Feedback

wajah

Khairil Anas   •  

Daeng Beta, Si Penebar Berita

Bagi Anda yang sering melintas di Jalan Sultan Alauddin ke arah Sungguminasa –apalagi terhenti di lampu merah dekat taman kecil, pertigaan Jalan A. P. Pettarani- tentu pernah melihat sesosok tubuh kecil, tepatnya pendek, yang mondar-mandir di jalan raya menjajakan koran. Dengan postur tubuh yang tak normal itu, ia justru paling mudah dikenali di antara beberapa rekannya di lokasi tersebut.

Daeng Beta
Daeng Beta
Anda tahu siapa namanya?
Daeng Beta. Namun ia tak segan menoleh jika Anda cukup memanggilnya Beta.

Hidup di Kota Metropolitan sekelas Makassar memang butuh banyak pengorbanan. Saat orang  seharusnya sudah pulang ke rumah untuk istirahat dan terlelap nyenyak di balik hangatnya selimut tebal, sebagian orang justru masih berusaha mengais rejeki di jalan-jalan raya. Daeng Beta salah satunya; sudah harus bekerja sesaat sebelum terbitnya matahari hingga waktu berdetak ke dini hari.

Di bawah rintik hujan, di taman kecil yang seolah menyembul di pertigaan Jalan Sultan Alauddin – Jalan A.P. Pettarani, VERSI menemui si Beta di ‘spasi’ kesibukannya menjajakan koran terbitan lokal maupun nasional. Setiap kali lampu merah menyala, kakinya yang tak panjang bergerak, melangkah cepat ke badan jalan. Bagai tertelan ombak, ia hilang di balik kerumunan kendaraan motor, lalu tiba-tiba muncul di pembatas jalan sambil mengacungkan koran di kaca-kaca mobil; penuh semangat menawarkan koran ke pengguna jalan yang berhenti, menunggu angka digital kembali ke titik 0.



Bagai tertelan ombak, ia hilang di balik kerumunan kendaraan motor, lalu tiba-tiba muncul di pembatas jalan sambil mengacungkan koran di kaca-kaca mobil


Mungil, semungil siswa SMU.
Mungil, semungil siswa SMU.
“Koran, koran! Koran, Pak! Dua ribu..” kemudian jari tangan kanannya ia acungkan, tanda ‘victory’ sebagai bahasa dua ribu, terus ia layangkan, demi membantu mulutnya yang lelah menyebut harga yang sudah ia miringkan dari Rp 3.000 itu.

Sesekali lelaki berkepala besar dengan dahi menonjol ini menepi dan duduk istirahat di bawah bayangan pohon Trembesi yang belum besar,  tatkala lampu hijau lalu lintas menyala dan satu per satu kendaraan melaju. Dingin yang menyelimuti Kota Makassar di pertengahan musim hujan ini membuat tubuh cebolnya tampak semakin mengecil, lucu.

"Saya pulang kalau koran sudah habis. Biasa juga lewat jam 12 malam pi baru saya pulang," katanya santai.

Di antara semua penjual koran di lokasi ramai itu, Daeng Beta termasuk senior. Lelaki lajang warga Bontomanai ini mengaku sudah lama menggeluti pekerjaan sebagai penjual koran. Rekannya yang lain kebanyakan adalah remaja putus sekolah, yang tinggal di sekitar rumahnya.

“Iye’ ba, jai ji (Iya, betul.. banyak)..” Jawabnya, saat VERSI menanyakan hasil jual korannya. “Cukup untuk dimakan sehari-hari. Biasa duapulu ribu, biasa juga tigapulu,” lanjutnya.

Subuh-subuh, Daeng Beta sudah meninggalkan rumahnya di Bontomanai, samping Rutan Gunung Sari Klas I, menuju ke pertigaan Pettarani-Alauddin, menerima beberapa eksampelar koran dari loper untuk kemudian dijual kepada pengguna jalan.

Pekerja keras, tapi pemalu.
Pekerja keras, tapi pemalu.
Tidak seperti dirinya, Daeng Beta memiliki seorang adik yang bertubuh normal, bernama Jaya. Jaya sudah berkeluarga dan tinggal bersama Beta di rumah orang tuanya yang telah lama meninggal. Untuk menyambung hidup, kakak beradik ini mengandalkan kerja sebagai penjaja koran. Daeng Beta sudah pasrah dengan nasibnya, ia mengaku tidak mampu bekerja di usaha lain, selain berjualan koran.

“Mau tonjaki kerja bagus, tapi tidak bisa, Pak,” akunya polos.

Jangan membayangkan Daeng Beta sebagai orang yang tahu semua informasi karena bisa membaca semua koran yang dia jual setiap hari. Jangan pula membandingkan Daeng Beta dengan Basuki Agus Suparno, seorang loper koran yang berhasil meraih gelar doktor di Universitas Indonesia. Profesi boleh sama, umur juga bisa sama, tapi nasib berbeda. Daeng Beta hanya bisa menjual koran tapi tidak pernah membacanya, lantaran tidak pernah sekolah.

Ditinggal mati oleh kedua orangtuanya sejak kecil memaksa Daeng Beta untuk berusaha mandiri, mencari kerja untuk menghidupi dirinya sendiri. Sejak itulah ia harus turun ke jalan menjajakan koran dan tidak pernah sempat untuk bersekolah.

Daeng Beta cuma bisa menebar berita tetapi tidak tahu apa isi berita yang ia tebar hari ini, kemarin dan seterusnya hari. [V]




 

No comments

Add your comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly. If you have a Gravatar account associated with the e-mail address you provide, it will be used to display your avatar.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd><img>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Image links with 'rel="lightbox"' in the <a> tag will appear in a Lightbox when clicked on.

More information about formatting options