranjang. “Penghasilanku nda tentu tergantung banyaknya yang datang, biasa kalo lagi sepi paling saya dapat 10 ato 20 ribu”, ungkapnyanya polos.
Selain berprofesi sebagai penjual bunga, kadang Ibu Nur melayani pesanan kue dari ibu-ibu yang ada di kompleks perumahan di sekitar Panaikang. “Biasa ka’ menjual kue ato bikin kue pesanan untuk tambah-tambah penghasilan”, terang Ibu kelahiran tahun 1943 ini. Di sekitar area pemakaman ada 3 gerobak yang menjajakan jualan yang sama dengan ibu Nur dan mereka bersama-sama mengarungi kerasnya hari sambil menikmati kerindangan kompleks pemakaman yang terletak di sebelah Timur Makassar.
Tempat peristirahatan terakhir bagi legenda sepakbola Ramang, mungkin saja jadi destinasi akhir dari babakan hidup Ibu Nur. Ia tetap berharap bisa hidup bahagia dan membesarkan kedua

Setia membantu suami. (Foto: Fakhri Samadi. Tanggal: 10 April 2010)
anaknya yang masih belia dengan sebaik-baiknya. Bunga-bunga yang ia kumpulkan, yang menjadi tumpuan hidupnya selama ini, semoga tetap semerbak: mengharumkan setiap makam kaum muslim di tempat sejuk itu. (V)
Add your comment