Makassar semakin bersolek dengan reklame bando yang menghias langit di keramaian jalan-jalan utamanya. Maksudnya untuk mempercantik diri (agar terlihat modern dan ‘sibuk’), tapi apa jadinya, wajah Makassar semakin moreng; lebih mirip badut yang sama sekali tidak lucu. Alasan klise demi mencapai target PAD memang sering didengungkan, tapi apa iya demi target semua cara diaminkan? Sekadar informasi, pencapaian target di sektor reklame tak pernah dicapai secara menggembirakan. Banyak kebocoran? Mungkin saja. Alasannya sih, banyak reklame liar. Kenapa bisa liar? Nah itu dia! Kenapa bisa?
Seperti lokasi di bawah ini (Jalan Pasar Ikan), ada dua reklamae bando berdiri dengan jarak yang tidak jauh. ‘Hebatnya’ media reklame ini relatif kosong, tapi daripada kosong diisi (saja) dengan iklan milik Nasional Demokrat, organisasi non partai yang diketuai Ilham Arief Sirajudin untuk wilayah Sulawesi Selatan. Apakah ini liar alias tidak bayar? Entahlah! Tapi kalau melihat kekayaan yang dimiliki ketuanya, Surya Paloh, tidak mungkin liar. Tapi Ilham Arief Sirajuddin kan wali kota (di) Makassar? Memangnya kenapa kalau ia wali kota? Bisa ndak bayar, begitu?
Masih di (sekitar) lokasi yang sama, Jalan Penghibur, sebuah reklame bando kembali dapat ditemui. Dan lagi-lagi diisi oleh iklan ‘Nasdem’ yang kali ini bergambar Ketua Umumnya. Makassar semakin mirip badut saja…
Lokasi : Jl. Penghibur dan Jl. Pasar Ikan
Tanggal : 21 Mei 2010
Naskah : M. Yulanwar
Add your comment