Feedback

galeri

  •  

Asi Kuning

Lokasi: Jl. Tamalate I – Makassar
Lokasi: Jl. Tamalate I – Makassar

 

 

Terkelupas. Ini tentang cat yang bermutu kurang bagus: terkelupas. Berkolaborasi dengan cuaca, cat tak bermutu itu merontokkan huruf-hurufnya –nyaris- dengan cara memilih. Hasilnya? Belum menarik memang. Tunggu saja, tulisan itu akan berubah menjadi “ASI KUNING CAMPUR ASI LU, EH SUSU. Tentu saja dengan bantuan tangan usil manusia. 

Lokasi        : Jl. Tamalate I – Makassar
Tanggal    : 19 Maret 2009


Catatan:
Industri cat adalah salah satu industri tertua di dunia. Sekitar 20.000 tahun lalu, manusia yang hidup di gua-gua menggunakan cat untuk kegiatan komunikasi, dekorasi dan proteksi. Mereka menggunakan metrial-material yang tersedia di alam seperti arang (karbon), darah, susu, dan sadapan dari tanaman-tanaman yang memiliki warna yang menarik. Yang mengejutkan, cat-cat ini mempunyai keawetan yang baik, seperti yang ditunjukkan pada lukisan gua di Altamira Spanyol, Lascaux Spanyol, cat batu orang Aborigin di Arnhem Land Australia, dan lukisan-lukisan prasejarah lainnya yang ditemukan.

Orang-orang Mesir kuno mengembangkan cat menjadi lebih kaya warna. Mereka menemukan cat warna biru, merah, dan hitam dengan mengambilnya dari akar tanaman tertentu atau campuran alam lainnya. Mereka juga menemukan kasein sebagai perekatnya. Seiring dengan waktu, manusia mulai menemukan minyak tanaman dan resin dari fosil untuk mengganti darah dan susu sebagai perekat cat. Saat ini walaupun telah ditemukan perekat/resin yang semakin baik dengan berkembangnya teknologi kimia, resin-resin natural hingga kini masih banyak dipakai.

Pada umumnya pigmen yang dipakai adalah natural, seperti garam, tembaga, dan vermilion (merah terang). Untuk menghasilkan biru, orang Mesir membakar pasir, soda dan tembaga. Warna hitam dibuat dari tulang dan sisa pembakaran sampah. Raja Mesir Fir’aun sangat menyukai dengan sepuhan emas, yang pada masa itu lebih banyak digunakan dan melambangkan kekayaan.

Lalu orang cina, Jepang dan Amerika mengembangkan pigmen dan bahan perekat, Minyak rami mentah diantaranya. Selanjutnya muncul natural pigment, minyak sayuran, resin dari pohon dsb. Masa itu orang yang pandai mengecat mendapat julukan seniman. Mereka menyiapkan cat sendiri dari pigmen-pigmen dan bahan perekat. Satu hal yang wajar masa itu bila seniman mengecat dengan tangan dan memperindah seluruh permukaan tembok dalam rumah.

Cat minyak muncul pada abad 15, pada awalnya Leo Battista Alberta menggunakan cat minyak yang kental dan dapat diencerkan dengan turpentine. Ini lalu digunakan luas diseluruh Eropa. Mereka telah menemukan tipe cat yang revolusioner. Pada saat itu di jajahan Amerika Serikat cat menjadi simbol kemewahan. Hanya warga kaya yang berhak mencat rumah mereka. Dari para senimanlah titik awal revolusi cat meluas, dimana dari pengalaman mereka ragam warna dikembangkan.

Warna pertama yang digiling muncul di Eropa selama abad ke 17. Pada abad 19, industri cat dan pernis bukan lagi bersifat seni. Industri cat sudah menjadi bagian dari industri kimia. Dengan kemajuan tersebut pabrik cat sudah dapat membuat cat yang siap pakai. [V] Dari berbagai sumber
 

Fotografer: 
M. Yulanwar
Contact Info: 
Makassar

No comments

Add your comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly. If you have a Gravatar account associated with the e-mail address you provide, it will be used to display your avatar.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd><img>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Image links with 'rel="lightbox"' in the <a> tag will appear in a Lightbox when clicked on.

More information about formatting options