Merapatnya PKS dalam mengusung SBY sebagai Presiden, menunjukkan kecerdasan PKS. Ini akan menguntungkan umat Islam jika dilihat dari berbagai sisi ketika kita berada di dalam struktur pemerintahan. Dengan keberadaan itu, pemerintahan akan lebih mudah diwarnaI, ketika wakil-wakil kita berhasil duduk dalam kabinet dibanding kalau di luar. “Saya melihat dan yakin, bahwa PKS dalam langkah-langkah politiknya ini akan lebih menguntungkan umat Islam sekaligus umat Islam menaruh harapan besar dan tidak akan meninggalkan PKS. Karena PKS adalah refresentatif dari umat Islam”, ujar Ariady Arsal, SP anggota Komisi C dari Fraksi PKS kepada wartawan VERSI Patta Bone.
Menjadi anggota dewan , inikah cita-cita Anda yang sebenarnya?
Sebenarnya, saya tidak pernah bercita-cita menjadi anggota dewan. Kebetulan saja saya diamanahkan partai untuk mencalonkan diri lalu rakyat memberi kepercayaan ini. Jalur yang saya tempuh selama ini tidak masuk jalur politik praktis seperti itu. Tetapi karena diberi amanah oleh partai untuk mengurus PKS sekaligus menjadi anggota dewan sambil belajar lebih banyak untuk menimba pengalaman dalam mengelola dan membangun daerah, bangsa, dan negara secara bersama-sama. Amanah itu pun saya emban sampai hari ini.
Bagaimana pandangan Anda dengan politik dan kekuasaan?
Politik adalah salah satu cara untuk melakukan sebuah perubahan di dalam sebuah negara. Tetapi bukan berarti semua bisa selesai dengan politik. Pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan bisa dibangun melalui berbagai pendekatan legalitas yang sistemik dan kepemimpinan yang berakar melalui pendekatan yang merakyat. Dan itu harus dimulai dari jalur politik, apakah itu di legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Saat ini, kekuasaan pun sebagai amanah harus melalui jalur politik. Terjadinya sebuah perubahan dalam kepemimpinan dan kepemerintahan dimana kekuasaan sebagai amanah itu harus di-back-up kekuatan politik. Dengan fungsi-fungsi dewan dan wewenang birokrat, keduanya akan bersinergi meraih kekuasaan sebagai pengabdian dalam arti pemihakan kepada kesejahteraan rakyat.
Saat ini banyak bupati yang terjerumus, karena unit-unit kerjanya belum memiliki kelima hal di atas dalam arti SDM belum siap maju, bersaing, dan unggul serta memenangkan kepentingan rakyat
Bisa Anda bedakan antara politisi tempo dulu dengan politisi era sekarang ini?
Pada prinsipnya hampir sama, kalau dilihat dari alurnya untuk jadi seorang politisi. Cuma yang membedakan adalah kondisi masing-masing serta tantangan yang dihadapi saat itu. Seperti kondisi dan situasi pra kemerdekaan, pasca kemerdekaan, orde lama, orde baru, sampai kini zaman reformasi. Jadi, subtansinya hampir sama, begitu.
Beberapa pejabat publik di Sulsel, secara transparan, telah melaporkan kekayaan pribadinya kepada KPK. Bagaimana pendapat Anda?
Itu sangat bagus. Bagi pejabat publik, kekayaannya memang harus transparan. Baik sebelum menjabat maupun sesudah menjabat. Ini artinya untuk memelihara stigma positif dan jauh dari negatif. Kalau terjadi perubahan drastis kekayaan pejabat publik, justru itu yang patut dipertanyakan. Seakan-akan hartanya ini bertumpuk-tumpuk, tetapi sumbernya tidak diketahui. Nah, di sinilah pentingnya transparansi ini bagi pejabat publik.
Apakah ini efektif menekan aktivitas korupsi para pejabat?
Soal efektifitasnya itu, bagi saya relatif, karena dipengaruhi banyak faktor. Dengan transparansi ini, kekayaan para pejabat dapat diketahui rakyat. Kalau soal korupsi, harus dilihat dari berbagai sisi. Bagaimana sistem, aturan, dan sanksi serta kepribadian orang yang berada di dalamnya. Kalau semua ini baik, maka tingkat korupsi bisa ditekan. Pertanyaannya apakah semua ini dapat berjalan baik? Buktinya sampai saat ini, banyak kasus seperti itu terjadi, bukan?
Bagaimana dengan anggota dewan? Apakah Anda bersedia melaporkan kekayaan Anda secara transparan?
Insya Allah, saya bersedia. Di internal PKS sendiri, ada hal yang seperti itu yang dilakukan oleh Dewan Syariah. Karena itu, bukan hanya dipertanggungjawabkan kepada manusia melainkan juga kepada Allah SWT. Kemudian secara partai, itu ada aturan-aturan yang membatasi, siapa tahu ada sumber-sumber yang tidak jelas. Termasuk pula yang syubhat, sudah jelas tidak memungkinkan hal itu.
SDA di Sulsel, khususnya pertambangan, justru ditawarkan kepada corporate asing, INCO misalnya, tidak dikelola oleh BUMN atau BUMD. Apakah ini suatu faktor ketidakmampuan atau semacam tekanan liberalisasi dunia yang dikomandoi negara-negara maju yang imperialistik?
Begini, ya. Contoh INCO sebagai misal, ya. Kita harus melihat jauh ke belakang dari kontrak karya itu, kurang lebih 20 tahunan lebih yang lalu. Di awal kontrak itu, Sulsel belum memiliki SDM yang profesional dan handal untuk itu, apalagi dukungan teknologi canggih untuk mengelola sebuah pertambangan. Termasuk dukungan dana yang besar, kita masih terbatas. Secara makro, demikian pula dengan Indonesia, saat itu. Jadi, saya pikir, Sulsel yang memiliki SDA memang cukup menggembirakan, termasuk pertambangan itu. Namun, berguru kepada pengalaman INCO ini, perjanjian kontrak karya itu perlu mengikuti perkembangan tuntutan, dievaluasi yang disesuaikan dengan pendapatan perusahaan, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan di antara yang terkait di dalamnya.
Namun, di sisi lain, investor juga tidak bisa masuk kalau dibebani berbagai macam regulasi dan high cost siluman yang sifatnya menjerat dan merugikan investor. Namun yang perlu terus diingat adalah SDA ini harus bermanfaat kepada kesejahteraan rakyat banyak. Artinya bagi hasil dan royaltinya itu mencerminkan keadilan yang saling menghidupi. Bukan menjadikan masyarakat penonton yang tinggal di sekelilingnya. Tetapi bagaimana memberdayakan masyarakat sekitar, sehingga mereka dapat menikmati kekayaan alam daerahnya tanpa istilah dimarginalkan, baik secara politik maupun ekonomi.
APBD provinsi, kabupaten, dan kota didominasi oleh pajak kendaraan. Padahal tidak sedikit daerah yang kaya akan potensi SDA, khususnya pertambangan maupun yang lainnya. Jika dikelola dengan baik, akan mampu mendongkrak PAD sampai berlipat ganda. Kendalanya menurut Anda?
Seperti yang saya katakan tadi, kita perlu terus membangun keseriusan seperti yang ditanyakan itu. SDA kita belum terkelola secara maksimal dan profesional, terutama pertambangan, kelautan, pertanian dan perkebunan. Padahal dari sinilah kita menjadi lumbung pangan nasional bahkan ekspor. Intinya, kita tidak boleh berhenti menggenjot ini sebagi upaya kita untuk mendongkrak PAD itu untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Dulu, saat pertama kali muncul PKS dieluk-elukkan oleh umat. Kini, dengan merapatnya Ketua Umum dalam struktur pemerintahan KIB II, fenomena itu sedikit berkurang. Komentar Anda?
Kalau saya melihat dan mendalami, justru sebaliknya yang terjadi. Bahkan hal ini menunjukkan kecerdasan PKS. Dan dilihat dari berbagai sisi, ketika PKS berada di dalam pemerintahan, justru sangat menguntungkan umat Islam. Artinya, dukungan umat Islam kepada PKS akan tetap mengalir. Umat Islam tidak akan meninggalkan PKS. Karena kader PKS ada di kementerian sosial, pertanian, dan bahkan di kementerian komunikasi dan informasi. Saya yakin, pengaruh PKS ke depan akan semakin besar dalam pemerintahan dan pembangunan maupun kemasyarakatan. Dan PKS tetap konsisten dengan perjuangan umat Islam, sekecil apa pun itu. Dengan posisi ini, maka kerawanan gazwul fikri dapat diantisipasi lebih dini. Sehingga kita tidak lagi menjadi korban gazwul fikri ini. Dan inilah yang harus diapresiasi umat, bagaimana kita dalam struktur membangun umat ini lebih maju dari hari kemarin.
Terciptanya tokoh dunia, nasional, dan lokal (lokal genius) misalnya, karena mereka mampu mengembangkan kapasitasnya dan merawat citra dan ketokohan serta konsisten pada perjuangan mengabdi kepada rakyat. Apakah Anda melihat potensi ketokohan ini ada pada Anda?
Amin. Saya berharap seperti itu. Didoakan, yaa! Mudah-mudahan demikian.
Lalu peran apa yang telah Anda lakukan dan terus diperjuangkan untuk masyarakat di posisi Anda sekarang sebagai wakil rakyat?
Sebagai anggota dewan, tentu fungsi dan peranan itu harus dilaksanakan. Karena itu tanggung jawab kami di sini sangat besar. Apakah itu fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan. Dan saya khusus di Komisi C, seperti pembahasan bidang keuangan daerah, perpajakan, retribusi, perbankan, badan usaha milik daerah dan persahaan patungan serta penanaman modal. Ini merupakan tugas kami yang sangat banyak menyita waktu, tenaga, dan pikiran maupun lainnya. Dan semua ini kami perjuangkan untuk rakyat. Sekadar diketahui bahwa jauh sebelum saya di dewan, fungsi dan peran ini saya telah laksanakan melalui banyak organisasi, partai, dan perusahaan. Ketika saya di dewan secara formal, saya tidak terkejut lagi, bukan?
Anda masih sangat muda, energik, cerdas, peduli dan mudah bergaul. Ini adalah ciri pemimpin masa depan. Kalau Anda misalnya menjadi pejabat publik semisal bupati di Dapil Anda, program kerja apa yang Anda prioritaskan?
Ini pertanyaan misal ya, jadi saya jawabnya dengan misal juga. Saya lahir di Selayar yang saat ini mau suksesi Pilbub. Saya belum menyatakan untuk siap bertarung di sana, bukan karena kemampuan atau kapasitas pribadi. PKS di sana belum memiliki kursi di dewan. Kalau saya misalnya jadi bupati, saya harus di back up birokrasi yang kuat, bermoral, profesional, dan bersih dari modus operandi KKN. Saat ini banyak bupati yang terjerumus, karena unit-unit kerjanya belum memiliki kelima hal di atas dalam arti SDM belum siap maju, bersaing, dan unggul serta memenangkan kepentingan rakyat.
Selanjutnya pemberdayaan SDA, seperti perkebunan, pertanian, kelautan, harus terus digenjot. Sejak dari dulu, Selayar terkenal dengan kopranya, jeruk manis, dan kini cengkeh dan vanili serta keripik malinjo. Semua ini bisa menjadi sektor primadona dengan catatan peremajaan , terutama kelapa ini maupun lainnya. Kemudian terakhir, membuka komunikasi, transportasi, informasi, dan perhubungan untuk membuka akses atau jaringan dengan daerah lain sesuai dengan subtansi otonomi daerah dan tuntutan masyarakat.
Apakah kader PKS belum saatnya memimpin Selayar?
Minimal, belum pada saat ini. Kita berdoa saja semoga ke depan harapan ini bisa menjadi kenyataan. Tetapi yang jelas, ke depan, PKS sudah dan harus siap untuk itu.
Dalam keluarga Anda di rumah, Anda menerapkan kepemimpinan yang bagaimana?
Saya dengan isteri di rumah sepakat bahwa ushwah dan qudwah utama adalah Nabi Muhammad Rasulullah SAW dalam membina keluarga. Pembagian tugas itu dilakukan dengan baik, termasuk pembinaan anak-anak sebagai tanggungmjawab orang tua secara Islami. Contoh kecil, misalnya pengaruh media TV dalam perkembangan jiwa anak. Tetapi hal ini tidak bisa juga dihambat agar tidak punya TV. Nah, inilah yang diatur. Jam nontonnya jam berapa. Kalau usai maghrib, TV tidak boleh dihidupkan sampai jam 21.00, karena saat itu harus mengaji dulu sampai Isya. Habis Isya anak-anak harus belajar sampai jam 21.00, lalu tidur. Jadi sholat, mengaji, dan belajar merupakan upaya pembinaan disiplin dan kejiwaan anak dalam menumbuhkan akhlak Islami yang harus mendapat perhatian orang tua. Begitu.
Sebagai pencinta buku, Anda tentu diperhadapkan oleh banyak buku politik dan agama. Bagaimana Anda mengawinkan dua bacaan itu dalam kehidupan keseharian Anda?
Saya punya konsep dan target bacaan terhadap buku-buku yang harus dibaca. Nah, ini yang diatur. Kalau dilihat dari sisi waktu, memang butuh strategi khusus untuk dapat membaca. Ada waktu-waktu dalam perjalanan, misalnya, dalam perjalanan keluar Makassar yang sangat banyak waktu bisa dipakai untuk membaca. Yang penting kita selalu menyiapkan buku, baik di atas kendaraan, di dalam tas, atau mungkin selalu kita pegang sehingga setiap ada waktu dan kesempatan membaca. Ini kewajiban. Termasuk pula dalam perjalanan ke kantor atau dari kantor ke rumah.
Buku-buku yang selalu saya siapkan itu, bukan hanya buku politik dan agama saja, tetapi juga buku sosial kemasyarakatan. Bahkan saya juga cukup senang dengan buku-buku tokoh dunia, sejarah dunia, bagaimana orang-orang besar ini membangun peradaban bangsa dan negaranya serta kemanusiaan secara universal. Seperti yang saya pahami, dalam sejarah umat Islam, memiliki ensiklopedi Al Qur’an dan As Sunnah. Di sana menggambarkan bagaimana sejarah kaum Aad dan Tsamud di zaman dulu, tentang masa kejayaannya dan kehancurannya. Begitu juga dengan Raja Fir’aun dan Jenderal Haman yang kekuatan tentaranya bagai pasak-pasak yang berbaris, di samping pengakuannya sebagai tuhan, namun pada akhirnya ia menemukan juga kematian.
Jadi pada akhirnya, saya kondisikan dan kombinasikan dengan waktu yang ada. Namun yang jelas, waktu kita sangat dibatasi, hanya 24 jam perhari. Tapi tetap, membaca buku bagi saya adalah suatu kewajiban, terutama membaca Al Qur’an dan Al Hadits untuk menyelami hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya sebagai petunjuk kehidupan umat manusia. (V)
Add your comment