Feedback

wajah

Khairil Anas   •  

Bunga Kangkung untuk Dg. Tasa’

Hari masih pagi ketika orang tua itu meninggalkan kediamannya di jalan Barawaja, pergi memikul barang dagangannya. Jangan membayangkan dagangan berupa pakaian jadi atau sejenisnya. Tetapi beberapa ikat kangkung yang dia peroleh dari kebun milik tetangganya di Pampang.

Daeng Tasa. Foto Khairil Anas
Daeng Tasa. Foto Khairil Anas
Dengan melangkah tertati-tatih, menopang tubuhnya yang sudah bongkok, Daeng Tasa menembus siang di bawah terik matahari. Sesekali mampir duduk istirahat di tepi jalan di depan gedung mewah para wakil rakyat di bilangan Urip Sumoharjo sambil melepas letih.

“Ini ji yang bisa saya kerja, Nak,” ucapnya lirih saat Versi menemuinya di sisi fly over.
 

Sudah sepuluh tahun Dg. Tasa menghidupi isteri dan seorang anak perempuannya dengan berjualan sayur kangkung. Sementara Daeng Tarring, isterinya serta Tia, anak perempuannya yang telah berusia 15 tahun hanya menggantungkan hidup dari hasil penjualan sayur keliling yang dilakukan sendiri oleh Daeng Tasa itu.

“Kalau sudah mi na ikat-ikat isteriku sama anakku, kubawa mi keliling,” kata Dg. Tassa

“Biasa habis, biasa tong banyak sisa,” lanjutnya
 

Sayur kangkung yang dia bawa merupakan titipan tetangganya, yang baru dibayar setelah sayur itu laku terjual


Himpitan ekonomi ini menyebabkan anak semata wayang Dg. Tasa tidak sempat mengenyam pendidikan sedikitpun. Dg. Tasa berkeliling sampai ke wilayah Maccini Raya, dan Magrib baru kemudian kembali ke rumah, terkadang dia memperoleh 10.000 dari hasil penjualan sayurnya, bila beruntung sayur yang dia bawa habis terjual.

“Tattiga puluh ika’ biasa saya bawa, Nak”

Asli banting tulang. Foto Khairil Anas
Asli banting tulang. Foto Khairil Anas
Namun uang yang diperoleh oleh Dg. Tasa kebanyakan dari belas kasihan para warga yang prihatin melihat kondisinya. Seringkali ketika Dg. Tasa melepas lelah di tepi jalan, beberapa pengendara singgah sambil menyodorkan lembaran uang lima ribu atau sepuluh ribu rupiah.

“Biasa ka’ menjual sampai Magrib baru pulang,” katanya.

Sayur kangkung yang dia bawa merupakan titipan tetangganya, yang baru dibayar setelah sayur itu laku terjual.

“Battu ri Galesongka, Nak. Dua puluh tahun ma’ di Makassar,”

Meskipun dia harus menembus terik matahari, Dg. Tasa mengaku tetap menjalankan ibadah puasa.

“Mau mi diapa, iniji bisa dikerja,” katanya dengan mata menatap lelah.

Dg. Tasa memiliki banyak kerabat di daerah Mannuruki-Makassar, tapi dia tidak pernah bertemu dengan mereka. Sebaliknya para kerabatnya juga tidak pernah peduli dengan keberadaan Dg. Tasa.

Tak sedikit yang jatuh kasihan padanya. Foto Khairil Anas
Tak sedikit yang jatuh kasihan padanya. Foto Khairil Anas
Dari penampilannya, terlihat jelas himpitan ekonomi yang membelenggunya, sarung kumal dan baju yang dipakainya sepertinya tidak pernah diganti, dan telah menjadi seragamnya dalam menjalani hari-harinya.

Dg. Tasa keluar meninggalkan rumahnya, bersamaan dengan anak sekolah yang berangkat sekolah.

“Punna lampami anak sikolayya, assulu tomma nakke,” katanya untuk menggambarkan kapan dia keluar meninggalkan rumah. ”Mangaribi pi, nampa motereka ri Balla.” [V]

 

No comments

Add your comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly. If you have a Gravatar account associated with the e-mail address you provide, it will be used to display your avatar.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd><img>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Image links with 'rel="lightbox"' in the <a> tag will appear in a Lightbox when clicked on.

More information about formatting options