Lebih dari 40-an tahun televisi kita dijejali film animasi impor berkarakter bule dari segi ragam tema cerita, tokoh-tokoh yang dihadirkan, dan lanskap sosial budaya yang menjadi latar film tersebut dibuat. Dominasi film animasi barat itu belakangan tergeser oleh produk-produk animasi asal negeri sakura, Jepang. Paling tidak, hal ini terlihat dari daftar film kartun televisi favorit anak dan remaja Indonesia 2009, yang dilansir media online Koran Anak Indonesia, Januari tahun ini. Berturut-turut film yang digemari anak-anak kita itu adalah Naruto, Avatar, Ben 10, One Piece, Bleach, Sponges Bob, Transformer Animated, Doraemon, Digimon, Dragon Ball, Tom Jerry, Scooby Doo, Crayon Sinchan, Astro Boy, dan The Simpsons. Sayangnya, sebagian di antara film-film kartun, yang merupakan bagian dari film animasi, ini dinilai memberi contoh buruk yang tidak patut ditiru anak-anak.
Kini, sejak Agustus 2009 di stasiun TPI, muncul alternatif tontonan animasi berwajah melayu asal negeri jiran yang tidak kalah fenomenal, yakni “Upin & Ipin”. Fenomena film ini terlihat pada ragam replika kedua tokoh itu dalam berbagai pernak-pernik merchandise yang dijual dipasaran, diversifikasi produknya dalam bentuk VCD/DVD, bahkan telah dibuat dalam versi layar lebar. Demi memanfaatkan popularitas film itu, beberapa jargon yang sering dilontarkan “Upin & Ipin”, seperti “betul, betul, betul” atau “assalamu ‘alaikum…Atok, ooo Atok”, kini menjadi RBT (ring back tone) yang terdengar renyah dari HP anak-anak maupun orang dewasa.
Film “Upin & Ipin” diproduksi oleh Les’ Copaque bekerjasama dengan Pemerintah Kerajaan Malaysia dan mulai ditayangkan TV9 negeri itu, tahun 2007. Jika ditilik dari aspek cerita, tokoh, dan penggambaran sosial budaya, film ini jelas terasa memiliki kedekatan dengan kita. Simak misalnya, pengalaman “Upin & Ipin” serta teman-temannya menjalani ibadah puasa Ramadan, atau nama tokoh-tokoh dalam cerita itu, rumah panggung lengkap dengan interior yang dihadirkan, serta pemandangan alamnya yang mirip kampung-kampung di Indonesia. Tapi, bukan itu semata yang menjadi kekuatan film ini, melainkan pada kemasan cerita yang mudah dipahami, kandungan pesan moral yang sarat, dan tentu saja sikap dan perilaku para pemerannya yang polos, lugu, penuh rasa ingin tahu, lengkap dengan kenakalan khas anak-anak yang natural, serta tak jarang muncul kejenakaan yang mengundang tawa segar penontonnya.
Pendidikan Budi Pekerti
Film “Upin & Ipin” berkisah tentang kehidupan anak-anak Kampung Durian Runtuh, Malaysia. Sesuai dengan judulnya, tokoh sentral film ini ada pada si kembar “Upin & Ipin”, yang digambarkan berusia sekitar 5 tahun. Meski kembar, penonton bisa membedakan keduanya lewat warna baju yang dikenakan dan huruf yang tercetak di depan baju masing-masing. Baju Upin bertuliskan huruf “U” sedangkan Ipin huruf “I”. Keduanya juga bisa dibedakan karena Upin mempunyai sehelai kuncir yang lucu, sebaliknya Ipin berkepala plontos. Kedua anak ini diasuh neneknya (Opah) dan kakak perempuan semata wayang bernama Kak Ros. Sang nenek merupakan orang yang berhati lembut, bijak, dan suka bercanda. Sementara si sulung yang dipanggil Kak Ros itu berupaya membimbing adik-adiknya dengan cara membatasi atau melarang keduanya agar tidak salah arah. Meski kerap dimarahi, tapi “Upin & Ipin” tak kurang akal. Tak jarang keduanya justru membalas sikap kakaknya itu dengan lontaran kata-kata menggoda, seperti ungkapan, “Cantiknyaaa, Kak Ros”, begitupun sebaliknya.
Dari dinamika kehidupan “Upin & Ipin” di rumah serta hubungan keduanya dengan teman-teman mereka, seperti Jarjit, Mail, Ehsan, Fizi, Rajoo, dan Mei-Mei, selama di sekolah maupun sebagai kawan sepermainan di kampung, pesan-pesan moral itu mengalir. Sejumlah peneliti mengakui bahwa film yang juga ditayangkan di Hilal TV, Turki, ini dapat menjadi rujukan pendidikan budi pekerti dan contoh tayangan bernilai islami. Meski begitu, “Upin & Ipin” tidak berlebihan mengemas pesan-pesan moralnya menjadi dogma yang membebani dan terasa berat dipahami terutama terhadap anak-anak sebagai khalayak penontonnya.
Habib, Indrayanti, dan Waldopo (2009) menjelaskan pendidikan budi pekerti sering diartikan dengan pendidikan akhlak. Budi pekerti dan akhlak merupakan dua istilah yang memiliki kesamaan essensi, walaupun akhlak memliki cakupan yang lebih luas. Di dalam akhlak terkandung nilai-nilai budi pekerti, baik yang bersumber dari ajaran agama maupun dari kebudayaan manusia. Budi pekerti mencakup pengertian watak, sikap, sifat, moral yang tercermin dalam tingkah laku baik dan buruk yang terukur oleh norma-norma sopan santun, tata krama dan adat istiadat. Sedangkan akhlak diukur dengan menggunakan norma-norma agama (Departemen Agama, 2000).
Mungkin tidak berlebihan jika kita sandingkan pesan-pesan moral dalam film “Upin & Ipin” dengan 56 butir sifat terpuji yang perlu ditanamkan pada diri anak, sebagaimana dikemukakan Edi Sedyawati (1995). Sifat-sifaf tersebut adalah bekerja keras, berani memikul risiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berfikir matang, berfikir jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersifat konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah-tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tepat janji, terbuka dan ulet.
Film “Upin & Ipin” bahkan dianggap memberi inspirasi dan kontribusi bagi pengembangan pendidikan fikih. Berdasarkan hasil penelitian Siti Fatimatu Zahro, mahasiswi Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, tahun 2009, disimpulkan bahwa materi pendidikan fikih dalam film “Upin & Ipin”, antara lain, shalat (shalat tarawih dan kewajiban shalat), puasa (pengertian puasa, kewajiban berpuasa, tidak berlebihan dalam berbuka puasa, puasa dengan ikhlas, larangan wanita haid berpuasa, hilal dan lailatul qodar), dan zakat (penyerahan zakat, kewajiban membayar zakat dan penerima zakat). Materi agama ini menjadi ringan karena kaya metode, mulai dari metode tanya jawab, ceramah, pemberian tugas, pemberian reward (hadiah), pemberian hukuman, uswah hasanah (keteladanan), pembiasaan, nasihat (mauidzah), hingga metode targhib dan tarhib (bujukan dan ancaman). Menurutnya, kontribusi film ini dalam pembelajaran fikih, di samping materi dan metode yang digunakan dapat dijadikan pertimbangan bagi para orangtua maupun pendidik dalam menyampaikan materi fikih, juga bahasa yang digunakan dalam film tersebut dapat dijadikan sebagai acuan/contoh dalam mendidik anak, sehingga mencapai hasil yang diinginkan, yaitu tertanamnya nilai-nilai pendidikan agama Islam dengan baik dan benar.
Pendidikan Multikulturalisme
Pesan lain yang cukup menonjol dari film “Upin & Ipin”, yakni penggambaran realitas kehidupan multikultural Malaysia kepada anak-anak di sana serta penonton di manca negara. Ini penting, mengingat negara tetangga itu tak steril dari tudingan isu diskriminatif pada kelompok-kelompok tertentu. Walau tidak terucapkan, namun dari ciri-ciri fisik dan nama mereka, mudah ditebak bahwa kehadiran Mei-Mei mewakili etnis China, Jarjit dan Rajoo mewakili komunitas India, dan Susanti, yang anak Jakarta itu, merupakan representasi para pendatang asal Indonesia. Tak sedikitpun tergambarkan secara visual maupun verbal jejak-jejak prasangka dan stereotip terhadap tokoh-tokoh tersebut. Misalnya, tidak pernah “Upin & Ipin” atau teman-temannya memanggil Susanti dengan sebutan “Indon”, yang menurut orang Indonesia sebagai bentuk pelecehan dan sikap merendahkan kita. Sebaliknya, Susanti malah suatu ketika diberi gratis saat berbelanja dengan menggunakan mata uang rupiah.
Ditilik dari peristilahannya, multikulturalisme merupakan sebuah pandangan yang melihat dunia manusia sebagai mozaik budaya. Ada yang membedakan multikulturalisme dengan pluralisme. Dikatakan bahwa pluralisme menitikberatkan keragaman dunia manusia pada tingkat individu, sedangkan multikulturalisme menekankan keragaman dunia manusia pada tingkat puak, kaum, dan golongan (Hae dkk, 2000). Apapun definisinya, peran media penyiaran dalam mewacanakan pendidikan multikulturalisme penting dilakukan, terutama bagi kita di Indonesia yang masyarakatnya terdiri dari kurang lebih 300 suku bangsa (kelompok etnis) dan sekira 250 bahasa (dialek). Bagi Teun A. Van Dijk (Kartika dan Mahendra, ed., 1999) wacana media merupakan sumber utama pengetahuan, perilaku dan ideologi baik bagi kelompok elit maupun warga negara biasa. Pembangunan wacana multikulturalisme bagi anak-anak menjadi strategis mengingat kita pernah dihantam konflik horizontal yang terjadi di Ambon, Poso, Sambas dan Mamasa.
Secara sederhana, stasiun-stasiun TV kita bisa memulainya dengan memberi akses dan ruang bagi munculnya sebanyak mungkin orang dari latar belakang beragam agar tidak terjadi dominasi budaya tertentu di layar kaca. Perlu juga diingatkan bahwa pelibatan anak-anak dalam setiap produksi hendaknya tidak menjejali mereka dengan watak orang dewasa yang penuh dengki, dendam, cemburu, syakwasangka dan penuh intrik dan konflik kepentingan. Buatlah kisah-kisah yang lekat dengan dunia anak, dalam rangka pembentukan karakter mereka agar kelak mampu belajar saling menerima, berbagi, dan mendukung. Jangan racuni anak-anak dengan cerita tentang kehidupan glamour, penuh mimpi kosong dan mengada-ada. “Betul, betul, betul.” [V]
Add your comment