Sudah banyak pakar lingkungan hidup dan tata ruang memprihatinkan masa depan Pantai Losari dan Pelabuhan Soekarno-Hatta akibat sedimentasi yang berasal dari Sungai Jeneberang yang semakin menumpuk di kedua lokasi tersebut. Prediksi mereka, antara 20-30 tahun ke depan, kedua lokasi itu akan hilang dan tinggal kenangan. “Dari selatan Pantai Losari sampai Pelabuhan Soekarno-Hatta di utara harus dibuatkan tanggul pengaman sedimentasi dengan dua buah pintu di luar sana, yaitu pintu masuk dan keluar untuk transportasi laut. Saya khawatir ke depan yang kita banggakan ini akan tinggal kenangan. Jadi jangan ada lagi istilah yang terkesan pembiaran dalam hal ini”, ujar Drs. HM Sanusi Karateng kepada majalahversi.net Patta Bone baru lalu. Berikut petikan selengkapnya;
Menurut Anda, benarkah Pantai Losari itu menyimpan keindahan?
Ya, semua itu diakui orang. Dari pantai ini kita dapat menyaksikan sunset yang kemerahan untuk kembali ke peraduannya setelah seharian memberikan cahaya kehidupan pada alam semesta. Di sini pula kita menyaksikan laut yang luas dengan deburan ombaknya serta sapuan arusnya. Belum lagi burung-burung camar bercengkerama dengan pasangannya menyaksikan pula sepasang kekasih melabuhkan rasa cintanya. Angin semilir pun turut mempermainkan rambut poni sang gadis dengan desah cekikikan karena sang kumbang mencubitnya. Semua itu menyatu dalam keindahan dan seterusnya.
Di sana ada keaslian, tidak tercemar limbah maupun sampah seperti sekarang. Kini, terkesan pembangunan di sekitar situ tidak terintegratif, sehingga tampak saling berlomba menjorok ke laut
Tapi bukankah keindahan itu sangat relatif bagi manusia?
Itu betul. Setiap manusia memandang keindahan menurut kadar pemahamannya. Sangat bergantung kepada apresiasinya seberapa jauh mereka mampu menyelaminya, baik bahasa tersurat maupun tersirat. Perbedaan ini wajar dan manusiawi. Dan di situlah kelebihan dan kekurangan manusia ini. Jadi memang di situlah subyekvitasnya itu.
Mana yang lebih indah dan berkesan, Pantai Losari yang dulu atau Pantai Losari yang sudah di revitalisasi sekarang?
Jujur ya, kalau saya Pantai Losari yang dulu itu indah. Di sana ada keaslian, tidak tercemar limbah maupun sampah seperti sekarang. Kini, terkesan pembangunan di sekitar situ tidak terintegratif, sehingga tampak saling berlomba menjorok ke laut. Pantai Losari terjepit. Belum lagi setiap tahun sedimentasi semakin menebal dan menjadikannya dangkal.
Pantai Losari dulu aktivitas di atasnya tidak mengganggu pasien rawat inap RS Stella Maris. Sekarang di Anjungannya boleh dikata setiap malam Sabtu dan malam Ahad dipenuhi musik yang mengaum dan menghentak-hentak memekakkan telinga. Menurut Anda ini bagaimana?
Tentu itu sangat mengganggu. Klakson mobil saja di depan rumah sakit berulang-ulang, itu sangat mengganggu, apalagi musik semalaman yang menghentak, bukan? Belum lagi kalau ada Ambulans yang membawa pasien yang luka parah atau sakit keras, harus berputar-putar dulu baru sampai ke rumah sakit Stella Maris. Inilah ironi-ironi dan paradoks jika sebuah pembangunan tidak terintegratif secara holistik. Padahal nyawa si calon pasien itu harus berpacu dengan waktu, bukan?
Revitalisasi Pantai Losari nampaknya tidak dapat ditahan, karena sudah tuntutan zaman. Lalu apa hubungannya dengan kesejahteraan rakyat?
Dalam hubungannya dengan itu memang ada. Tetapi rakyat siapa? Tentu para pengusaha kakap, menengah, dan masyarakat kecil. Hal itu dapat kita saksikan setiap saat, bukan? Terutama kalau ada kegiatan di situ, baik malam Sabtu dan Ahad. Belum lagi para pejabat dan pengusaha serta masyarakat umum melabuhkan rasa rindunya untuk melepas kesumpekan dan kejenuhannya setelah sepekan bergelut tugas rutinitas ditempat kerjanya. Semua itu bagi saya adalah salah satu dari kebutuhan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Apa ada sisi negatif Pantai Losari dari sisi demografis dan budaya siri’ Bugis-Makassar?
Hal itu bisa terjadi. Bukankah di Pantai Losari bertemu segala kepentingan dan kebutuhan? Termasuk pula budaya-budaya hedonis dan semacamnya. Misalnya dari sisi pergaulan, budaya, busana, gaya, model, dll. memang dengan cepat pula ada di Makassar. Tetapi kita di Bugis-Makassar memang budaya siri’ ini bisa menjadi filter, tetapi seberapa jauh budaya ini bertahan? Tentu sangat tergantung pada kita. Serbuan budaya hedonis itu memang sangat deras. Dan itu berlangsung setiap saat.
Setiap proyek besar dengan biaya besar, kalau tidak hati-hati, pengelolanya sering tersandung korupsi. Komentar Anda?
Itu sangat tergantung siapa yang berperan di dalamnya. Kalau yang berperan mau korupsi, peluang memang selalu ada. Tetapi begitu juga sebaliknya, walaupun peluang itu ada, namun tidak dimanfaatkan maka korupsi itu juga tidak terjadi. Ini adalah faktor mental bukan kepintaran. Nah, yang busuk itu walaupun ditutupi misalnya, cepat atau lambat pasti terbuka juga. Kalau tidak di dunia ya pasti di akhirat nanti.
Konsep Anda tentang Pantai Losari modern ke depan seperti apa?
Begini. Sebenarnya konsep itu sudah lama tersimpan di dalam hati saya. Baru kali ini saya akan ungkap mudah-mudahan mendapat respon positif. Artinya, setelah saya pikir dan renungkan prediksi para pakar bahwa Pantai Losari dan Pelabuhan Soekarno-Hatta akan hilang oleh sedimentasi, saya berkesimpilan bahwa kedua tempat ini harus di lindungi dan diselamatkan. Maksud saya, ke dua tempat ini dibuatkan tanggul pengaman seperti penjepit yang menjorok ke laut dengan dibuatkan satu pintu atau dua untuk keluar masuknya kapal atau perahu ke pelabuhan. Nah, kedua tempat ini akan seperti kolam yang terjaga dari sedimentasi. Fungsi tanggul ini akan menjadi multiguna di bibir pantai seperti pelabuhan Tanjung Priok yang kita saksikan dari udara. Proyek Soekarno ini bertahan sampai sekarang dan pelabuhan ini tetap terjaga dari sedimentasi. Bagaimana Makassar? Jadi kita sebenarnya bisa berguru dengan konsep Soekarno ini.
Ada analis lokal tentang lingkungan hidup yang mengatakan bahwa Pantai Losari dan Pelabuhan Soekarno-Hatta akan hilang 20-30 tahun yang akan datang. Komentar Anda?
Nah itu dia! Hal itu bisa saja terjadi. Karena itu saya sarankan seperti tadi. Baik pelabuhan mau pun Pantai Losari harus di lindungi dari berbagai ancaman seperti sedimentasi itu. Begitu pula pembangunan bagian selatan Pantai Losari yang saat ini mulai padat, apakah pemanfaatan tata ruangnya sudah terintegratif dengan Losari atau belum? Karena itu saya sarankan secepatnya diambil langkah-langkah antisipatif terhadap perlindungan Losari dan pelabuhan ini.
Apa saran Anda kepada Pemkot tentang kekhawatiran Anda terhadap dua lokasi tadi?
Kita harus berlomba dengan waktu. Duapuluh-tigapuluh tahun itu sangat singkat, tanpa terasa. Jangan sampai generasi mendatang mengatakan bahwa pendahulunya itu melakukan pembiaran tanpa kepedulian. Karena itu harus diantisipasi secara dini, dan jangan sampai terlambat, baru kita semua menyesal.
Bisakah proyek revitalisasi Pantai Losari ini disebut sebagai proyek mercusuar bagi para wali kota dari masa ke masa?
Ha ha ha ha ha, itu sangat tergantung dari niatnya. Masyarakat sekarang sudah sangat cerdas. Mereka sudah mampu memilah mana yang asli dan mana imitasi. Namun yang jelas, Pantai Losari dan Pelabuhan harus dilindungi dan diselamatkan. Di sinilah kuncinya. [V]
Add your comment