PANGERAN Diponegoro lahir di Yogyakarta, 11 November 1785 dan meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Januari 1855 pada umur 70 tahun, adalah salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia. Makamnya berada di Makassar, namun makam anak-cucunya menyebar di seluruh tampat di tanah air. Setidaknya Pangeran Diponegoro mempunyai 17 putra dan 5 orang putri, yang semuanya kini hidup tersebar di seluruh Indonesia, termasuk Jawa, Sulawesi & Maluku.

Lorong Diponeggoro, pintu ke kompleks pemukiman keturunan Pangeran.
Khusus untuk Maluku, jejaknya dapat dilihat pada sebuah kompleks pemakaman di kampung Batu Merah, sekitar 3 km sebelah utara kota Ambon. Kompleks Makam Anak Cucu Pangeran Diponegoro, demikian papan nama Makam yang tertulis di pintu masuk Makam. Sementara keturunan Pangeran Diponegoro yang masih hidup dan termasuk generasi kelima sampai ketujuh tinggal berkelompok di salah satu tempat di sudut kota. Jalan yang menuju ke kompleks pemukiman itu lalu diberi nama Jalan Diponegoro.
Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro
Meskipun kondisi Makam itu terkesan terabaikan, namun tetap memancarkan aura kental sejarah yang melingkupi. Menatap deretan makam di dalam petilasan itu, seakan tengah membuka lembaran-lembaran sejarah masa lampau. Bang Hasan, salah seorang cucu Pangeran Diponegoro dari generasi kelima menemani VERSI melihat-lihat kompleks Makam. Di areal pemakaman itulah empat orang putra Pangeran Diponegoro, yakni Adipati Anom, Pangeran Sudiro Kromo, Pangeran Ahmad dan Pangeran Abdul Azis dimakamkan.
Sedangkan cucu Pangeran Diponegoro yang dimakamkan di tempat itu antara lain Raden Ayu Seha, anak perempuan dari Pangeran Ahmad. Makam Raden Ayu Seha berdampingan dengan makam suaminya, seorang pangeran dari Hadramaut, Habib Ali bin Hasan bin Khaedar. Makam yang lain adalah cucu Pangeran Diponegoro dari Pangeran Abdul Azis, yakni Raden Ayu Aminah dan Makam suaminya, Habib Abdullah bin Alwi Al Mansyur, yang juga merupakan pangeran dari Arab. Menurut Bang Hasan, sampai saat ini kompleks Makam yang hanya berukuran 30x30 meter itu berisi 70 makam.

Masjid di pemukiman komplek keturunan Diponegoro.
Di antara empat putra Pangeran Diponegoro yang dibuang ke Ambon, dua di antaranya yang cukup terkenal, yakni Adipati Anom dan Pangeran Sudiro Kromo; keduanya ikut aktif dalam membantu perjuangan Pangeran Diponegoro dalam menentang Belanda. Seperti tertulis dalam sejarah, Adipati Anom dibuang oleh Belanda bersama Kyai Modjo ke Ambon. Kisah bermula ketika Jenderal Belanda, De Kock penasaran, sudah hampir 4 tahun tidak berhasil memadamkan pemberontakan Diponegoro. Padahal berbagai cara telah diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro, bahkan sayembara pun dipergunakan.
Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro. Maka Jenderal Belanda itu lalu menerjunkan intelejennya yang terlatih untuk menganalisa kelemahan pasukan Diponegoro. Hasil pengamatan intelejen menyimpulkan bahwa kekuatan atau pilar utama Pasukan Diponegoro terletak pada Kyai Modjo yang merupakan wakil dan merangkap sebagai Panglima Perang.
Untuk melumpuhkan perlawanan Pangeran Diponegoro, maka Belanda melalui Keputusan Letnan Gubernur Jendral tanggal 19 Oktober 1829 kemudian menangkap Kyai Modjo dan pengikutnya, lalu membuangnya ke Ambon.
Pada saat makamnya digali, ditemukan bukti bahwa tengkorak Pakubuwana VI berlubang di bagian dahi
Kyai Modjo dan pengikutnya menuju Ambon (bersama Adipati Anom - putra pangeran Diponegoro). Secara bertahap tahanan politik pemerintah Belanda dikirim ke Ambon, untuk menunggu kesiapan Manado menerima tahanan politik yang sangat istimewa tersebut sebagai tempat pembuangan terakhir. Kyai Modjo dan pengikutnya diberangkatkan menuju Ambon dalam dua rombongan. Rombongan pertama menggunakan kapal Belanda ”Thalia”, diperkirakan pada akhir bulan Oktober 1829.
Sebanyak 48 orang tawanan dikirim ke Ambon menggunakan kapal Thalia pada tanggal 19 Oktober 1829. mereka adalah Pangeran Sudiro Kromo dan Adipati Anom bersama 46 orang pengikutnya. Perjalanan dari Batavia (Jakarta) menuju Ambon membutuhkan waktu 2 bulan maka rombongan pertama ini diperkirakan tiba di Ambon pada bulan Desember 1829.

Deretan Makam Tua dan Bersejarah.
Sementara Pengiriman Kyia Modjo dan sisa pengikutnya ke Ambon dilakukan pada tahap II, nampaknya dilakukan pada awal bulan Pebruari 1830 (sebulan sebelum Belanda mengadakan perundingan dengan Pangeran Diponegoro dan kemudian menangkapnya) merujuk pada surat Direktur Lands Producten en Civile Magazijn tanggal 19 Pebruari 1830, yang ditujukan kepada Letnan Gubernur Jendral berisi tentang Resolusi bersama antara Letnan Gubernur Jendral dan Hooge Regeering tanggal 29 Januari 1830 No.1, Direktur Lands Producten en Civile Magazijn mengajukan kuasa mengirim para tawanan menuju Ambon dari Batavia dengan kapal sewaan Mostora dengan juru mudi L.I. Psluger dan dikawal dengan Kapal Thalia.
Rombongan kedua, termasuk Kyai Modjo di dalamnya diperkirakan tiba di Ambon pada awal bulan April 1830, seperti tersirat pada Surat Gubernur Maluku Tanggal 20 April 1830 Kyai Modjo dan 22 orang pengikutnya berada di Ambon hanya sekitar 1 bulan, selanjutnya mereka diberangkatkan ke tempat pengasingan terakhir Manado. Sementara putra Pangeran Diponegoro, dia tidak ikut serta ke Manado tetapi tetap tinggal di Ambon hingga wafat di sana.

Makam Pakubuwono VI dan permaisuri.
Tertangkapnya Kyai Modjo pada tanggal 12 Nopember 1828 merupakan pukulan berat bagi Pangeran Diponegoro. Sebaliknya Belanda sangat bersuka cita karena dengan demikian pilar utama Pangeran diponegoro sudah runtuh. Tinggal dua pilar Pangeran Diponegoro yang harus dilumpuhkan yaitu panglima pemberani Sentot Alibasyah Prawirodirdjo (saat itu berumur sekitar 20 tahun) dan Pangeran Mangkubumi.
Beberapa sumber mengisahkan cara Belanda menangkap Pangeran Diponegoro dengan memanfaatkan tentara pribumi yang terkenal sakti. Tentara pribumi yang menangkap Pangeran Diponegoro adalah kebanyakan pasukan pribumi dari Indonesia Timur yang merupakan tentara gabungan dari Makassar, Bugis dan Ambon.
“Pangeran dan anak-anaknya memang diasingkan ke Indonesia Timur, seperti Makasar, Manado dan Ambon karena memang yang menangkap Pangeran adalah pasukan pribumi dari timur, gabungan Bugis, Ambon,dan lain-lain,” Kata Bang Hasan membenarkan.
“Tetapi Pangeran tidak disatukan dengan guru spiritual beliau yang jauh lebih sakti. Kyai Modjo di taruh di Tondano, karena pimpinan pasukan pribumi yang dikerahkan Belanda untuk membendung serangan Pangeran kala itu adalah orang dari sana, dan hampir semua pahlawan dan sultan yang melawan Belanda di taruh di sana setelah dikalahkan oleh pasukan pribumi,” lanjut Bang Hasan.

Riwayat Singkat Pakubuwono VI.
Selanjutnya Bang Hasan menceritakan pula alasan Belanda memisahkan tempat pengasingan Kyai Modjo dan Pangeran Diponegoro karena keduanya memiliki pusaka yang sama-sama hebat, dan kalau mereka tinggal bersama dalam satu tempat pengasingan maka pusaka mereka bentrok dan mengakibatkan gempa.Wallohu a’lam.
Setelah tertangkapnya Pangeran Diponegoro, semua pasukan, pengikut dan keluarganya ikut mengasingkan diri, membentuk kelompok-kelompok sendiri serta membuka lahan baru, agar tidak diketahui Belanda.
Sampai saat ini, kita dapat menemukan jejak sejarah Pangeran Diponegoro di semua tempat di tanah air ini. Seorang kawan yang orang Jogja menceritakan bahwa di sekitar Jatimulya ada wadah dari sebongkah batu, bekas tempat makan kuda Pangeran Diponegoro. Bongkahan batu itu tidak bisa dipindahkan. Setelah melalui ritual khusus dengan bantuan seorang paranormal, barulah batu tersebut bisa dipindahkan dan ternyata dibawahnya tersimpan sebuah mustika. Dan sekarang di tempat tersebut telah berdiri sebuah musholla dan batu bertuah ada di dekatnya.
Begitu pula di sekitar Desa Kaloran, di sana terdapat makam salah seorang pengikut Pangeran Diponegoro yang bergelar Mongsonegoro. Sementara Makam Pangeran Diponegoro bisa dijumpai di Kampong Melayu-Makassar, Sulawesi selatan.
Sejumlah warga di sekitar tempat itu juga mengaku sering melihat penampakan sosok yang diyakini sosok Pangeran Diponegoro
Perjuangan dan perlawanan Pangeran Diponegoro berakhir setelah kalah perang dan banyak pasukan yang mati, Pangeran Diponegoro ditawan, lalu dibawa ke Ungaran Semarang, kemudian ke Batavia. Tanggal 8 April 1830 Pangeran Diponegoro sampai di Batavia dan ditempatkan di Stadhuis, kemudian pada tanggal 3 Mei 1830 Pangeran Diponegoro dan rombongannya diberangkatkan dengan kapal Perang Pollux menuju Manado, Sulawesi dan ditempatkan di Benteng Amsterdam selama 4 tahun.
Terakhir Pangeran Diponegoro dan pengikutnya dipindahkan ke Benteng Rotterdaam Makassar pada tahun 1834, sampai wafatnya pada tanggal 8 Januari 1855 dalam usia 70 tahun.
Beberapa keturunan Pangeran Diponegoro di Kota Ambon masih menyimpan catatan mengenai Silsilah Pangeran Diponegoro, yang dimulai dari Brawijaya V, sebagai berikut:
- Brawijaya V / R Alit / Angkawijaya
- R Bondhan Kejawan / Lembupeteng Tarub
- R Depok / Ki Ageng Getas Pandowo
- Bagus Sunggam / Ki Ageng Selo
- Ki Ageng Anis (Ngenis)
- Ki Ageng Pemanahan / Mataram
- R Sutowijoyo / Panembahan Senopati
- Panembahan Hadi Prabu Hanyokrowati
- Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo
- Sunan Prabu Amangkurat Agung
- Kanjeng Susuhunan Pakubuwono I – Kartasura
- Sinuwun Prabu Mangkurat IV – Kartasura
- Pangeran Hario Mangkubumi - Hamengku Buwono I
- Kanjeng Sultan Hamengku Buwono II
- Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III
- Pangeran Diponegoro
Diponegoro adalah putra sulung Hamengkubuwana III, seorang Raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dari seorang garwa ampeyan (selir) bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. Pangeran Diponegoro bernama kecil Raden Mas Ontowiryo.

Jalan Diponegoro-membelah Kota Ambon.
Diponegoro menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengkubuwana III, yang ingin mengangkatnya menjadi raja. Ia menolak mengingat ibunya bukanlah permaisuri. Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang selir, maka Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo daripada di keraton.
Perang Diponegoro dimulai dari tempat ini, berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu, beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.
Teman Seperjuangan Pangeran Diponegoro Dimakamkan di Ambon
Tidak jauh dari pemukiman keturunan Pangeran Diponegoro di kota Ambon, juga terdapat satu kompleks makam. Makam yang memiliki nilai sejarah, yakni Makam Sri Susuhunan Pakubuwana VI , ia lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 April 1807 dan wafat di Ambon, 2 Juni 1849 pada umur 42 tahun. Sri Susuhunan Pakubuwana VI adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1823 – 1830. Ia dijuluki pula dengan nama Sinuhun Bangun Tapa, karena kegemarannya melakukan tapa brata. Pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan Sunan Pakubuwana VI sebagai pahlawan nasional berdasarkan S.K. Presiden RI No. 294 Tahun 1964, tanggal 17 November 1964.
Nama aslinya adalah Raden Mas Sapardan, putra Pakubuwana V yang lahir dari istri Raden Ayu Sosrokusumo, keturunan Ki Juru Martani. Pakubuwana VI naik takhta tanggal 15 September 1823, selang sepuluh hari setelah kematian ayahnya.
Hubungan dengan Pangeran Diponegoro
Banyak warga kota Ambon yang menyangka bahwa Pakubuwana VI adalah Pangeran Diponegoro, sehingga ketika VERSI mencari kompleks pemukiman anak cucu Pangeran Diponegoro di kota itu, beberapa tukang ojek yang mangkal di depan gang menunjukkan letak pemukiman yang katanya bersebelahan dengan Makam Pangeran Diponegoro.
Pakubuwana VI adalah pendukung perjuangan Pangeran Diponegoro, yang memberontak terhadap Kesultanan Yogyakarta dan pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1825. Namun, sebagai seorang raja yang terikat perjanjian dengan Belanda, Pakubuwana VI berusaha menutupi persekutuannya dengan Pangeran Diponegoro.

Mushollah dalam Makam. Dibangun tahun 1845. Masih asli.
Saksi-saksi dan penutur sejarah umumnya menyamarkan pertemuan rahasia Pakubuwana VI dengan Pangeran Diponegoro dengan menggunakan bahasa simbolis. Misalnya ketika Pakubuwana VI pergi menemui Pangeran Diponegoro secara diam-diam, dalam kisahnya tertulis pergi bertapa ke Gunung Merbabu atau bertapa di Hutan Krendawahana.
Pangeran Diponegoro pernah menyusup ke dalam Keraton Surakarta untuk berunding dengan Pakubuwana VI seputar sikap Mangkunegaran dan Madura. Ketika Belanda tiba, mereka pura-pura bertikai dan saling menyerang. Konon, kereta Pangeran Diponegoro tertinggal dan segera ditanam di dalam keraton oleh Pakubuwana VI.
Dalam perang melawan Pangeran Diponegoro, Pakubuwana VI menjalankan aksi ganda. Di satu sisi ia memberikan bantuan dan dukungan kepada Pangeran Diponegoro, namun di sisi lain ia juga mengirim pasukan untuk pura-pura membantu Belanda.
Penangkapan oleh Belanda
Belanda akhirnya berhasil menangkap Pangeran Diponegoro pada tanggal 28 Maret 1830. Sasaran berikutnya ialah Pakubuwana VI. Kecurigaan Belanda dilatarbelakangi oleh penolakan Pakubuwana VI atas penyerahan beberapa wilayah Surakarta kepada Belanda.
Belanda berusaha mencari bukti untuk menangkap Pakubuwana VI. Meskipun tidak disertai alasan yang kuat, namun Belanda tetap saja menangkap Pakubuwana VI dan membuangnya ke Ambon pada tanggal 8 Juni 1830 dengan alasan bahwa juru tulis Keraton Jogyakarta, Mas Pajangswara sudah membocorkan semua hubungan rahasianya dengan Pangeran Diponegoro.
Misteri Kematian Pakubuwana VI .
Pakubuwana VI meninggal dunia di Ambon pada tanggal 2 Juni 1849. Menurut laporan resmi Belanda, ia meninggal karena kecelakaan saat berpesiar di laut. Pada tahun 1957 jasad Pakubuwana VI dipindahkan dari Ambon ke Astana Imogiri, yaitu kompleks pemakaman keluarga raja keturunan Mataram. Pada saat makamnya digali, ditemukan bukti bahwa tengkorak Pakubuwana VI berlubang di bagian dahi. Menurut analisis Jend. TNI Pangeran Haryo Jatikusumo (putra Pakubuwana X), lubang tersebut seukuran peluru senapan Baker Riffle.
Ditinjau dari letak lubang, Pakubuwana VI jelas bukan mati karena bunuh diri, apalagi kecelakaan saat berpesiar. Raja Surakarta yang anti penjajahan ini diperkirakan mati dibunuh dengan cara ditembak pada bagian dahi.
Makam yang Dikeramatkan
Sedikit ada cerita unik seputar makam Pakubuwono VI ini. Juru kunci Makam, Muhammad (55 tahun) kepada VERSI menceritakan sebuah peristiwa aneh ketika terjadi konflik di Kota Ambon tahun 1999 lalu. Saat konflik, Kompleks Makam tua itu juga tidak luput dari sasaran amarah umat Kristen. Diceritakan Muhammad bahwa sebelum terjadi kerusuhan di sebelah timur makam itu terdapat dua bangunan tua yang merupakan bangunan rumah kediaman Pakubuwono dan keluarganya. Meskipun bangunan tua bergaya Eropa itu kini tersisa onggokan puing, hancur lebur dibakar massa, namun mushollah kecil yang berada disisi bangunan rumah itu tetap berdiri utuh tanpa kerusakan sedikit pun.

Tembok pembatas makam. Juga masih asli.
Sejumlah orang yang ikut dalam aksi itu, mengaku melihat serombongan pasukan berkuda, salah satu di antara pasukan berkuda itu tampak mengenakan jubah dan sorban berwarna putih menunggangi kuda yang juga berwarna putih. Muhammad meyakini bahwa sosok tersebut adalah arwah Pakubuwana dan pengawalnya. Ketika melihat pasukan berkuda yang mengelilingi mushollah, maka seketika massa langsung mundur dan mengurungkan niat merobohkan mushollah yang ada di kompleks makam tersebut. Sejumlah warga di sekitar tempat itu juga mengaku sering melihat penampakan sosok yang diyakini sosok Pangeran Diponegoro.
Sampai sekarang warga sekitar percaya bahwa kompleks makam tersebut memiliki kekuatan mistik yang sangat tinggi. Pemerintah Kota Ambon telah memasukkan situs tersebut sebagai salah satu obyek wisata yang banyak dikunjungi turis-turis lokal maupun mancanegara. Namun sayang sekali kondisi yang tidak terawat, menandakan minimnya perhatian pemerintah setempat dalam melestarikan sejarah.
Bangunan mushollah yang dulu beratap genteng dan kini telah diganti dengan seng itu, masih sering digunakan sebagai tempat sholat tarwih di saat bulan Ramadhan. Mushollah tersebut hanya berukuran 5x5 meter, tapi menurut Muhammad, mushollah tersebut dapat menampung 50-70 orang jamaah sholat. Wallohu a’lam. [V]
Sekedar informasi tambahan
Sekedar informasi tambahan ...Bahwa kuburan Pakubuwono VI Letaknya di Jl.Diponegoro No.198 Kampung Diponegoro Ambon...dan sampai saat ini masih terawat dgn baik oleh Keluarga Diponegoro Ambon .....sedangkan MAKAM Anak Cucu pangeran Diponegoro letaknya di Batu Merah Atas...arah masuk Kota Ambon.....WassalamJakarta 8 september 2011 By : Den S.Diponegoro...
stelah membaca tulisan dari
stelah membaca tulisan dari penulis, sy merasa terharu karena saya masih salah satu keturunan dari pengawal Pangeran Diponegoro (namannya mbah. Banteng Wareng) yg di asingkan bersama pasukan Kyai Modjo di Tondano. (JATON)..
Add your comment