Feedback

wajah

Fakhri Samadi   •  

Dg. Jai, Melaju di Antara Tembok Kampus

Kokoh berdiri, barisan tembok di selingi arsiran batang besi memberi tanda bahwa Anda sedang menatap kampus negeri termegah di Kota Makassar: Universitas Hasanuddin (Unhas). Di berbagai sudutnya menawarkan banyak kejutan, mulai dari prestasi tingkat dunia hingga tawuran antar mahasiswa yang tak jarang meminta korban. Namun cerita kali ini bukan tentang mahasiswa, bukan pula tentang dosen yang suka mencari tambahan penghasilan di luar kampus. Cerita kita adalah tentang seorang penyedia jasa angkutan sederhana, yakni becak yang setia mengantar civitas akademika Unhas yang tinggal di sekitar Jalan Politeknik Negeri Ujungpandang, tepat di sisi Selatan Kampus Unhas.

Daeng Jai, Lokasi: Jl. Politeknik Negeri Ujungpandang, Tanggal: 8 April 2010, Fotografer: Fakhri Samadi
Daeng Jai, Lokasi: Jl. Politeknik Negeri Ujungpandang, Tanggal: 8 April 2010, Fotografer: Fakhri Samadi
Daeng Jai, begitu sapaan akrabnya, pria berkulit hitam dengan janggut yang mulai memutih itu, mengayuh pedal becaknya dengan penuh semangat, menantang teriknya matahari di siang itu. Seorang cewek berjilbab coklat tampak menikmati teduhnya kursi becak Daeng Jai yang mengantarnya hingga ke tepi jalan utama Perintis Kemerdekaan Km 10. Keringat lelah Daeng Jai ditebus oleh penumpang yang diantarnya itu dengan membayar Rp5.000 saja.

Tahun 1971 Daeng Jai memutuskan untuk berhenti dari profesinya sebagai petani pengolah sawah di kampung halamannya di Bulukumba dan mencoba peruntungan nasib di Kota Palopo sebagai pengolah kayu balok.

“Dulu, harga satu kubik kayu di Palopo hanya Rp 7.500, tapi waktu habismi kayu di hutan Palopo saya lalu jadi nelayan di sana”, tutur pria berumur 67 tahun ini. Ia kemudian melanjutkan cerita hidupnya yang keras, ketika perahu kecilnya dan jaring untuk menangkap ikan dicuri orang, saat baru saja mengawali profesinya sebagai nelayan.

 

Setelah musibah itu ia kemudian ke Makassar dengan menumpang Bus Damri yang ketika itu ongkosnya hanya Rp 1.500. Ia bertemu dengan Daeng Kanang pada tahun 1985 di Makassar, kemudian menikah di tahun itu juga dan memulai lembaran hidup barunya.

Disenangi banyak warga, becaknya laris manis, Lokasi: Jl. Politeknik Negeri Ujungpandang, Tanggal: 8 April 2010, Fotografer: Fakhri Samadi
Disenangi banyak warga, becaknya laris manis, Lokasi: Jl. Politeknik Negeri Ujungpandang, Tanggal: 8 April 2010, Fotografer: Fakhri Samadi

 

“Tahun 1997, waktu kubantu istriku jualan di Kampus Unhas, saya ketemu sama pegawai di Fakultas Sospol, Pak Rahman namanya”, kenang pria yang murah senyum ini. “Na tanya ka apa adami pekerjaanku, kujawab belumpi ada,” lanjutnya. Dari pertemuan itu, Daeng Jai ditawari pekerjaan sebagai petugas kebersihan di Unhas dan diajak ke rektorat tepatnya di bagian rumah tangga untuk membicarakan dengan staf terkait. Akhirnya ia menerima pekerjaan barunya di kampus merah itu.

Setelah 10 tahun menjadi petugas kebersihan dengan gaji sebesar Rp 460.000/bulan, akhirnya pada tahun 2007 Dg Jai memutuskan untuk berhenti sepenuhnya dari pekerjaannya itu. “Nda mau ki na kasi 40 per hari, pernah juga kuminta 20 per hari dan kerja sampe jam 12 siang tapi nda mau ki juga”, ungkapnya polos ketika kutanyakan alasan mengapa ia berhenti. Memang saat itu selain mendapat penghasilan sebagai petugas kebersihan, ia juga mencari tambahan pendapatan sebagai tukang becak setelah menuntaskan kerjaannya di kampus. Ia merasa pendapatan sebagai tukang becak, lebih memadai untuk menafkai istri dan anaknya yang berjumlah 3 orang. “Nda ada orang yang marah-marahi ki’ kaya’ di kampus, kalo kita punya becak sendiri”, tambahnya bersemangat.
 

Meski brewokan, namun murah senyum, Lokasi: Jl. Politeknik Negeri Ujungpandang, Tanggal: 8 April 2010, Fotografer: Fakhri Samadi
Meski brewokan, namun murah senyum, Lokasi: Jl. Politeknik Negeri Ujungpandang, Tanggal: 8 April 2010, Fotografer: Fakhri Samadi

 


Keputusan untuk berhenti sebagai petugas kebersihan, dilakukan pasca Daeng Jai mengalami musibah; dibacok oleh rekan sesama tukang becak di lokasi biasa ia menunggu penumpang. Menurut keterangan orang-orang di sekitar wilayah tersebut, kejadian itu disebabkan oleh kecemburuan rekan Daeng Jai akan ramainya penumpang yang menggunakan jasa becak Daeng Jai. Peristiwa yang terjadi di bulan Ramadhan tahun 2007 ini, mengakibatkan luka serius pada pipi bawah dan lengan Daeng Jai yang digunakan untuk menangkis parang yang dihantamkan kepadanya. Ia diselamatkan oleh pengguna jalan yang sedang melintas; seorang  mahasiswa Ilmu Komunikasi Unhas. Dengan segera, solidaritas mahasiswa Unhas untuk Daeng Jai seketika berdatangan dan akhirnya mampu memberikan bantuan biaya pengobatan dan perawatan di rumah sakit dr. Wahidin Sudiro Husodo. Akibat peristiwa tersebut, Daeng Jai tidak bisa bertugas sebagai tenaga kebersihan untuk beberapa bulan dan akhirnya ia mundur dari pekerjaan tersebut.
 

Tempat Daeng Rani dan 'rekannya' para tukang ojek mangkal, Lokasi: Jl. Politeknik Negeri Ujungpandang, Tanggal: 8 April 2010, Fotografer: Fakhri Samadi
Tempat Daeng Rani dan 'rekannya' para tukang ojek mangkal, Lokasi: Jl. Politeknik Negeri Ujungpandang, Tanggal: 8 April 2010, Fotografer: Fakhri Samadi

 


Rumah panggung sederhana berbahan dasar kayu dan bambu di kompleks perumahan BTN Antara, kini menjadi tempat bernaung Daeng Jai dan keluarganya. Oleh teman-temanya seperti Hanoi yang berprofesi sebagai tukang ojek, ia dikenal sebagai orang yang ramah dan pandai bergaul. Terang saja jika senyumnya yang khas mampu memberikan kenyamanan bagi penumpang-penumpangnya. Roda becak tua yang ia putar di tiap harinya mampu memberikan penghasilan hingga 100 ribu rupiah jika ia memulainya dari pagi hingga tengah malam. Ketika saya mengikuti aktivitasnya, ia tengah menjemput penumpang langganannya di dalam kompleks kos-kosan, kurang lebih 500 meter dari jalanan utama perintis kemerdekaan km 10.
 

Ini dia Jalan Politeknik; Sisi Selatan Unhas. "Rute setia Daeng Jai", Lokasi: Jl. Politeknik Negeri Ujungpandang, Tanggal: 8 April 2010, Fotografer: Fakhri Samadi
Ini dia Jalan Politeknik; Sisi Selatan Unhas. "Rute setia Daeng Jai", Lokasi: Jl. Politeknik Negeri Ujungpandang, Tanggal: 8 April 2010, Fotografer: Fakhri Samadi

 


Di balik kemegahan tembok kampus yang katanya terbesar di Indonesia Timur itu, tersimpan tidak hanya cerita tentang orang besar yang telah menjadi petinggi di negeri ini, tetapi juga menyisihkan spasi bagi orang kecil seperti Daeng Jai untuk menjalani kerasnya kehidupan di Kota Metropolitan Makassar. Ia lantas pamit ketika wawancara berakhir dan menghilang perlahan di antara dinding pembatas kampus, seiring kayuhan kakinya di atas pedal becak, demi memenuhi panggilan penumpang belianya. [V]



 

No comments

Add your comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly. If you have a Gravatar account associated with the e-mail address you provide, it will be used to display your avatar.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd><img>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Image links with 'rel="lightbox"' in the <a> tag will appear in a Lightbox when clicked on.

More information about formatting options