Akhirnya, terucap lagi kata maaf dari saya untukmu. Duduk manis yang sering kulakukan di tanggulmu, sudah lama tak kuhayati; percakapan kita tentang camar yang kehilangan tiang sampan, masih saya ingat. Atau tentang matahari pulang yang tak lagi merona di pipimu.
Saya menulis ini dalam keadaan sakit, tapi tidak sesakit dirimu. Meski di antara kita telah mendinding keterasingan, tapi lukamu masih kurasa, selalu saja basah. Saya tahu, nyanyi kecilku tak lagi dapat menghiburmu; masa depan nasibmu yang sering kutakjujuri, cerita terbaikku, adalah sisa kemampuanku dalam mencari senyummu. Dan itulah kau, kau tetap saja membuatkanku senyum demi menyelesaikan cerita itu. Kau bahkan tertawa, tertawa keras, menampakkan girang di depanku, padahal kau sadar kebiasaanmu itu saya tahu …caramu menangis selalu begitu. Tapi apa dayaku? Saya cuma bisa memandangmu dan menahan sakitmu di tubuhku. Susahnya, kita kini berada di antara orang tak jujur yang berlagak jujur, dan orang jujur yang mulai belajar tak jujur.
Ada kalimat yang kusuka, yang hendak kubisikkan padamu: “Jika kita mencintai sesuatu, setiap kali bagiannya sirna, kau akan kehilangan sebagian dari dirimu.” Ini yang menjadi alasan mengapa saya tak lagi pernah duduk di tanggulmu. Sebab setiap kali kumelihatmu, setiap itu pula saya kehilangan sebagian diriku. []
My Notes:
Revitalisasi yang dilakukan di pantai ini menjadi proyek pencitraan wali kota semata. Entah apa yang ada di kepalanya (dan konsultannya), yang lebih memprioritaskan pembangunan anjungan daripada menyelamatkan pantai dari pencemaran. Kini, proyek yang dibangun sejak 2004 (dan dijanjikan selesai 2007) itu hingga kini belum juga rampung. Sementara keberadaannya sudah menampar kewarasan kita sebagai masyarakat yang beragama; panggung musik di anjungan menggedor jantung penonton yang ramai berdesakan dengan raungan suara kerasnya; sangat mengganggu saudara kita yang terbaring lemah di Rumah Sakit Stella Maris.
Anjungan hanya artificial belaka, yang tumbuh bagai tumor di punggung Losari. Ramalan sementara saya, di keterbengkalaian anjungan (karena tidak mampu diselesaikan oleh Ilham, sementara wali kota selanjutnya tidak mau melanjutkannya), Pantai Losari pun telah berubah menjadi rawa-rawa dengan air yang bertoxin tinggi. Untuk kemudian, secara perlahan dan pasti, akan semakin mendangkal dan akhirnya menyatu dengan daratan.
Pantai Losari tinggal kenangan.
Halo, aga kareba? :)senang
Halo, aga kareba? :)senang bisa mengunjungi page ini. boleh saya gunakan salah satu foto pantai ta' untuk feature losari? coutesy foto nanti atas namata' di credit title. :)
Kepada Saudara Aditya Ahmad,
Kepada Saudara Aditya Ahmad, senang rasanya telah merespon baik halaman ini. Perihal keinginan saudara untuk memakai salah satu foto kami di halaman ini, kami persilakan. Semoga bermanfaat.
Add your comment