Feedback

wajah

Maysir Yulanwar   •  

Cahyo, Si Pemburu Gelap

Saat itu senja sudah tergelincir jatuh. Cahaya matahari pelan-pelan mengalah, mundur seiring datangnya mendung tipis. Seperti biasanya, setiap di pintu Maghrib, Makassar  selalu menawarkan cerita baru, tepatnya kisah, seperti pagi dan waktu-waktu lain.

Memanfaatkan kesempatan, di 'musim' pemadaman bergiliran. Foto M. Yulanwar
Memanfaatkan kesempatan, di 'musim' pemadaman bergiliran. Foto M. Yulanwar

 

Kali ini, kisah tentang Cahyo, seorang pemuda asal Jogja, penjaja lampu teplok di Jalan Sultan Alauddin. Pastinya, masyarakat Makassar tak banyak yang tahu siapa dan bagaimana sosok pria bertampang mirip Sule, komedian yang kini kondang di acara Opera Van Java ini.

Cahyo
Cahyo
Dalam bisnis, kesempatan cuma minta 2 persyaratan: “Kalau ada, cepat manfaatkan”, dan “kalau tidak ada, ciptakan”. Untuk Cahyo, ia belum piawai menciptakan kesempatan, tapi jeli memanfatkan. Tahu Makassar didera pemadaman bergilir, bersama saudara dan beberapa temannya, pemuda 22 tahun ini meninggalkan orangtuanya di Bantul, sebuah kota kecil berjarak 45 menit berkendara motor dari Jogja, dengan misi berdagang lampu teplok di ‘kampungnya’ Jusuf Kalla, Makassar.

Laksana ksatria yang membawa ‘obor perlawanan’, Cahyo masuk ke gelapnya Makassar, September 2009; waktu dimana puncak pemadaman bergilir beraksi. Naluri bisnisnya terbukti, lampu teplok miliknya laris bukan main. Sehari ia dapat menjual 5 hingga 8 dozen (lusin) berbagai ukuran. Harganya? Bervariasi. Terkecil Rp 15 ribu, yang sedang Rp 25 ribu, dan besar Rp 45 ribu. Sebagai ‘pemburu gelap’ Cahyo cukup berhasil menerangi segelintir rumah penduduk Makassar dengan lampu teploknya.

Lalu, saudara dan temannya jualan dimana?

“Teman-teman yang lain jualan teplok di Daya, mas. Kalau yang itu saudara saya, namanya Purwanto,” jawab Cahyo, sambil mengarahkan tangannya ke arah seberang  jalan, tak jauh dari pintu pagar Lembaga Permasyarakatan Gunung Sari.

Jauh dari Bantul, memburu gelap di Makassar. Foto M. Yulanwar
Jauh dari Bantul, memburu gelap di Makassar. Foto M. Yulanwar

 

 

Mengambil lokasi di Jl. Sultan Alauddin. 'Menarik perhatian masyarakat'. Foto M. Yulanwar
Mengambil lokasi di Jl. Sultan Alauddin. 'Menarik perhatian masyarakat'. Foto M. Yulanwar

 

Berjualan mulai pukul 13.00 hingga 23.00 malam, Cahyo dan adiknya memakai jasa pete-pete ke lokasi jualan dan pulang ke tempatnya istrahat di Asrama Haji Sudiang. Di asrama ini, Cahyo bersama rekannya sesama asal Jogja, menghabiskan malam dengan canda dan rindu pendam pada kampung halaman. Tak pernah bermimpi, akan menghirup udara Makassar selama ini.

“Jogja juga ada pemadaman bergilir, mas. Tapi saingan banyak. Makassar, nggak. Paling yang menjadi saingan ya dari teman-teman sendiri,” aku Cahyo dengan logat Jogjanya yang kental.

Berhadapan langsung dengan  Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sari. Foto M. Yulanwar
Berhadapan langsung dengan Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sari. Foto M. Yulanwar
Seiring waktu berjalan, September berganti hingga Desember, hujan pun mulai rutin  datang. Hilangnya kemarau di langit Makassar berakibat pada berkurangnya pemadaman bergilir; kenyataan ini berbanding lurus dengan berkurangnya pula penjualan Cahyo. “Hanya 5 hingga 10 perhari yang laku,” katanya. Selebihnya, lampu teplok yang tersisa, yang dibelinya langsung dari pabrik di Surabaya, tetap diupayakan berganti menjadi uang, untuk ongkos pulang.

“Kalau belum cukup, terpaksa cari bisnis lain, mas. Untuk ongkos pulang,” jawabnya polos.

Kini, di Januari 2010, di derasnya hujan dan angin yang bertiup kencang, Cahyo dan lampu teploknya tak lagi terlihat. Ia telah menjadi sepotong cerita yang disebut kenangan, yang tak banyak orang tahu.  Ia datang memburu gelap, dan saat gelap berangsur pulih, ia menghilang begitu saja. [V]

No comments

Add your comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly. If you have a Gravatar account associated with the e-mail address you provide, it will be used to display your avatar.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd><img>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Image links with 'rel="lightbox"' in the <a> tag will appear in a Lightbox when clicked on.

More information about formatting options