Apakah pembangunan sama seperti cinta, tidak mengenal logika? Mungkin saja. Tapi kota apa yang pembangunannya tidak mengenal logika? Jawabnya, pembangunan yang dilakukan di Makassar.
Banyak jalan di kota ini yang perlu diperbaiki; berlubang bagai kubangan kerbau di saat musim hujan, dan berdebu saat kemarau memanggang kota. Ironinya, tak sedikit jalan yang bernasib naas ini sudah berlangsung belasan hingga puluhan tahun tak kunjung diperbaiki. Sementara ‘hebatnya’, jalan baik nan mulus justru dilapisi dengan aspal hotmix yang padat, gemuk.
Pemborosan? Sudah jelas, jika dilihat dari perspektif kebutuhan masyarakat akan jalan-jalan mulus. Mereka membayar pajak kendaraan dan pajak-pajak lainnya. Tapi bagaimana dengan perspektif oknum penguasa di balik proyek hotmix jalan mulus ini? Ini bukan pemborosan. Ini justru penghematan.
Penghematan? Bagaimana ceritanya?
Ilustrasinya seperti ini. Ada sejumlah dana perbaikan jalan. Biasanya sisa anggaran yang harus ‘dihabiskan’. Agar anggaran itu tidak menguap begitu saja –dan ada alasan untuk mengantonginya secara legal- dicarikanlah pekerjaan. Singkat cerita, di-hotmix-lah jalan-jalan yang sudah mulus. Kenapa bukan jalan-jalan yang rusak? Simple. Karena jalan yang rusak memakan ongkos yang besar dan waktu yang lama. Ini bukan soal ketidakcukupan dana, tapi agar tak banyak dana yang terpakai –sisanya bisa masuk ke kantong, tentunya dengan jumlah yang banyak tanpa bekerja lebih keras.
Begitu ceritanya, hasil bisik-bisik dari orang dalam juga. Asyikkan!
Ini baru masalah jalan. Masih banyak masalah pembangunan lainnya yang sama sekali jauh dari kelogisan berpikir manusia waras. Makassar dibangun tanpa logika, itu sudah biasa. Selanjutnya, seperti apa kota ini jadinya, ikuti saja terus perkembangan kota yang semakin semrawut ini.
Lokasi : Jl.Veteran Selatan (mulus) – Jl. Paccerakkang (berlubang)
Naskah : M. Yulanwar
Add your comment