Lokasi : Taman Harimau
Tanggal : 5 Agustus 2010
Pembunuh terbaik bagi perut lapar masih dipegang oleh nyenyak tidur, meski memulai ke sana tidaklah gampang. Syukurnya, untuk bisa nyenyak tidak perlu kasur empuk, dan ruangan dingin beraroma appel.
Dua tumpuk kartu di sisi tidurku, sengaja kubiarkan bertindihan dengan mimpi-mimpiku yang muram –tentang hidup yang kalah dan permintaan dimengerti atas nama hidup. Kutaruh tubuh lelahku di pucuk tangga ini agar kudapati diriku menunggang Harimau, mimpi terliar yang mampu kukisahkan; berkeliling di kota malam, yang setiap kali menghilang di balik bayangan bulan, masyarakat yang takut, berhamburan dari sembunyinya lalu menyalakan lilin, menaruh perbekalan di sepanjang jalan yang kulalui.
“Akulah jelmaan puteri Bunduca dari suku Iceni yang menebas ratusan kepala kekaisaran Romawi,” pekikku… dan gemetarlah malam sebagaimana riak air di kolam yang tenang.
Masih…
Pembunuh terbaik bagi perut lapar masih dipegang oleh nyenyak tidur, meski memulai ke sana tidaklah gampang. Puteri Bunduca pastinya merasakan perut yang sama denganku… sebagaimana laparnya setiap pemberontakan.
Add your comment