Feedback

artikel

Maysir Yulanwar   •     •  

Surat Hati untuk Pantai Losari

Akhirnya, terucap lagi kata maaf dari saya untukmu. Duduk manis yang sering kulakukan di tanggulmu, sudah lama tak kuhayati; percakapan kita tentang camar yang kehilangan tiang sampan, masih saya ingat. Atau tentang matahari pulang yang tak lagi merona di pipimu.

Sudah lama tak kuhayati.(Ariane Mays)
Sudah lama tak kuhayati.(Ariane Mays)

 

Saya menulis ini dalam keadaan sakit, tapi tidak sesakit dirimu. Meski di antara kita telah mendinding keterasingan, tapi lukamu masih kurasa, selalu saja basah. Saya tahu, nyanyi kecilku tak lagi dapat menghiburmu; masa depan nasibmu yang sering kutakjujuri, cerita terbaikku, adalah sisa kemampuanku dalam mencari senyummu. Dan itulah kau, kau tetap saja membuatkanku senyum demi menyelesaikan cerita itu. Kau bahkan tertawa, tertawa keras, menampakkan girang di depanku, padahal kau sadar kebiasaanmu itu saya tahu …caramu menangis selalu begitu. Tapi apa dayaku? Saya cuma bisa memandangmu dan menahan sakitmu di tubuhku. Susahnya, kita kini berada di antara orang tak jujur yang berlagak jujur, dan orang jujur yang mulai belajar tak jujur.

Ada kalimat yang kusuka, yang hendak kubisikkan padamu: “Jika kita mencintai sesuatu, setiap kali bagiannya sirna, kau akan kehilangan sebagian dari dirimu.” Ini yang menjadi alasan mengapa saya tak lagi pernah duduk di tanggulmu. Sebab setiap kali kumelihatmu, setiap itu pula saya kehilangan sebagian diriku. []

My Notes:

Di antara kita telah mendinding keterasingan. (Harianto Sirajuddin)
Di antara kita telah mendinding keterasingan. (Harianto Sirajuddin)
Usia enam bulan saya sudah dipelihara dan tumbuh di tepi pantai bernama Losari. Saya menyebutnya tepi, sebab berjalan dari rumah ke bibir pantai hanya makan puluhan detik. Sementara di usia nakal saya, 7-8 tahun, saya suka berlari menuju pantai, dan itu sangat cepat. Masa kecil yang indah, kenangku.

Di pantai berbatu putih itu, saya sering membiarkan kaki kecilku dijilati ombak siang dan menghirup udara bercampur garam di tanggulnya yang panjang. Saya suka disebut anak pantai. Saya bahkan menganggapnya sebagai pujian. Umur 8 tahun dengan kulit coklat gelap sudah sangat laki-laki bagiku. Pantai Losari kusahabati dengan hati polosku. Paru-paru dan darahku yang bergaram lantaran hidup di dekatnya adalah ikatan. Saya menyebutnya hubungan. Dan jika kurasakan, hingga sekarang, hubungan itu ternyata kekuatan yang tak pernah selesai kusadari.

Di tahun 80-an, laut Losari adalah laut biru muda dengan aroma asin yang segar. Berenang di manapun di tepinya adalah surga kecil yang kerap kucicipi dengan teman-teman sebaya di Losari. Paling nikmat saat pagi. Kecipak airnya yang sejuk, mengelus lembut sekujur kulitku. Sangat menyehatkan. Dasar anak-anak, seusai pulang sekolah, berenang di Losari adalah permainan yang paling menggembirakan –meski untuk diri saya, paling mendebarkan. Di rumah sudah menunggu sebilah rotan panjang yang siap didaratkan di betis dan paha kecilku. Tapi apalah arti dua-tiga cambukan, dibanding merasakan surga kecil di Pantai Losari.

Itu 30 tahun yang lalu. Sekarang?
Pantai Losari menangis. Ia kini tak ubahnya septic tank raksasa yang ber-sunset. Bagian apapun dari tubuh kita, jika dicelupkan di airnya akan berakibat penyakit. Ia tercemar akut alias berbahaya. Sementara wali kota menepuk dada, menuju kota dunia –Makassar sebagai water front city.


Menanti menjadi kenangan.(Ariane Mays)
Menanti menjadi kenangan.(Ariane Mays)

 

 

Revitalisasi yang dilakukan di pantai ini menjadi proyek pencitraan wali kota semata. Entah apa yang ada di kepalanya (dan konsultannya), yang lebih memprioritaskan pembangunan anjungan daripada menyelamatkan pantai dari pencemaran. Kini, proyek yang dibangun sejak 2004 (dan dijanjikan selesai 2007) itu hingga kini belum juga rampung. Sementara keberadaannya sudah menampar kewarasan kita sebagai masyarakat yang beragama; panggung musik di anjungan menggedor jantung penonton yang ramai berdesakan dengan raungan suara kerasnya; sangat mengganggu saudara kita yang terbaring lemah di Rumah Sakit Stella Maris.

Anjungan hanya artificial belaka, yang tumbuh bagai tumor di punggung Losari. Ramalan sementara saya, di keterbengkalaian anjungan (karena tidak mampu diselesaikan oleh Ilham, sementara wali kota selanjutnya tidak mau melanjutkannya), Pantai Losari pun telah berubah menjadi rawa-rawa dengan air yang bertoxin tinggi. Untuk kemudian, secara perlahan dan pasti, akan semakin mendangkal dan akhirnya menyatu dengan daratan. 

Pantai Losari tinggal kenangan.  





 

2 comments

Aditya Ahmad's picture
Aditya Ahmad wrote 26 weeks 6 days ago

 Halo, aga kareba? :)senang

 Halo, aga kareba? :)senang bisa mengunjungi page ini. boleh saya gunakan salah satu foto pantai ta' untuk feature losari? coutesy foto nanti atas namata' di credit title. :)

Pemred. Maysir Yulanwar's picture
Pemred. Maysir Yulanwar wrote 21 weeks 2 days ago

Kepada Saudara Aditya Ahmad,

Kepada Saudara Aditya Ahmad, senang rasanya telah merespon baik halaman ini. Perihal keinginan saudara untuk memakai salah satu foto kami di halaman ini, kami persilakan. Semoga bermanfaat.

Add your comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly. If you have a Gravatar account associated with the e-mail address you provide, it will be used to display your avatar.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd><img>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Image links with 'rel="lightbox"' in the <a> tag will appear in a Lightbox when clicked on.

More information about formatting options