Feedback

kolom

M. Ghufran H. Kordi K   •  

Perkembangan Emosional dan Sosial Pekerja Anak

Masalah pekerja anak atau buruh anak (child labour) bukan hanya masalah sosial di Indonesia, namun telah menjadi isu dan agenda global bangsa-bangsa di dunia. Menurut International Labour Organization (ILO) jumlah pekerja anak di dunia mencapai antara 100-200 juta jiwa.  7 persen dari jumlah tersebut tinggal di Amerika Latin, 18 persen di Asia dan 75 persen di Afrika. Di Indonesia, terdapat sekitar 2,5 juta anak bekerja.  Hanya perlu dicatat, kategori pekerja/buruh anak yang dipakai BPS adalah mereka yang berumur 10-14 tahun yang aktif melakukan aktivitas secara ekonomi (Sakernas, 1992; Nachrowi dan Muhidin, 1996). Sudah pasti jumlah pekerja/buruh anak akan lebih besar jika kategorisasi yang dipergunakan lebih luas, yaitu anak-anak yang menghabiskan sebagian waktunya untuk keperluan mencari upah.  Menurut Irwanto, jika kategorisasi terakhir ini digunakan, jumlah pekerja anak di tanah air kira-kira akan mencapai 8 juta anak (Kompas, 23/7/1996). Bahkan, ada yang memperkirakan lebih besar lagi yaitu 10 juta orang (Thijs, 1994). Angka yang berbeda mengenai jumlah pekerja anak itu karena pertimbangan atas batasan dan konsep pekerja anak.

Perkembangan Emosional dan Sosial Pekerja Anak
Perkembangan Emosional dan Sosial Pekerja Anak

 

Anak yang menjadi pekerja akan mengalami hambatan dalam perkembangan kognitif (pemikiran), afektif (sikap dan kepribadian) dan psikomotorik (ketrampilan dan perilaku



Terlepas dari perdebatan tentang istilah, kategorisasi dan jumlah, pekerja anak atau anak yang terlibat dalam dunia kerja adalah masalah, baik itu masalah anak sendiri yang terlibat atau dilibatkan dalam dunia kerja, maupun masalah orang dewasa yang secara sadar atau tidak sadar melibatkan anak dalam dunia kerja.

Beberapa hasil penelitian mengungkapkan bahwa keterlibatan anak-anak dalam dunia kerja, bukan lantaran tradisi, melainkan karena tuntutan dalam keluarga.  Keluarga yang memberikan pekerjaan kepada anak dengan maksud mendidik anak sejak kecil, sangatlah berbeda dengan keluarga yang mempekerjakan anak untuk kebutuhan ekonomi.  Anak yang mendapatkan pekerjaan dari orang tua sebagai media untuk belajar biasanya lebih ringan, seperti menjaga warung/kios, menjaga sawah, membantu ibunya melakukan pekerjaan di rumah seperti mencuci piring, memasak dan lain-lain. Anak yang melakukan pekerjaan yang demikian, biasanya lebih menonjol kegiatan bermain daripada melakukan pekerjaan tersebut.

Sedangkan anak yang dipekerjakan oleh orangtua ataupun bukan orang tuanya, maka yang nampak adalah keseriusan anak dalam melakukan pekerjaan tersebut. Biasanya anak-anak yang bekerja, ketika ingin bermain, maka akan memanfaatkan waktu lowong di saat berangkat ke tempat kerja atau di saat pulang. Namun waktu yang digunakan untuk bermain sangat terbatas, baik karena waktu yang tersedia sangat sedikit/kurang, juga karena anak-anak telah kecapaian setelah bekerja.

Anak-anak yang terlibat atau dilibatkan dalam dunia kerja akan mengalami gangguan perkembangan dan pertumbuhan, baik emosional maupun sosial. Anak yang menjadi pekerja akan mengalami hambatan dalam perkembangan kognitif (pemikiran), afektif (sikap dan kepribadian) dan psikomotorik (ketrampilan dan perilaku).  Hal ini karena di dalam dunia kerja, tidak ada kesempatan anak-anak untuk mengembangkan dirinya. Yang ada adalah satu pekerjaan yang terus-menerus dilakukan oleh anak secara berulang-ulang, tanpa adanya kesempatan bagi anak untuk melakukan inovasi atau memberikan pendapat. Begitu juga hubungan antara anak dan orang dewasa di sekitarnya.  Dimensi hubungan dalam lingkungan pekerjaan anak bertolak belakang dengan dimensi pengasuhan, sebagaimana yang terjadi di dalam keluarga.

Mengacu pada teori pengasuhan (parenting) yang diajukan oleh psikolog, Earl Shaefer (1959), maka dikemukakan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, cinta dan kebebasan, akan tumbuh menjadi anak mandiri, aktif dalam selalu mencoba melakukan hal-hal baru.  Bahkan menurut Kagan dan Moss (1962) akan bersikap bersahabat, toleran dan mempunyai harga diri yang tinggi. Dalam lingkungan pekerjaan anak kemungkinan sangat kecil terdapat dimensi hubungan yang diwarnai oleh dimensi kasih sayang dan memberi kebebasan (otonomi).  Sejalan dengan itu diduga kemungkinan kecil pekerja anak dapat berkembang ke arah pribadi : mandiri aktif, asertif, toleran, bersahabat merasa memiliki harga diri.

Kedua, Anak yang tumbuh dalam kasih sayang berlebihan dan kontrol yang tinggi akan tumbuh menjadi anak yang tidak mandiri, bersifat tergantung, dan mudah menyerah. Dalam lingkungan pekerjaan anak, anak tidak memperoleh kasih sayang, dan sebaliknya mendapat kontrol yang berlebihan, sehingga pekerja anak akan mudah menjadi orang yang menyerah, patuh/taat dan bergantung pada orang lain.

Ketiga, Anak yang tumbuh dalam lingkungan dimana orang tua  sering memusuhi anak dan tidak mengendalikannya, maka akan menumbuhkan sifat-sifat anak diantaranya pemberontak, mudah marah, dan tidak harmonis.  Dalam lingkungan pekerjaan anak dimensi hubungan orang dewasa dan anak diwarnai oleh dimensi memusuhi-otonomi. Menurut psikolog, Rosjidan (1998) bahwa hubungan orang dewasa dan anak dalam lingkungan pekerjaan anak bukanlah hubungan pendidikan atau pembelajaran tapi lebih bersifat hubungan pamrih atau kepentingan, kehadiran pekerja anak dianggap merupakan pesaing bagi pekerja orang dewasa, karena itu dapat dimengerti jika mereka  memusuhi pekerja anak.

Keempat, Anak yang tumbuh dalam lingkungan  dimana orang tua sering memusuhi dan mengendalikan secara berlebihan (kontrol yang berlebihan/ketat), akan cenderung membentuk sifat anak secara sosial menarik diri dan keras kepala. Persahabatan orang tua dan anak ditandai oleh pertengkaran. Sebab tingkat kontrol yang tinggi oleh orang tua, anak-anak tidak mampu mengekspresikan permusuhan mereka keluar, dan mungkin mempunyai kecenderungan membalikkan agresi ke dalam, ke dalam diri mereka sendiri.

Dalam lingkungan pekerjaan anak, dimensi hubungan  orang dewasa dan anak banyak diwarnai oleh memusuhi dan kontrol yang berlebihan. Pekerja dewasa merasa tersaingi dengan kehadiran pekerja anak, sebagai akibatnya, pekerja dewasa memusuhi anak-anak dan sekaligus agar tidak merugikan kepentingan pekerja dewasa maka mengontrol tingkah-laku pekerja anak. Dampak dari sikap memusuhi dan kontrol pekerja dewasa dapat menimbulkan sikap pekerja anak: menarik diri, keras kepala, agresif (tidak mampu mengekspresikan keluar, diarahkan ke dalam).

Uraian di atas memberikan gambaran secara jelas bahwa, lingkungan pekerja anak bukanlah lingkungan pendidikan atau pembelajaran. Dengan begitu tidaklah mustahil bila kondisi, pengalaman dan kesempatan yang dialami oleh pekerja anak tidak mendukung bahkan malah menghambat perkembangan emosional dan sosial pekerja anak. Mungkin pekerja anak terpenuhi sebagian kebutuhan materil dari lingkungan pekerjaan, tetapi anak-anak harus mengorbankan kesempatan dalam mengembangkan kognitif (pemikiran), afektif (sikap dan kepribadian) dan psikomotorik (ketrampilan dan perilaku).  Dalam artian perkembangan emosial dan sosial anak di lingkungan kerja tidak berlangsung secara wajar, karena orang dewasa di sekitarnya tidak memberi kerangka penopang (scaffolding) yang mengarahkan dan memupuk perkembangan anak secara bertahap. [V]
 

1 comment

dunia blog dunia persahabatan tanpa batas's picture
dunia blog dunia persahabatan tanpa batas wrote 24 weeks 6 days ago

dunia blog dunia persahabatan

dunia blog dunia persahabatan tanpa batas, bukan hanya di dunia nyata saja kita bisa menjalin sebuah persahabatan, namun lewat ngeblog kita juga bisa berleluasa untuk tetap bisa menbangun tali persaudaraan dan persahabatan yang tanpa batas..

Add your comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly. If you have a Gravatar account associated with the e-mail address you provide, it will be used to display your avatar.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd><img>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Image links with 'rel="lightbox"' in the <a> tag will appear in a Lightbox when clicked on.

More information about formatting options