KITA (siswa) butuh guru yang akrab menyenangkan yang meyakini bahwa setiap anak dilahirkan dengan watak baik, yang dengan mudah bisa rusak karena lingkungan mereka atau karena pengaruh-pengaruh buruk orang dewasa. Atau, guru yang mengajar dengan hati. Tidak seperti robot yang terpaku pada media, alat dan sumber semata.
Istilah pendidikan (baca: sekolah) gratis kini menjadi magnet yang populis. Istilah ini riuh dikumandangkan saat kampanye dan ditawarkan sebagai salah satu agenda politik utama. Walau jauh sebelum itu, sejumlah deklarasi dan konvensi internasional telah menegaskan pendidikan sebagai hak anak.
Jangan sampai, tudingan Ivan Illich bahwa ada "kurikulum tersembunyi" yang diterapkan di sekolah benar adanya. Dalam "kurikulum tersembunyi" diajarkan, sikap menerima secara pasif lebih disukai ketimbang kritik yang aktif kepada gagasan-gagasan
Bahkan, konstitusi negara mengamanahkan kepada pemerintah wajib membiayai pendidikan dasar, namun semua teks mulia itu hanya tercetak rapi dan berhenti di atas kertas. Sehingga, dalam beberapa dekade kita terjebak dalam praktik komersialisasi pendidikan.
Selama masa itu, sekolah dijadikan sebagai arena untuk memasarkan berbagai produk industri, baik industri manufaktur maupun jasa (Darmaningtyas, 2004). Studi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah di DKI Jakarta oleh Indonesia Corruption Watch (ICW), bahkan menemukan tak kurang dari 46 jenis pungutan terjadi di sekolah (Ade Irawan dkk, 2004).
Akibatnya, sekolah lebih terasa sebagai beban bukan institusi pendidikan yang sejatinya memberdayakan dan membebaskan, tempat di mana harapan masa depan anak-anak kita digantungkan.
Mahalnya biaya pendidikan lantas memunculkan sarkasme "orang miskin dilarang sekolah!" (Eko Prasetyo, 2004). Celakanya, logika kita seolah mengamini bahwa sekolah memang pantas mahal, apalagi bila patokannya kualitas.
Gagasan Visioner
Maka, begitu wacana pendidikan gratis digaungkan, para orang tua menyambutnya antusias meski pada awalnya ada sebagian kalangan yang skeptis dan pesimis. Kini, konsep pendidikan gratis yang diterapkan di Sulawesi Selatan, diakui sebagai program inovatif yang mendatangkan banyak maslahat.
Hal ini hanya dapat terwujud karena kuatnya political will Gubernur Syahrul Yasin Limpo yang tampaknya memandang bahwa pendidikan merupakan kata kunci bagi daerah ini bila hendak maju dan diperhitungkan pada level nasional maupun global.
Pendidikan merupakan investasi yang meneguhkan harga diri dan martabat seseorang. Pendidikan bahkan akan menjadi benteng yang mampu menahan gerusan budaya dan peradaban suatu bangsa. Sedemikian pentingnya pendidikan tercermin pada visi sejumlah pemimpin dunia yang menjadikan isu ini sebagai pusat perhatian mereka.
Nelson Mandela, Presiden Afrika Selatan, mengajak masyarakatnya membangun sekolah-sekolah di lingkungan mereka. Bila perlu, katanya, "Gunakan setiap rumah, setiap pondok dan setiap gubuk menjadi pusat pendidikan anak." Menurut Tony Blair, (mantan) Perdana Menteri Inggris, "Kita tidak dapat membicarakan milenium ketiga atau abad ke-21 tanpa menyentuh dunia pendidikan."
Karena itu, (mantan) Presiden Amerika Serikat, George Walker Bush, pernah populer dengan kampanye "no child left behind" atau "jangan sampai ada anak tertinggal di belakang" dalam mendapatkan hak-haknya atas pendidikan. Itulah mengapa salah satu butir penting Millenium Development Goals menargetkan, pada tahun 2015, setiap anak laki-laki dan perempuan dapat menyelesaikan pendidikan dasarnya.
Jika ditilik secara saksama, program pendidikan gratis sesungguhnya bukan cuma membuka akses yang luas kepada anak tidak mampu untuk dapat mengenyam bangku sekolah tanpa dipungut biaya. Lebih dari itu, program ini secara gradual akan memutus mata rantai kemiskinan, mengembalikan hak-hak anak sekaligus memanusiakan mereka yang selama ini ditindas oleh kuasa modal.
Dengan menghilangkan sejumlah item pembayaran, juga berarti meminimalisasi terjadinya kemungkinan praktik korupsi atas berbagai pungutan di sekolah. Yang tidak kalah penting adalah pendidikan gratis akan ikut mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sulawesi Selatan yang masih berada di bawah rata-rata nasional karena relatif rendahnya angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah.
Padahal, ada hubungan signifikan antara IPM dengan tingkat keamanan suatu daerah (Sularto, ed., 2000). Sehingga, kita patut mengapresiasi atas pencapaian yang diraih Sulawesi Selatan pada puncak peringatan Hari Aksara Internasional, 10 Oktober 2010, di Balikpapan. Berkat keberhasilannya melakukan pemberantasan buta aksara, Gubernur Syahrul Yasin Limpo memperoleh Piagam Anugerah Aksara dari Menteri Pendidikan Nasional.
Out of Box
Harus diakui, pendidikan gratis bisa mengurangi beban orang tua tapi belum membebaskan anak-anak dari beban kurikulum yang padat. Di Indonesia, rata-rata siswa menempuh 1.600 jam per tahun, sedangkan di Amerika dan Jepang siswa menerima pelajaran 1.100 jamper tahun, di China malah hanya 1.200 jam per tahun.
Akibatnya, siswa di Indonesia tidak memiliki waktu yang cukup untuk bermain dan mengembangkan potensi dirinya. Fenomena siswa pingsan atau mengantuk saat ujian nasional (UN) baru-baru ini mestinya menjadi sinyal bagi penyelenggara pendidikan untuk mengoreksi sistem yang ada.
Penulis khawatir, kisah memiriskan yang terjadi di Jepang bakal berulang di sini, jika kita tidak segera melakukan perubahan mendasar atas sistem pendidikan kita. Majalah Time pernah melaporkan, sekitar 50.000 anak di Jepang ternyata menderita "phobia sekolah".
Pada berita itu dikisahkan seorang ibu di pinggiran Tokyo yang membunuh anaknya, lalu membunuh dirinya sendiri, lantaran putus asa melihat anaknya yang mengalami "phobia sekolah" dan tak lagi diharap sukses. Di Jepang, ukuran sukses berarti harus melewati jenjang sekolah dengan bagus sekali. Bila perlu si anak setiap kali harus mengguyur kepalanya untuk menahan kantuk guna menghadapi ulangan besok (Goenawan Mohamad, 1989).
Dalam situasi seperti ini, kita butuh figur pendidik yang bukan sekadar mengantongi sertifikasi guru tapi berkarakter seperti Viru Sahastrabudhhe, dalam film "3 Idiot", yang ortodoks, kolot, antikritik, tak punya belas kasihan dan sama sekali tidak memberikan apresiasi terhadap gagasan-gagasan baru mahasiswanya.
Jangan sampai, tudingan Ivan Illich bahwa ada "kurikulum tersembunyi" yang diterapkan di sekolah benar adanya. Dalam "kurikulum tersembunyi" diajarkan, sikap menerima secara pasif lebih disukai ketimbang kritik yang aktif kepada gagasan-gagasan.
Tapi, kita butuh guru yang akrab menyenangkan seperti Sosaku Kobayashi, yang meyakini bahwa setiap anak dilahirkan dengan watak baik, yang dengan mudah bisa rusak karena lingkungan mereka atau karena pengaruh-pengaruh buruk orang dewasa, seperti dikisahkan Totto-chan (2003). Atau guru yang mengajar dengan hati, yang telah ditunjukkan oleh Ibu Muslimah Hafsari, guru para Laskar Pelangi (Andrea Hirata, 2005).
Para guru mesti berani keluar dari comfort zone mereka yang hanya terpaku pada MAS (media, alat dan sumber) pembelajaran yang terkesan "kuno" dan standar. Coba lihat terobosan yang dilakukan seorang guru sekolah menengah di kawasan miskin, penuh geng serta kejahatan di Amerika Serikat berikut ini.
Begitu lulus kuliah dan ditempatkan di sekolah pertamanya, ia meminta kepada kepala sekolah agar dibolehkan mengubah cat kelasnya, memperbaiki meja murid-muridnya dan membuat kelasnya menjadi cerah dengan menambahkan papan buletin, poster dan gambar-gambar inspiratif.
Ia memajang poster Einstein, lukisan van Gogh dan pose atraktif pebasket Michael Jordan dan Kareem Abdul-Jabar. Sebagai guru sejarah, ia juga memasang foto-foto presiden Amerika Serikat secara kronologis. Ia mengutip kalimat-kalimat positif untuk dituliskan di papan tulis, lalu mendiskusikannya bersama muridnya.
Dalam upaya membuat lebih banyak murid memandang bahwa pendidikan merupakan cara untuk meningkatkan kehidupan mereka, ia menyuruh mereka menulis pernyataan misi, apa yang menjadi tujuan mereka. [V]
Add your comment