Feedback

artikel

Khairil Anas   •     •  

Penyimpangan Sejarah Muslim di Ambon

Pembantaian,  penghancuran,  pembakaran,  penjarahan  dan pengusiran  secara  besar-besaran  yang pernah terjadi dari kota Ambon  agaknya  tak  pernah terbayangkan masyarakat muslim Ambon. Ambon yang sejak dahulu sejuk dan damai, pernah berubah menjadi daerah yang paling mencekam dan menakutkan, khususnya bagi umat Islam Ambon.

Penyimpangan Sejarah Muslim di Ambon
Penyimpangan Sejarah Muslim di Ambon
 


Menilik bentuk kerusuhan, sasaran penghancuran dan korban yang teraniaya, dapat dipastikan bahwa kerusuhan tersebut benar-benar karena masalah SARA, khususnya agama, meskipun bukan faktor satu-satunya. Peristiwa memalukan dan memilukan itu bukan sekadar bernuansa  SARA, tetapi merupakan potret sebuah kebiadaban yang  keji  terhadap  umat  Islam.  Kejadian  ini  sekaligus  menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia, bahwa di mana Islam minoritas disitu Islam selalu ditindas.

 

Nama Maluku sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Arab, yakni Al-Muluk



Bagai api dalam sekam, komposisi Masyarakat Ambon sebenarnya menyimpan potensi konflik yang  cukup  besar,  meskipun  mereka menganut budaya “Pelagandong”. Potensi konflik itu nampak pada komposisi masyarakat yang beragama Islam dan beragama Kristen yang berimbang.

Fakta membuktikan bahwa sasaran penghancuran dan pembantaian adalah umat Islam. Orang Islam diklaim sebagai pendatang dan Islam dipandang  sebagai  agama  asing,  bukan  agama  penduduk  asli. Padahal, kalau menelusuri  sejarah yang sebenarnya, ternyata Islam adalah agama yang lebih awal datang ke Ambon daripada Katholik atau Protestan yang dibawa penjajah Portugis dan Belanda.

Islam telah lebih dahulu meletakkan fondasi kebudayaan Ambon dengan nuansa Islami. Islam jauh lebih dahulu berkembang di Ambon. Islam mulai masuk  ke daerah ini sejak abad ke-7. Sedangkan Khatolik masuk Ambon di abad ke-16 dan  Protestan pada abad ke-17. Sangat disayangkan,  buku  sejarah  telah diselewengkan. Dalam sejarah yang ditulis Belanda, hubungan Arab-Indonesia  pada  abad-abad  awal  itu  dihilangkan lalu dibuat seolah-olah Hindu dan China lebih dahulu yang datang ke Maluku. Padahal Thomas Arnold dalam buku “The Preaching of Islam”, menjelaskan yang masuk lebih awal adalah bangsa Arab. Nama Maluku sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Arab, yakni Al-Muluk.  Penamaan  yang  bernuansa  Arab  itu  dikarenakan  yang membuat peta daerah Maluku adalah para sarjana geografi Arab. Namun  setelah Belanda masuk, kata tersebut dirubah menjadi Maluku.

Di Maluku, sebelum kedatangan bangsa Eropa, Islam berkembang pesat, kerajaan Islam berdiri tegar, seperti Ternate, Tidore.  Jadi Islam sebenarnya bukan agama baru di Maluku. Sejak abad ke-7 sampai abad ke-11 Maluku sangat ramai dikunjungi saudagar-saudagar Arab, Persia dan Gujarat. Selain berdagang mereka juga menyebarkan Islam sampai kepada raja-raja Maluku. Pada abad XV di bawah pengaruh Sultan Ternate,Tidore dan Hitu, Islam berkembang dengan pesat pada hampir seluruh pulau-pulau Maluku. Islam masuk dengan jalan damai, dan penuh kesejukan, tanpa kekerasan

Disusul kemudian bangsa Eropa yang datang ke Maluku, yakni  Portugis di tahun 1511. Selain mengeruk kekayaan alamnya, mereka juga memperkenalkan agama Kristen. Seterusnya pada tahun 1605 Belanda yang menganut  Kristen  Protestan  merebut  benteng  Portugis dan mengusirnya. Ketika terjadi perang reformasi di Eropa, orang Belanda yang Protestan  memerangi  dan  membasmi  orang-orang  Portugis  yang Katolik. Karena itu, sampai tahun 1950 agama Protestan menjadi dominan di Ambon.

Ensiklopedi Indonesia menyebutkan bahwa selama menjajah, Belanda juga menyebarkan agama Kristen, sebagaimana pedagang Arab yang  menyebarkan  Islam.  Penduduk  Ambon  yang  mau  memeluk Kristen mendapat perlakuan istimewa dari Kolonial Belanda. Masyarakat Kristen Ambon lebih berkesempatan dalam pendidikan dan lowongan kerja sebagai tentara dan pegawai Belanda.

Berdasarkan sejarah di atas, dapat diketahui bahwa masyarakat Maluku sudah lama terintegrasi dalam sistem politik Belanda. Sejak itu beribu-ribu orang Ambon Nasrani meninggalkan kampung halaman untuk bekerja pada dinas militer maupun sipil di seluruh Nusantara. Mereka  dipekerjakan  sebagai  Serdadu  Kolonial  dalam  menguasai wilayah-wilayah  Nusantara  yang  belum  ditaklukkan.  Pengalaman penyerbuan  Belanda  ke  Aceh  pada  1873  adalah  bagian  dari pengalaman  orang-orang  Ambon  yang  terkooptasi  oleh  penjajah Belanda.

 

Wajar  jika  hasil  sensus  1950 menunjukkan  bahwa  90%  umat  Islam  di Maluku masih  buta  huruf


Pengalaman ini mengubah suasana keterjajahan Ambon Kristen dari orang-orang  yang  dieksploitasi  habis-habisan  di  bawah  monopoli rempah-rempah menjadi orang yang bersekutu dengan Belanda. Akibat kedudukan istimewa ini, Secara ideologis  banyak orang Nasrani merasa mempunyai hubungan khusus dengan Belanda, karena mempunyai kesamaan agama maupun tugas, teristimewa kemiliteran.

Bila orang-orang Ambon Nashara ikut dalam usaha-usaha kolonial, maka umat Islam Ambon tak mau ikut serta dalam usaha tersebut. Selain  karena  Belanda  tidak  merekrut  mereka,  umat  Islam  juga memang tidak mau bersekongkol dengan penjajah. Karena itu umat Islam tidak mau memasuki pendidikan dinas militer Belanda. Maka tak aneh, sampai tahun 1920-an di desa-desa Islam tidak ada fasilitas  pendidikan  sekuler.  Wajar  jika  hasil  sensus  1950 menunjukkan  bahwa  90%  umat  Islam  di Maluku masih  buta  huruf.  Pengalaman sejarah orang  Ambon  Nashara  berbeda  sekali  dengan pengalaman Ambon Muslim.

Orang-orang  Nashara  dengan  bantuan  pendidikan  Belanda mendominasi masyarakat Ambon sedemikian rupa, sehingga banyak orang menyangka bahwa Ambon adalah daerah Kristen. Maka wajar, jika masyarakat Ambon kemudian menganggap Belanda bukan sebagai penjajah. Hal ini pula yang mengakibatkan proklamasi Kemerdekaan RI 1945, tak banyak mendapat sambutan rakyat di Maluku. Bahkan pada tanggal 24 April 1950 Dr. Soumokil memproklamirkan Republik Maluku  Selatan  (RMS)  yang  melakukan  aksi  politiknya  secara kekerasan.

Hubungan Islam-Nasrani yang demikian tegang, diperkuat oleh kenyataan bahwa para pemimpin sipil RMS berikut serdadunya semua terdiri dari orang-orang Nashara. Sementara korban para serdadu itu banyak orang Islam. Ketakutan ini beralasan, karena jumlah  umat  Islam  terus meningkat yang sebelumnya sekitar 35% menjadi 49% di awal Orde Baru. Perkembangan ini dianggap sebagai ancaman bagi Kristen di sana. Karena itu, ketika kerusuhan terjadi tidak mengherankan jika bendera RMS dinaikkan di berbagai tempat.

Dari sejumlah diskusi dan seminar yang terus dilakukan berbagai pihak di Ambon, dengan tema menggali potensi konflik serta pencegahannya,  rasanya hanya satu solusi yang ampuh untuk mengatasinya, yakni saling menghormati sesama pemeluk agama, menahan diri dan tidak memperturutkan kebencian secara emosional dan kembali kepada nilai ajaran agama masing-masing. Sebab tidak ada satu agamapun yang mengajarkan kepada pemeluknya untuk membenci dan memerangi pemeluk agama lain. [V]

No comments

Add your comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly. If you have a Gravatar account associated with the e-mail address you provide, it will be used to display your avatar.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd><img>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Image links with 'rel="lightbox"' in the <a> tag will appear in a Lightbox when clicked on.

More information about formatting options