Feedback

kolom

Rusdin Tompo   •  

Pariwisata Butuh Positive News

Pariwisata Butuh Positive News

“Turisme tidak akan berakhir. Orang akan pergi berlibur selama dunia masih ada”.

Kata-kata ini meluncur dari mulut Nick Ferrari, seorang penyiar radio, mengomentari pesatnya kemajuan pariwisata Dubai, sebuah kota yang terletak di sepanjang pantai selatan Teluk Persia di Jazirah Arab. Dubai merupakan satu dari tujuh emirat dan kota terpadat di Uni Emirat Arab (UEA) yang telah berdiri selama 150 tahun sebelum terbentuknya negara monarki konstitusional itu. Menurut nationalgeographic.com setidaknya terdapat 11 lokasi wisata yang paling banyak dikunjungi, seperti Bastakiya Quarter, yang dipenuhi fasilitas umum, seperti menara angin, galeri seni, kafe, museum dan hotel butik, serta Burj Al Arab (Menara Arab)  dengan ketinggian mencapai 321 meter.

Raihan keberhasilan yang dicapai Dubai tak lepas dari sokongan jaringan media cetak, radio, televisi dan media elektronik lainnya. Dubai bahkan disebut-sebut sebagai pusat media untuk kawasan Timur Tengah dan merupakan rumah bagi banyak televisi dan saluran radio. Ada lebih dari 40 stasiun radio FM dan AM yang mengudara dalam bahasa Arab dan Inggris, di samping bahasa Hindi, Urdu, Malayalam dan Filipina. Untuk TV, terdapat sejumlah saluran televisi terestrial juga saluran regional yang ditawarkan melalui satelit atau kabel. Berbagai perusahaan berita internasional beroperasi di sini, antara lain, Reuters, APTN, Bloomberg dan MBC.
 

Media penyiaran dituntut mengembangkan liputan-liputan yang mengedepankan positive news, dengan mengubah paradigma dari “bad news is a good news” menjadi “good news is the best news


Multiplier Effect
Peran media memang sangat diperlukan dalam mengangkat dan mempromosikan industri pariwisata. Dalam jangka panjang, promosi pariwisata memiliki dua dimensi sekaligus, yakni untuk networking dan product knowledge. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pariwisata senantiasa membutuhkan promosi yang efektif dengan strategi komunikasi yang tepat. Media penyiaran sudah seharusnya membuat program-program kreatif dan inovatif untuk memperkenalkan daerah-daerah yang potensial sebagai destinasi wisata. Kreatifitas dan inovasi mestinya tidaklah menjadi kendala bagi praktisi media penyiaran mengingat beragamnya industri pariwisata yang bisa dijadikan sumber ide. Media penyiaran dapat membuat program-program menarik dari wisata kuliner, wisata belanja, wisata budaya, wisata sejarah, wisata religi, wisata bahari, serta jenis wisata eksotis dan atraktif lainnya. Untuk satu jenis wisata saja, bisa dihasilkan berbagai genre program yang layak tonton, yang sudah barang tentu juga memiliki tingkat keterjualan menjanjikan. Artinya, dari sisi program, siaran-siaran yang menyuguhkan berbagai aspek kepariwisataan ini dapat dikatakan layak tayang, sementara secara bisnis juga potensial mendatangkan iklan.

Hanya saja, media penyiaran dituntut mengembangkan liputan-liputan yang mengedepankan positive news, dengan mengubah paradigma dari “bad news is a good news” menjadi “good news is the best news”. Harus diakui, industri pariwisata sangat membutuhkan sokongan media yang dapat memperkuat citra positif suatu daerah atau negara. Karena, kunci keberhasilan industri pariwisata terkait dengan keramahan, kenyamanan, keamanan, ketersediaan dukungan fasilitas, kekuatan jaringan, dan sinergitas berbagai pemangku kepentingan. Di luar pemerintah terdapat sejumlah pemain yang terkait dengan industri pariwisata, seperti ASITA, IATA, INACA, GIPI, PATA, PUTRI, PHRI, dan AMPUH. Bahkan, di Sulsel, terdapat sejumlah wartawan dengan fokus liputan pariwisata, yang mengorganisasikan dirinya dalam Lingkar Penulis Pariwisata (LPP). Banyaknya organisasi yang bergerak di industri pariwisata, mengindikasikan bahwa bidang ini mengandung potensi yang teramat menjanjikan.

Industri pariwisata merupakan industri jasa, industri kreatif dengan multiplier effect. Sebut misalnya, wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) yang banyak berkembang di negara maju, juga menggerakkan roda industri pada bidang lain. Paling tidak, terdapat keuntungan yang bisa dipetik oleh berbagai pihak dengan penyelenggaraan event MICE. Seperti professional exhibition organizer (PEO), professional conference organizer (PCO), stan kontraktor, freight forwarder, supplier, florist, event organizer (EO), hall owner, tenaga kerja musiman, percetakan, transportasi, biro perjalanan wisata (BPW), agen perjalanan wisata (APW), hotel dan penginapan, restoran dan katering, perusahaan souvenir atau industri kerajinan, serta penggiat usaha kecil menengah (UKM) lainnya.

Tampak bahwa manfaat ekonomisnya berpengaruh terhadap bidang-bidang lain, mulai dari peningkatan lapangan usaha dan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, peningkatan pendapatan asli daerah (PAD), kelestarian budaya lokal dan lingkungan, serta persahabatan antardaerah bahkan antarbangsa. Selain itu, kegiatan pariwisata juga akan berdampak pada peningkatan wawasan kebangsaan dan rasa cinta tanah air. Di samping, tentu saja, akan membuat kita senantiasa pandai bersyukur akan karunia Tuhan yang telah menghamparkan bumi sedemikian luas, indah, dan kaya bagi kehidupan kita sebagai manusia.
 
Program Sehat
Dimensi pariwisata dengan potensi yang sedemikian besar dan luas inilah yang coba dirangsang dan dijembatani oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Daerah Sulawesi Selatan. Melalui penyelenggaraan KPID Award VI, tahun 2011 ini, ajang apresiasi bagi program dan insan penyiaran tersebut mengusung tema “Kemilau Pariwisata Sulawesi Selatan”. Tema ini diangkat untuk mendorong lembaga penyiaran agar secara proaktif ikut berkontribusi mendukung program pemerintah sebagai agenda publik. Apalagi, begitu banyak manfaat yang bisa dipetik dari penyelenggaraan event pariwisata. Media penyiaran, sejatinya memainkan tanggung jawab sosialnya dalam menyukseskan sejumlah agenda besar terkait pariwisata di daerah ini. Misalnya, program “Visit Makassar and Beyond 2011-2014” yang sudah dilaunching awal tahun ini dan program “Visit South Sulawesi 2012” yang mulai digelar tahun depan.

Spirit KPID Award hendak melakukan koreksi konstruktif dari dalam supaya media penyiaran lebih mengedepankan siaran-siaran yang sehat. Secara sederhana, siaran yang sehat itu adalah siaran-siaran yang inspiratif, mencerahkan dengan ide-ide dan gagasan-gagasan baru. Siaran-siaran yang memotivasi dan mendorong penontonnya melakukan hal-hal positif. Siaran yang sehat juga mengajarkan tentang nilai-nilai kebaikan dan memberi pembelajaran tentang praktik-praktik cerdas yang bisa direplikasi. Siaran yang sehat ini ramah terhadap anak, sehingga dapat ditonton secara bersama-sama oleh semua anggota keluarga. Jika itu berkaitan dengan pariwisata, sudah barang tentu menyangkut model-model pengembangan pariwisata yang bisa ditiru dan diaplikasikan oleh sebanyak mungkin orang atau komunitas.

Pada aspek ini, media penyiaran seharusnya terpanggil untuk ikut menggerakkan masyarakat agar mengembangkan pariwisata, dengan tidak mengabaikan fungsi kontrolnya demi meminimalisasi dampak dan bias dari kemajuan industri pariwisata. Merupakan fakta yang tidak terbantahkan bahwa pariwisata beririsan dengan isu prostitusi, perdagangan manusia, praktik paedofilia, pekerja anak, dan masuknya nilai-nilai baru yang tidak selalu sejalan dengan budaya dan kearifan lokal. Jika semua liputan dan program di media penyiaran dibuat secara visioner, niscaya harapan untuk mengembangkan konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan akan menemukan bentuk konkritnya. Tentu, positive news, yang merupakan bagian dari program edukatif ini dibuat bukan sekadar mengejar target untuk mendapatkan penghargaan atau keluar sebagai pemenang. Lebih dari itu, ia mendorong partisipasi masyarakat dan semua pihak agar sama-sama bertanggung jawab dalam menjaga keberlangsungan pemanfaatan budaya dan alam secara berkelanjutan. [V]

No comments

Add your comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly. If you have a Gravatar account associated with the e-mail address you provide, it will be used to display your avatar.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd><img>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Image links with 'rel="lightbox"' in the <a> tag will appear in a Lightbox when clicked on.

More information about formatting options