Nak, kakimu yang telanjang selalu saja pantas menapaki jalan-jalan kotamu ini tanpa kau perlu menunduk apalagi membungkuk. Beban karung di pundakmu adalah ceria yang kau kumpul; berbanggalah, ceria dan ceritamu tak senilai dengan gambar dan nama di baliho itu, yang mungkin sulit kau cerna, kau eja.
Kau tak perlu menoleh. Teruslah berjalan. Baliho hanya bentangan plastik berisi kata, gambar dan nama yang juga plastik. Baliho adalah percakapan tentang kelemahan yang disembunyikan dalam pesan. Melintas di depannya, kau mempertegas kelemahan mereka menjadi kegagalan, anakku. Kau adalah pesan sesungguhnya yang gagu diucapkan di tengah metro kepalsuan.
Nak, tinggalkan baliho itu.
Narasi M. Yulanwar
Add your comment