Feedback

artikel

Patta Bone   •     •  

Sapu Bersih Itu hanya Gertakan

Ir. H. Buhari Kahar Muzakkar, MM Pimpinan Komisi C DPRD Sulsel

Investasi asing memang dibutuhkan dalam memacu pembangunan, terutama pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, peningkatan PAD,  maupun lainnya. Namun di sisi lain, juga memiliki kelemahan-kelemahan akut  yang perlu diperjelas dalam MoU. Oleh karena itu dalam legislasi sebagai payung hukum  harus benar-benar memahami subtansi kelebihan dan kelemahan  investasi SDA ini dalam hubungannya dengan PAD dan kesejahteraan masyarakat, jangan sampai hanya menjadi kutukan. “Maksud dan tujuan kita adalah  investasi dapat memacu pembangunan, khususnya pertumbuhan ekonomi, tetapi sebaliknya jangan sampai yang terjadi adalah  SDA itu tidak dapat dinikmati oleh masyarakat, malahan berubah menjadi kutukan”, ujar Ir. H. Buhari Kahar Muzakkar, MM kepada wartawan VERSI Patta Bone (17/2) di ruang kerja Pimpinan Komisi C DPRD Sulsel. Berikut petikan selengkapnya:

Ir. H. Buhari Kahar Muzakkar, MM
Ir. H. Buhari Kahar Muzakkar, MM

 


Memacu pembangunan di suatu daerah, biasanya selalu mengundang investor, baik asing maupun nasional. Untuk Sulsel, investasi yang bagaimana cocoknya?
Memang, salah satu kebijakan pemerintah dewasa ini adalah memacu pertumbuhan ekonomi. Aplikasi kebijakan ini bukan sesuatu yang gampang, karena banyak variabel yang mempengaruhinya, termasuk faktor modal. Dan salah satu sumber utama dalam menyiasati hal itu adalah pembiayaan ekternal  seperti yang berasal dari  investasi luar negeri atau foreign investment. Untuk karakter Sulsel, tentu disesuaikan dengan potensi yang dimiliki, seperti pertanian, perkebunan, dan pertambangan. Dan khusus pertanian dan perkebunan adalah agro industri. Khusus Makassar sebagai pusat pemerintahan, tentu investasi di bidang jasa, perdagangan, perbankan, dan lain-lain.
Di samping ini, dalam bidang pertambangan, contoh PT INCO itu perlu pembenahan MoU agar semua mendapatkan rasa kenyamanan, baik daerah, provinsi, dan pusat misalnya. Jadi, ke depan, MoU diposisikan pada yang seperti itu, jika misalnya di buka lagi investasi pertambangan. Jadi, menurut saya, investasi asing yang baik itu untuk Sulsel adalah investasi langsung, foreign direct investment.

Jelasnya bagaimana?
Investasi jenis ini, pihak asing memiliki  kekayaan secara fisik, dimana mereka melakukan investasi. Investasi semacam ini memiliki kebaikan-kebaikan bagi negara atau daerah  tempat investasi. Hal ini dapat mendorong kenaikan pendapatan  riil di daerah  tersebut. Di sisi lain, investor dapat pula membawa teknik-teknik produk baru, keahlian, inovasi, pelatihan, yang dapat diserap oleh tenaga kerja di daerah setempat, dan banyak lagi yang lainnya.

Sejauh mana legislasi-legislasi sebagai payung hukum tentang investasi ini di Sulsel?
Pada priode lalu, 2004 – 2009, hal itu telah kita siapkan dan itu atas inisiatif  dewan. Intinya, peraturan daerah itu adalah kemudahan, kemudahan bagi investor dalam menanamkan investasinya di Sulsel, seperti yang saya katakan tadi.

 

Saya sebagai elite PAN, secara tegas pernah meminta Pak Syahrul agar ‘tidak melahap’ semua bupati dalam Pilkada


Investasi asing itu bisa mendorong dan membantu investasi dalam negeri. Dalam bentuk apa itu misalnya?  
Begini, ya. Bantuan itu bisa dalam wujud partnership, penyediaan bahan kebutuhan industri, pemasaran hasil produk, dan lain-lain.

Kalau dalam hubungannya dengan tenaga kerja?
Betul itu. Investasi asing memang dapat menyerap tenaga kerja yang lumayan besar, tetapi jangan berhenti  hanya dalam posisi seperti ini. Berupayalah memiliki keahlian-keahlian spesifik agar daya tawar kita dalam penggajian bisa menyamai orang-orang asing sekaligus alih teknologi eksplorasi dan eksploitasi dapat dimiliki. Rugi bangsa ini kalau kita memiliki SDA yang besar, dan hanya menjadi bangsa kuli di negeri sendiri.
Di sisi lain, investasi asing memang dapat mengurangi pengangguran, baik penganggur terbuka, open unemployment, atau pun penganggur terselubung, diquised unemployment, atau mungkin setengah pengangguran. Kenapa? Jumlah angkatan kerja setiap tahun terus bertambah, sementara yang dapat diserap tidak sebanding dengan lapangan kerja yang tersedia. Daya serap yang rendah ini disebabkan oleh  pertumbuhan ekonomi yang relatif rendah. Dan untuk menyerap angkatan kerja sebesar itu, misalnya di Sulsel, tentu dibutuhkan pertumbuhan ekonomi minimal 6 – 7 persen, dan tentu saja hal itu membutuhkan investasi yang cukup besar.

Setiap investasi di suatu daerah, tentu tidak terlepas dari dampak eksternal ekonomi terhadap masyarakat setempat?
Jelas itu, ada. Dalam hal ini, penduduk setempat dapat menikmati fasilitas yang diadakan oleh perusahaan, misalnya listrik, prasarana jalanan, kesehatan, pendidikan, maupun bantuan-bantuan lainnya yang insidental. Contohnya  PT INCO yang sama diketahui telah berkontribusi pada peningkatan PAD Sulsel dan PAD kabupaten Luwu Timur, maupun perusahaan lainnya semisal Trans Studio di Makassar.

Tetapi kenapa investor asing kurang berminat menanamkan investasinya di Sulsel. Ada apa sebenarnya?   
Itu bisa mungkin karena demo-demo anarkis dan stabilitas politik yang tidak terjamin. Tetapi bagi saya, Sulsel aman-aman saja, kok. Sulsel cukup kondusif. Siapa bilang Makassar selalu bergolak? Demo-demo itu bagai saya adalah ciri kedinamisan dan kepedulian yang tinggi. Tapi kalau saya, lebih bagus demo yang cukup masif semacam unjuk rasa di luar negeri yang tidak harus setiap hari dengan jumlah hanya puluhan orang.

Bagaimana dengan kepastian hukum?
Kepastian hukum bagi para investor adalah prasyarat utama. Hal itu sangat mereka butuhkan dalam melaksanakan usahanya. Kurangnya kepastian hukum ini dapat menyebabkan mereka enggan menanamkan ivestasinya. Bahkan para investor asing itu bisa saja hengkang memindahkan usahanya ke negara  atau daerah lainnya.

Dalam hubungannya dengan kasus-kasus perburuhan yang sering di politisir ?
Yang namanya perusahaan multinasional, PMA atau lainnya seperti PMDN, pasti memiliki banyak karyawan atau buruh, misalnya. Tentu, mengurusnya juga tidak segampang membalikkan tangan. Banyak aspirasi yang berkembang di dalamnya. Di antaranya, misalnya pemogokan, demontrasi, usulan dan kritikan, misalnya.  Dan itu suatu hal yang biasa-biasa saja. Itu memang sebuah konsekwensi dari sebuah kebijakan.
Yang penting, jangan kita anarkis, sebab yang akan menerima akibatnya tentu kita semua. Karena itu, komunikasi atau silaturahim memegang peranan penting untuk mempertemukan aspirasi yang berbeda.

Tapi apa betul, yang selalu dikeluhkan oleh investor, baik PMA maupun PMDN, adalah ekonomi biaya tinggi?
Betul sekali itu. Timbulnya hal seperti ini disebabkan antara lain banyaknya pungutan-pungutan yang bersifat biaya siluman, invisible cost. Biaya-biaya seperti ini sangat memberatkan mereka. Salah satu akibat dari ini adalah hengkangnya beberapa perusahaan asing dan mencari daerah atau negara yang lebih menguntungkan.

Investasi-investasi asing itu, bukankah tidak hanya membawa pertumbuhan ekonomi daerah tetapi juga memiliki kelemahan-kelemahan akut?
Seperti yang saya tahu, kelemahan-kelemahan itu misalnya kontrol dari pemerintah investor asing atau badan-badan internasional, seperti IMF, ADB, World Bank, dan sejenisnya, yang terkadang memang sangat merugikan negara atau daerah yang menjadi tempat investasi. Kelemahan lainnya, menguras atau menghabiskan SDA dengan kontrak deposit sesuai jumlah cadangan di bawah tanah. Namun ironisnya, setelah selesai kontrak, maka SDA itu sudah terkuras habis dan yang tinggal adalah kerusakan lingkungan yang sangat parah. Hal ini yang selalu kurang mendapat perhatian dari para investor yang hanya ingin mengeruk keuntungan semata.

Dihubungkan dengan penerapan ekonomi bermuka dua, setelah kita cerdas berguru dengan investor pertambangan, tak jarang menimbulkan kecemburuan sosial. Apakah hal ini memang selalu terjadi?
Ya itu tadi. Di daerah atau lokasi pertambangan terjadi pembangunan fasilitas yang serba mewah dan modern serta gemerlap. Tetapi sebaliknya di sekitar proyek sangat terbelakang, penuh kekumuhan, kemiskinan, dan ekonomi sub sistem. Artinya, fenomena seperti ini dapat menimbulkan kerawanan dan kecemburuan sosial yang selanjutnya bisa memicu benturan sosial yang harus dibayar mahal. Jadi social cost yang tercipta bisa sangat tinggi. Tentu hal ini dapat mengganggu stabilitas politik, sosial, ekonomi, dan keamanan.

Jadi mereka hanya bisa menjadi penonton kegemerlapan?
Hal itu bisa saja terjadi, karena banyak faktor dan kondisi. SDA yang melimpah, idealnya memang bisa dinikmati dan memakmurkan masyarakat, minimal daerah setempat, misalnya. Tetapi kalau sebaliknya, yang terjadi  hanya menyengsarakan, itu namanya kutukan. Mungkin kita mengurusnya tidak amanah dan profesional, atau mungkin SDM kita masih terlalu lemah. Jadi ke depan, perlu peningkatan kualitas SDM agar dapat menjadi tuan di negeri sendiri.

Data yang dikemukakan para pihak investor terkadang patut dipertanyakan. Exxon Mobil misalnya, saat eksplorasi  menyatakan cadangan minyak di Blok Cepu sebesar 781 juta barel. Kapasitas produksi 165 ribu barel perhari. Kalau dikalkulasi, eksploitasinya berkisar 11 atau 12 tahun. Tetapi lucunya, perusahaan menandatangani MoU sampai 2030. Ini lebih mirip politik ekonomi penjarahan. Komentar Anda?
Simpel saja. Tentu cadangan minyaknya jauh lebih besar, dong, dari apa yang disebutkan. Nah, itu spekulasi pengusaha!

Dalam Pilkada bulan Juni mendatang, di Sulsel, Golkar dan Demokrat saling klaim sapu bersih. Menurut Anda, ini ada apa?
Itu kan hanya bahasa politik. Saya sebagai elite PAN, secara tegas pernah meminta Pak Syahrul agar ‘tidak melahap’ semua bupati dalam Pilkada. Tentu alasanya agar terjadi keseimbangan dinamika dan pemerataan kekuatan partai politik di Sulsel seperti yang dijanjikan sebelum menjadi gubernur. Sapu bersih itu bisa saja diartikan sebagai gertakan. Tetapi ini bisa berbalik sebagai semangat menyala untuk kemenangan  bagi yang lain. Saya dulu meminta, janganlah Sulsel ini di Golkar-kan semua bupatinya. Bahwa proses pembangunan itu tidak ditentukan satu warna, melainkan proses pembangunan itu perlu pendekatan multi aspirasi secara holistik.
Nah, seperti yang ditanyakan, PAN juga berjuang maksimal untuk memenangkan ‘kosong satu’ dan ‘kosong dua’ dengan gaya spesifik PAN, tentunya. Tetapi itu kita tidak gembor-gemborkan. Tetapi, sekali lagi itu bahasa politik. Kita manusia boleh saja optimis menyapu bersih. Itu tidak ada salahnya. Namanya saja berusaha maksimal. Tapi di balik semua itu, masih ada ‘tangan’ di atas tangan kita. Artinya, kita yang berusaha maksimal, tetapi akhirnya Tuhan yang menentukan. Yang terakhir ini, di luar kalkulasi kita. Ada beribu contoh peristiwa seperti ini pernah hadir dalam sejarah umat manusia.

Yang membuat demo-demo di Sulsel, khususnya Makassar, karena aspirasi rakyat dipermainkan gendang elit politik dan persoalan korupsi yang memperkaya diri sambil mengatasnamakan kepentingan rakyat, baik lokal maupun nasional. Komentar anda?    
Seperti yang saya katakan tadi, bahwa demo-demo itu adalah bentuk kepedulian yang besar kepada masyarakat, patut diacungi jempol. Tetapi sebaliknya demo-demo yang anarkis itu dapat mengganggu stabilitas dan keamanan di samping dapat berdampak tidak masuknya investor. Dalam hal ini, saya rasa, demo-demo yang terencana, terarah dan lebih masif dalam menyampaikan aspirasi  itu sangat baik, tetapi itu sangat tergantung pada niatnya, proses dan tujuannya.  Demo yang besar dan profesional dan sesekali muncul, dan itu betul-betul memperjuangkan  rasa keadilan masyarakat, terlebih di kemas secara cerdas, taktis, dan strategis, tentu saja gaungnya sangat besar di samping mendapat respon yang positif. Beda sekali yang kalau hanya puluhan orang, bukan?
Di sisi lain, demo yang disumbui politik tertentu, karena persaingan politik yang tidak sehat, justru itulah yang perlu diwaspadai dan diantisipasi. Karena ujung-ujungnya adalah anarkis, kericuhan, bentrokan. Demo yang seperti inilah yang kita tidak inginkan bersama. Intinya, demo itu tetap ada sisi positifnya, karena di dalamnya terkandung presure  bahwa aspirasi mereka harus diperhatikan.

Untuk menentukan cabup-cawabup pada Pilkada bulan Juni mendatang, selalu berpatokan hasil survei. Tetapi tetap saja kalah, karena rakyat tidak butuh visi-misi melainkan butuh makan dan pekerjaan yang baik. Komentar anda?
Sebenarnya itulah harapan kita semua dan yang harus direalisasikan. Kita berusaha bahwa hasil survei itu sudah representasi aspirasi masyarakat. Artinya hasil survei harus berada pada posisi obyektif, sehingga hal ini merupakan hasil rekaman aspirasi rakyat pada saat itu. Dan semakin dekat hari “H” pilkada, tensi presure semakin tinggi, dan terkadang dibumbui oleh cost atau money politik yang bisa saja mempengaruhi hasil survei tadi. Di sisi lain, visi yang baik itu adalah yang dapat menyatu dalam perbaikan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sebaliknya, visi itu akan disebut mandul jika tidak ada perwujudan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Dan ini semua harus menjadi sebuah catatan utama bagi para cabup-cawabup, terutama yang terpilih.

Ketika anda mampu menjaga citra dan menjaga ketokohan, bukan hanya Ketua PAN Sulsel yang menanti Anda, tetapi juga anggota DPR RI nantinya. Ketika perjalanan nasib dan takdir kelak membawa Anda harus berlabuh di pantai “Kosong Satu” pada Pilkada dalam Dapil anda, maka Anda akan lebih dekat kepada rakyat. Komentar anda?
Ha… ha… ha… ha… pertanyaan ini menurut saya adalah sebuah spirit bagi saya. Mudah-mudahan saja, ya! Doakan, yaa!

Kalau anda bekerja selama ini, niatnya bagaimana?
Selama ini memang kalau saya bekerja selalu saya niatkan sebagai pengabdian dengan harapan menggapai ridha Allah SWT. Dan seterusnya, tentu saja, masyarakatlah yang akan menilainya. Iya kan?

Anda adalah wakil rakyat. Ke depan, siapkah Anda menjadi pelayan rakyat di ranah eksekutif?
Yaa, tentu saja saya selalu siap. Saya hanya mampu mengatakan, amiin. Insya Allah! Sekali lagi, ya, mudah-mudahan Allah selalu memberikan kemampuan  untuk mengawal dan menjaga amanah itu, ketika Allah berkenan dan masyarakat menginginkannya. Kuncinya semua itu, ada di tangan Allah dan dukungan masyarakat. [V]

No comments

Add your comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly. If you have a Gravatar account associated with the e-mail address you provide, it will be used to display your avatar.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd><img>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Image links with 'rel="lightbox"' in the <a> tag will appear in a Lightbox when clicked on.

More information about formatting options