Kokoh berdiri, barisan tembok di selingi arsiran batang besi memberi tanda bahwa Anda sedang menatap kampus negeri termegah di Kota Makassar: Universitas Hasanuddin (Unhas). Di berbagai sudutnya menawarkan banyak kejutan, mulai dari prestasi tingkat dunia hingga tawuran antar mahasiswa yang tak jarang meminta korban. Namun cerita kali ini bukan tentang mahasiswa, bukan pula tentang dosen yang suka mencari tambahan penghasilan di luar kampus. Cerita kita adalah tentang seorang penyedia jasa angkutan sederhana, yakni becak yang setia mengantar civitas akademika Unhas yang tinggal di sekitar Jalan Politeknik Negeri Ujungpandang, tepat di sisi Selatan Kampus Unhas.

Setelah musibah itu ia kemudian ke Makassar dengan menumpang Bus Damri yang ketika itu ongkosnya hanya Rp 1.500. Ia bertemu dengan Daeng Kanang pada tahun 1985 di Makassar, kemudian menikah di tahun itu juga dan memulai lembaran hidup barunya.

“Tahun 1997, waktu kubantu istriku jualan di Kampus Unhas, saya ketemu sama pegawai di Fakultas Sospol, Pak Rahman namanya”, kenang pria yang murah senyum ini. “Na tanya ka apa adami pekerjaanku, kujawab belumpi ada,” lanjutnya. Dari pertemuan itu, Daeng Jai ditawari pekerjaan sebagai petugas kebersihan di Unhas dan diajak ke rektorat tepatnya di bagian rumah tangga untuk membicarakan dengan staf terkait. Akhirnya ia menerima pekerjaan barunya di kampus merah itu.
Setelah 10 tahun menjadi petugas kebersihan dengan gaji sebesar Rp 460.000/bulan, akhirnya pada tahun 2007 Dg Jai memutuskan untuk berhenti sepenuhnya dari pekerjaannya itu. “Nda mau ki na kasi 40 per hari, pernah juga kuminta 20 per hari dan kerja sampe jam 12 siang tapi nda mau ki juga”, ungkapnya polos ketika kutanyakan alasan mengapa ia berhenti. Memang saat itu selain mendapat penghasilan sebagai petugas kebersihan, ia juga mencari tambahan pendapatan sebagai tukang becak setelah menuntaskan kerjaannya di kampus. Ia merasa pendapatan sebagai tukang becak, lebih memadai untuk menafkai istri dan anaknya yang berjumlah 3 orang. “Nda ada orang yang marah-marahi ki’ kaya’ di kampus, kalo kita punya becak sendiri”, tambahnya bersemangat.

Keputusan untuk berhenti sebagai petugas kebersihan, dilakukan pasca Daeng Jai mengalami musibah; dibacok oleh rekan sesama tukang becak di lokasi biasa ia menunggu penumpang. Menurut keterangan orang-orang di sekitar wilayah tersebut, kejadian itu disebabkan oleh kecemburuan rekan Daeng Jai akan ramainya penumpang yang menggunakan jasa becak Daeng Jai. Peristiwa yang terjadi di bulan Ramadhan tahun 2007 ini, mengakibatkan luka serius pada pipi bawah dan lengan Daeng Jai yang digunakan untuk menangkis parang yang dihantamkan kepadanya. Ia diselamatkan oleh pengguna jalan yang sedang melintas; seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Unhas. Dengan segera, solidaritas mahasiswa Unhas untuk Daeng Jai seketika berdatangan dan akhirnya mampu memberikan bantuan biaya pengobatan dan perawatan di rumah sakit dr. Wahidin Sudiro Husodo. Akibat peristiwa tersebut, Daeng Jai tidak bisa bertugas sebagai tenaga kebersihan untuk beberapa bulan dan akhirnya ia mundur dari pekerjaan tersebut.
Rumah panggung sederhana berbahan dasar kayu dan bambu di kompleks perumahan BTN Antara, kini menjadi tempat bernaung Daeng Jai dan keluarganya. Oleh teman-temanya seperti Hanoi yang berprofesi sebagai tukang ojek, ia dikenal sebagai orang yang ramah dan pandai bergaul. Terang saja jika senyumnya yang khas mampu memberikan kenyamanan bagi penumpang-penumpangnya. Roda becak tua yang ia putar di tiap harinya mampu memberikan penghasilan hingga 100 ribu rupiah jika ia memulainya dari pagi hingga tengah malam. Ketika saya mengikuti aktivitasnya, ia tengah menjemput penumpang langganannya di dalam kompleks kos-kosan, kurang lebih 500 meter dari jalanan utama perintis kemerdekaan km 10.

Di balik kemegahan tembok kampus yang katanya terbesar di Indonesia Timur itu, tersimpan tidak hanya cerita tentang orang besar yang telah menjadi petinggi di negeri ini, tetapi juga menyisihkan spasi bagi orang kecil seperti Daeng Jai untuk menjalani kerasnya kehidupan di Kota Metropolitan Makassar. Ia lantas pamit ketika wawancara berakhir dan menghilang perlahan di antara dinding pembatas kampus, seiring kayuhan kakinya di atas pedal becak, demi memenuhi panggilan penumpang belianya. [V]
Add your comment