Saya selalu ingat tentang gunung, matahari, sawah dan burung ketika ingin menggambar sesuatu. Karena ketika duduk di sekolah dasar, ilustrasi seperti itu yang sering diperintahkan tuk digoreskan di buku gambar. Mengapa bukan objek lain? Saya menggumam dan berpikir keras tentang itu. Mengapa kami tidak menggambar suasana di sekitar lingkungan hidup kami seperti suasana pesisir, kapal, nelayan dan pelabuhan yang dipotret dalam gambar kami? Pertanyaan ini membawaku pada fakta-fakta yang mencengangkan.
Seorang arkeolog di Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo seperti dikutip Kompas (12/1/2009) menyatakan ”Kita bangsa maritim yang juga agraris, tetapi maritimnya sering dilupakan.” Ia menuturkan, saat penjajahan Belanda dengan politik tanam paksa telah memaksa penduduk melupakan laut. Nelayan pun dipaksa bertanam di darat. ”Tujuannya untuk melemahkan kekuatan laut kita,” katanya. Budaya bahari merangsang manusia Indonesia memiliki pandangan yang luas, terbuka dan banyak berinteraksi dengan dunia luar. Hal seperti ini dipandang sangat tidak menguntungkan bagi pihak penjajah yang ingin melanggengkan kekuasaannya di Nusantara.
Peminggiran budaya bahari terus berlanjut hingga ke masa Orde Baru berkuasa. Revolusi Hijau dilakukan dengan masif berupa pengejawantahan program-program seperti intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian melaui transmigrasi. ”Di era Orde Baru, kita didorong mengerjakan sawah. Memang berhasil, tetapi akhirnya kita lupa dengan laut,” tambah Bambang pada artikel tersebut. Usaha ini nampaknya memberikan hasil berupa swasembada beras pada tahun 1984. Namun keberhasilan ini tak sepenuhnya disebabkan oleh usaha-usaha tersebut, tetapi karena didukung oleh anggaran pembangunan negara saat itu. Anggaran diperoleh dari pendapatan negara yang berasal dari surplus harga minyak dunia yang melonjak pada tahun 1973 dan tahun 1980. Selain itu, revolusi hijau juga mendapat suntikan dana hibah dan pinjaman internasional yang disalurkan melalui IGGI3
Latar belakang Soeharto sebagai presiden saat itu juga punya andil besar terhadap upaya penunggalan budaya agraris. Soeharto adalah anak seorang petani yang dibesarkan di tengah-tengah pedesaan yang berciri agraris di Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, DIY.
“...boleh jadi benar, tarikan wajah saya kalau sedang berada di Tapos tampak lebih segar. Memang saya merasa bergairah berada di tengah-tengah alam pertanian. Latar Belakang saya dari sana. Akar saya dari sana. Saya bisa memahami kalau ada seseorang yang merasa gatal badannya jika seminggu saja ia tidak menginjakkan kaki atau merogoh tangannya ke dalam tanah pertanian1”
Soeharto sangat boleh jadi juga terobsesi memiliki lahan pertanian sendiri, tempat dia dapat mewujudkan impian masa kecilnya: hidup di tengah-tengah alam pedesaan dan kaum tani. Tentu saja impian itu disesuaikan dengan kedudukannya sebagai presiden. Di Taposlah Soeharto mewujudkan impian masa kecilnya2.
Melihat kenyataan tersebut, tidak heran jika upaya ‘mendaratkan’ orang Indonesia yang memiliki identitias kuat sebagai ‘orang laut’, juga dilakukan oleh Soeharto melalui penetrasi kesadaran melalui instutisi pendidikan. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, kita terus dicekoki oleh citra kebudayaan darat dan perlahan-lahan mengikis budaya bahari yang telah mengakar di nenek moyang kita. Contohnya seperti aktivitas menggambar tadi, dan pilihan cerita yang ada dalam buku teks pelajaran yang jarang mengeksplor kehidupan pesisir. Kebijakan ini juga ditopang oleh gaya kepemimpinan Soeharto yang sentralistik dan Jawasentris yang mengamini kebudayaan darat untuk seluruh negeri.
Kini Soeharto tinggal sebuah nama dari masa lalu yang kelam, tetapi bayang-bayang dan trauma yang diberikan kepada masyarakat Indonesia selama 32 tahun memerintah, masih terasa hingga detik ini. Jika kita mampu keluar dari trauma penjajahan oleh Belanda dan mampu bebas dari tirani Orde Baru yang berkuasa selama 32 tahun, maka kita tentunya mampu keluar dari bayang-bayang budaya darat dan menatap ke laut sebagai identitas orisinil bangsa ini. Anak-anak kita pun tentu akan menggambar banyak hal yang ditemuinya tiap hari di dalam buku gambarnya. Tidak hanya sawah, tidak hanya gunung, tetapi juga laut, pantai dan perahu yang merapat manis di dermaga atau di tengah laut yang menggelora. [V] Fakhri Samadi
Catatan Kaki:
1.Lihat Soeharto, Soeharto : Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya: Otobiografi seperti dipaparkan kepada G. Dwipayana dan Ramadhan K.H. (Jakarta: Citra Lamtoro Gung Persada, 1989), hlm. 6-18.
2.Lihat Bacriadi dkk, Merampas tanah rakyat: Kasus Tapos dan Cimacan (Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2001), hlm 1-42
3.Lihat Fauzi, Noer. 1998. "Dari Aksi-aksi Protes Petani Menuju Embrio Organisasi Massa Petani." Pp. 85-97 in Perlawanan Kaum Tani: Analisis terhadap Gerakan Petani Indonesia Sepanjang Orde Baru. Medan: Yayasan Sintesa dan Serikat Petani Sumatera Utara.
bacaan yg menyadarkan
bacaan yg menyadarkan sekaligus mencerahkan bro...kami menantikan tulisanmu berikutnya!!!salam hangat dari laut.....
ooo gitu ya, budaya maritim
ooo gitu ya, budaya maritim emang kental dengan nusantara, sejak berdirinya kerajaan2 hindu dan islam armada laut menjadi kekuatan serta alat perdagangan yang paling diandalkan.
kekuatan majapahit menguasai
kekuatan majapahit menguasai nusantara karena kekuatan maritimnya. dan setelah itu nusantara tidak kuat lagi karena kerajaan-kerajaan yang ada di dalamnya tidak menghiraukan laut sebagai basis kekuatannya. hingga saat ini pun, laut juga masih mempunyai posisi yang sangat penting.
Add your comment