Pagi hari, sebelum mentari benar-benar terbit, Halima (74) telah memulai aktifitasnya. Ibu dari Kamaruddin (27) dan Tiara (15) yang akrab dipanggil Daeng Mila harus buru-buru sampai ke pasar untuk belanja, membeli jagung muda untuk kembali dijual sebagai jagung bakar.

Daeng Halima. Foto: Khairil Anas
Sudah dua puluh tahun lebih, Daeng Mila berjualan Gogos (Makanan khas Makassar: dibuat dari beras ketan hitam, santan, dibungkus daun pisang lalu dipanggang), telur asin, jagung bakar, dan tidak lupa air minum kemasan, di sebuah halte Bus Damri, yang sudah tidak terpakai, tepatnya di bilangan jalan A.P. Pettarani, tidak jauh dari pertigaan Jl. Maccini Raya, Makassar. Daeng Mila memulai aktifitas ‘bisnisnya’, tatkala Magrib tiba hingga larut malam. Setiap harinya Daeng Mila terkadang menghabiskan tiga ikat jagung muda atau 30 puluh biji jagung bakar dan lusinan Gogos.

Bisa ditunggu, langsung dari perapian. Foto Khairil Anas
Kini suasana di sekitar tempatnya menjual telah banyak berubah. Pembangunan yang terus berjalan, nampaknya tidak mempengaruhi Daeng Mila untuk tetap berjualan jagung bakar. Daeng Becak yang dulu menjadi langganannya, telah banyak tergusur dengan alasan demi keindahan kota, penyebab kesemrawutan lalu-lintas. Tinggallah para pejalan kaki, atau sopir angkot yang sesekali mampir untuk mencicipi jagung bakarnya.
Suasananya telah jauh berubah dibandingkan 20 tahun lalu, pelebaran jalan, pembangunan fly over dan ruko-ruko di sekelilingnya, tidak mampu mengusik Daeng Mila untuk tetap bertahan di bekas Halte Damri itu.
Sekarang susah dapat kerja, Pak!
Daeng Mila adalah satu dari sekian banyak warga Kota Makassar, yang bertahan hidup –juga menghidupi keluarganya- dengan mengandalkan kerja keras dari hasil keringat sendiri .

Gogos, air mineral dan telur asin. Foto Khairil Anas
“Sekarang susah dapat kerja, Pak! daripada pergika’ mencuri, lebih baik saya kerja begini, halalki to,” ungkapnya lugu dengan aksen Makassar yang kental.
Semakin membludaknya pendatang ke Makassar, ditambah sulitnya mendapat lapangan pekerjaan, akan melahirkan Daeng Mila-Daeng Mila baru yang setia mengisi sudut-sudut Kota Makassar, demi kelangsungan hidup mereka di kota metropolitan ini. Kehadiran Daeng Mila akan menjadi warna tersendiri bagi Kota Makassar.
[V]
Add your comment