Ketika kita menyebut atau mendengar kata “perang” mengapa justru kekacauan, ketidakamanan, kehancuran, kebinasaan dan lain sebagainya yang berkonotasi negatif dan destruktif yang terlintas cepat dari pikiran kita(?) Tak pernahkah kita berpikir sejenak, seandainya manusia tidak pernah berperang mungkinkah terjadi peradaban seperti sekarang?
Saling bunuh dan menghancurkan mau tidak mau adalah salah satu sifat manusia. Dari zaman batu sampai zaman hightech seperti sekarang, sikap permusuhan yang akhirnya memunculkan perang, baik yang dimulai dari antar keluarga, kampung, kelompok, golongan, ras, agama, hingga antar negara telah menghiasi sejarah manusia itu sendiri. Ibarat rumah bisa jadi perang adalah tiangnya.
Perang selalu dipandang sebagai malapetaka yang harus dihindari. Begitu banyak organisasi perdamaian dibuat oleh manusia, mulai dari skala lokal, nasional, regional sampai transnasional atau yang lazim disebut internasional, guna mengurangi konflik yang bisa terjadi. Begitu banyak seminar dan pendidikan yang dibuat untuk memberikan pengetahuan kepada manusia guna menghindari perang. Tapi betulkah perang yang selama ini terjadi sama sekali tidak memiliki aspek keuntungan buat umat manusia?
Perlu dicermati bahwa sebagian besar kemajuan industri dan kenyamanan hidup yang manusia bisa rasakan sekarang tidak akan pernah terwujud andai para bapak moyang kita dulu rukun dan akur-akur saja. Sejarah tertua manusia diawali oleh pertumpahan darah yang dilakukan putra Adam terhadap saudaranya sendiri. Selanjutnya, seiring masa berjalan, sejarah terus mencatat dengan tinta emas terbaiknya atas ‘membiaknya’ peradaban dan jutaan maha karya yang tertanam di dalamnya. Tinta emas yang bercampur amis darah peperangan. Terus berlangsung hingga apa yang disebut Perang Dunia, I, II (termasuk perang dingin). Tak terpikirkah kita, seandainya umat manusia tidak melewati masa Perang Dunia I, II, sangat mungkin manusia tidak akan pernah mengenal ratusan penemuan mutakhir sekelas pesawat jet, ponsel hingga internet yang menguasai era sekarang.
Ada beberapa keuntungan yang bisa didapatkan dari perang, seperti dibangunnya industri massal yang didukung oleh banyak sekali tenaga manusia, tanpa diupah, sehingga biaya produksi dapat ditekan seminimal mungkin dengan pencapaian hasil yang paling maksimal. Ketika kondisi perang terjadi, maka seluruh kekuatan sebuah negara diarahkan hanya untuk mensukseskan kampanye perang. Para pekerja dan ahli dari berbagai lapisan sosial, bekerja bahu membahu siang-malam, meski tanpa upah tetapi berusaha mendapatkan hasil yang maksimal, jauh lebih maksimal ketika mereka bekerja di luar kondisi darurat perang dengan upah yang tinggi sekalipun. Negara berupaya mendapatkan terobosan-terobosan baru dalam dunia teknologi guna memenangkan perang.
Hitler dalam Perang Dunia II banyak menciptakan teknologi baru yang pada akhirnya setelah perang sangat berguna bagi kehidupan umat manusia secara umum. Hitler-lah yang pertama mengembangkan kapal selam, pesawat jet yang sejatinya dipergunakan sebagai pesawat serbu tempur, pada akhirnya kini sangat berguna di dunia transportasi udara. Hitler pulalah yang pertama-tama menciptakan banyak bendungan raksasa yang menghasilkan listrik berjuta-juta megawatt untuk menjalankan pabrik-pabrik industrinya; menciptakan peluru, kendaraan tempur untuk keperluan perang Nazi.
Roket-roket jarak jauh seperti rudal juga dikembangkan Hitler di masa kampanye perangnya selama Perang Dunia II, lagi-lagi setelah perang usai teknologi inilah yang dikembangkan untuk mulai membawa umat manusia ke peradaban yang lebih maju setelah pesawat terbang bisa menembus atmosfer bumi dengan bantuan dorongan roket. Begitu pula dengan perkembangan nuklir. Amerika memang tercatat dalam sejarah sebagai negara pertama di muka bumi yang memanfaatkan teknologi nuklir sekalipun untuk tujuan menghancurkan, tetapi Hitler pernah lebih maju dalam teknologi ini seandainya saja para ilmuwannya tidak menyeberang ke pihak sekutu dalam Perang Dunia II. Bila itu terjadi bisa jadi yang kita saksikan sebagai kota pertama di muka bumi yang merasakan keganasan bom nuklir bukan Hirosima melainkan London atau Washinton
Banyak pihak yang melihat hadirnya bom nuklir sebagai ancaman paling serius di muka bumi ini, tetapi bila dilihat dari sudut pandang yang lain maka tidak terjadinya Perang Dunia III justru karena para pihak yang berseteru saat ini masing-masing memiliki kekuatan nuklir. Mereka tahu, ketika perang nuklir terjadi maka yang timbul adalah kekalahan masing-masing pihak karena kehancuran akan merata, menyapu seluruh muka bumi.
Sekarang kita bisa bayangkan seandainya perang tidak pernah terjadi maka umat manusia membutuhkan waktu berapa lama untuk menemukan teknologi seperti yang disebutkan di atas. Dengan adanya perang maka penemuan-penemuan teknologi tersebut menjadi lebih cepat dan lebih efisien. Perdamaian secara global pun tak akan terwujud seandainya perang tidak pernah terjadi karena tidak ada satupun peradaban dalam sejarah umat manusia ini yang tidak dibangun dengan airmata dan darah.
Perang tentu bukan selamanya menjadi jalan keluar dari suatu permasalahan, tetapi perang tidak harus selamanya dihindari. Bosnia Herzegovina tidak akan merasakan kedamaian seperti sekarang ini jika saja NATO tidak memborbardir Serbia yang akhirnya memaksa Serbia meninggalkan Bosnia. Dalam kasus ini perang menjadi sebuah contoh nyata bagaimana ia bisa menjadi satu-satunya jalan menuju perdamaian. [V]
Add your comment