Di sela-sela bentrokan antara dua kubu, sebagian warga kota Ambon menyerbu pangkalan minyak tanah di Pantai Losari-Ambon. Warga berbondong-bondong membeli minyak tanah untuk persediaan kebutuhan, mengantisipasi bila bentrokan berlangsung lama.

Untuk mendapatkan minyak tanah, sejumlah warga Kota Ambon harus berjalan hingga dua kilometer. Harga minyak tanahpun melonjak tinggi, biasanya lima liter hanya Rp 17.500, harganya naik mencapai Rp 25 ribu per jerigen dengan ukuran lima liter.
Kami pemuka-pemuka agama menyerukan agar konflik di Ambon segera diakhiri karena masyarakat Ambon sudah jenuh dan tidak mau diprovokasi
Semua pangkalan minyak tanah di kota Ambon serentak dikerumuni para pembeli. Pangkalan minyak tanah di kawasan Belakang Kota, Ambon, antrean panjang para pembeli menyemut sampai ke jalan. Jerigen para pembeli dimasukkan dalam seutas tali agar tidak berebutan.
Di lain tempat di kota Ambon, Tokoh masyarakat lintas agama menyerukan perdamaian dan penyelesaian konflik sesegera mungkin. Bahkan para tokoh meminta pemerintah pusat segera mewujudkan persetujuan Malino II sebagai jalan satu-satunya untuk menciptakan perdamaian yang abadi di Ambon.
"Kami pemuka-pemuka agama menyerukan agar konflik di Ambon segera diakhiri karena masyarakat Ambon sudah jenuh dan tidak mau diprovokasi," demikian kutipan dari pokok-pokok pikiran seruan damai para tokoh lintas agama di Kota Ambon.
Percepatan keamanan di kota Ambon, selain karena kesadaran warga, juga dipengaruhi oleh langkah aparat keamanan yang bertindak secara profesional serta bersikap netral dalam mengatasi kerusuhan di Ambon. Warga Kota Ambon merasa bersyukur aparat tidak terjebak pada kepentingan-kepentingan sempit yang merugikan perdamaian.
"Kami tokoh-tokoh agama akan terus-menerus bersama masyarakat Ambon untuk mengupayakan perdamaian yang sejati yang didasari semangat untuk menciptakan semangat persaudaraan sejati," demikian inti dari seruan tersebut.
Nampaknya tokoh-tokoh agama dan pemuka masyarakat kota Ambon telah berkomitmen mempertahankan kesepakatan bersama di Malino sebagai solusi terbaik bagi masa depan Ambon.
Konflik berbau agama seperti yang pernah pecah di Maluku pada tahun 1999-2000 cukup menyisakan pelajaran berharga bagi kedua pihak yang bertikai untuk tidak lagi mengulangi kebrutalan yang hanya melahirkan kesengsaraan. Semoga keluarga korban kekerasan serta mereka yang menderita luka-luka diteguhkan imannya dan diberi hidayah-Nya agar tetap sabar. semoga Ambon tetap manise untuk semua warganya, baik yang Muslim maupun yang Kristen, baik yang pribumi maupun kaum pendatang. [V]
Add your comment