Feedback

wajah

Khairil Anas   •  

Daeng Yahya, Sang Pembuat Kunci

Pernah pesan kunci duplikat?
Berbagai alasan memaksa kita untuk membuat kunci duplikat. Seorang boss kantoran misalnya, harus berbagi kunci dengan stafnya, untuk alasan keamanan, atau mungkin juga karena seseorang kehilangan kunci. Di saat harus membuat kunci duplikat, tentu yang dicari adalah tukang buat kunci.

Daeng Yahya
Daeng Yahya
Di Kota Makassar, profesi sebagai tukang buat kunci duplikat banyak dijumpai. Mereka ada di banyak ruas jalan kota. Tinggal pilih ke tukang kunci mana kita memesan kunci duplikat. Tengok saja di perempatan Jalan AP Pettarani - Urip Sumoharjo ke arah jalan Tol Reformasi, tepat di samping showroom mobil Haji Kalla, di situ terpampang papan penanda “Tukang Buat Kunci”. Juga di poros Jalan Perintis Kemerdekaan, Tamalanrea di depan gerbang kampus Unhas, demikian pula di Jalan Alauddin ke arah Kota Sungguminasa, lalu di samping Showroom Haji Kalla Alauddin, atau di sepanjang Jalan Monginsidi, dan masih banyak lagi.

Sebagai seorang wartawan yang juga pengelola rumah kost, seringkali saya harus menggandakan kunci kamar kost yang hilang atau rusak. Maka pilihan saya pun jatuh pada tukang kunci duplikat yang ada di Jalan Urip Sumoharjo, karena jaraknya kebetulan dekat dari rumah, yang belakangan saya kenal bernama Daeng Yahya.

Berusaha Bertahan
Akibat proyek pelebaran jalan di beberapa ruas jalan Kota Makassar, beberapa tukang buat kunci duplikat terpaksa harus tergusur dan pindah, tidak terkecuali Dg.Yahya. Bergelut di bisnis duplikat kunci sejak 8 tahun yang lalu, Daeng Yahya memulai usahanya di depan showroom Marcedes, Jalan Perintis Kemerdekaan  tidak jauh dari pintu satu kampus Unhas, lalu bergeser pindah ke Jalan Urip Sumoharjo, tepat di depan showroom Yamaha. Sejak 5 bulan yang lalu, proyek pelebaran jalan kembali memaksa Daeng Yahya bergeser masuk di sudut pagar halaman Masjid Baiturahman, tidak jauh dari Kantor Gubernur Provinsi Sulawesi-Selatan.

“Tiga tahun saya di Jalan Perintis, tapi karena waktu itu ada pelebaran jalan, saya pindahmi ke sini (Urip sumoharjo). Lima tahun ma’ di sini,” katanya.

Lokasi baru, depan Masjid Baiturahman
Lokasi baru, depan Masjid Baiturahman
Dengan lugas dan tangkas, Daeng Yahya menyelesaikan kunci yang saya pesan. Meskipun masih menggunakan kikir tangan, namun kunci duplikat hasil buatannya cukup rapi dan bagus. Namun tidak jarang pemesan terpaksa harus kembali, agar anak kunci yang baru dipesannya diperbaiki lagi karena ukurannya kurang pas. Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk menyelesaikan satu anak kunci.

Meskipun beberapa teman seprofesinya telah menggunakan peralatan mesin, suami  dari Daeng Tio ini tetap menggunakan alat manual dengan dikikir tangan. Daeng Yahya mengaku belum mampu membeli peralatan mesin listrik  yang harganya mencapai Rp 5 juta, seperti tipe model  100B sebagaimana yang dipakai oleh kebanyakan pembuat kunci duplikat yang lain. Padahal dengan alat tersebut, hanya butuh waktu 5 menit untuk membuat satu kunci duplikat.

“Belum bisaka’  beli alatnya, mahal sekali bela. Tapi ini sudah cukupmi, dulu saya bahkan tidak punya alat penjepit, jadi kalau saya bikin kunci, saya jepit pakai tang.”

Lelaki kelahiran tahun 1959 ini merasa beruntung masih bisa memperoleh uang, meskipun kadang hanya cukup untuk membeli beras untuk hari itu. Selama delapan tahun kikir besi itu telah menjadi tumpuan harapan Daeng Yahya dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Lincah dan cekatan membuat kunci
Lincah dan cekatan membuat kunci
Meskipun kesulitan ekonomi tak jarang membelit, Daeng Yahya mengaku dari penghasilan membuat kunci inilah ia membiayai pendidikan anak-anaknya. Anak pertamanya, Suryanti telah berkeluarga, sementara tiga anak-anaknya yang lain masih sekolah, di antaranya Fitriyani, duduk di bangku kelas 2 SMA, Firdayanti, kelas 1 SMP, dan Putra Tunggal di kelas 4 sekolah dasar.

“Kamma-kammanne (di jaman sekarang ini) tambah mahalki apa-apayya, biaya sekolayya poeng, SD ji na SMP gratis, SMA belumpi gratis,” ungkap Daeng Yahya.

Daeng Yahya dan keluarganya berdomisili di Kompleks Haji Kalla. Lahir di Segeri Pangkep, berjarak sekitar 60 kilometer sebelah utara Makassar. Daeng Yahya memang terlihat sangat lincah dan cekatan dalam membuat kunci duplikat. Dia mengenakan biaya antara 7 ribu sampai 10 ribu rupiah bagi pemesannya, tergantung jenis kuncinya. Tidak jarang pula dia melayani pembuatan kunci duplikat di rumah pelanggannya, bahkan staf dari Kantor Gubernur Sulsel sering meminta bantuan Daeng Yahya, untuk membuat kunci duplikat kantor yang hilang.

“Rata-rata delapan ribuanji,” akunya. “Tapi lumayan kalau ada pelanggan yang panggil ke rumahnya, itu agak tinggi harganya.”

Yang 'tergusur', yang bertahan
Yang 'tergusur', yang bertahan
Sejak pagi Daeng Yahya sudah buka, Sekitar jam 8 dia sudah siap menunggu pelanggannya, dan  pulang ke rumah jam 5 sore. Awalnya dia belajar teknik membuat kunci ini dari beberapa temannya yang berprofesi sebagai pembuat kunci duplikat sekitar tahun 70-an.

“Waktu itu, saya masih anak-anak, masih sekolah di SD. Kelas dua, bapak saya meninggal, jadi tidak bisa lanjutkan sekolah. Saya belajar membuat kunci dari teman-teman.”

Begitulah Daeng Yahya memulai pekerjaannya sebagai pembuat kunci duplikat. Dengan polos, bapak berkulit coklat tua ini mengaku tidak ada pekerjaan lain yang membuatnya tertarik kecuali membuat kunci. Lelaki ini akan terus membuat kunci, meskipun dengan peralatan yang masih sangat sederhana sekali. Bagaimana? Anda butuh kunci duplikat? [V]








 

No comments

Add your comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly. If you have a Gravatar account associated with the e-mail address you provide, it will be used to display your avatar.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd><img>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Image links with 'rel="lightbox"' in the <a> tag will appear in a Lightbox when clicked on.

More information about formatting options