Feedback

artikel

  •  

Kota Tua Makassar: Tragis

Kota tua Makassar semakin sulit dijejak. Pertanyaan yang paling polos yang dapat keluar dari warga yang paling lugu adalah “apa yang bisa dibanggakan di Makassar?” Seribu jawaban “tidak” akan muncul atas seribu alasan yang diajukan, kecuali satu yaitu sejarah. Itu pun sesungguhnya dibiarkan tumbuh dalam semangat menghancurkan, bukan menghargai.

Revitalisasi Pantai Losari. Tak pernah matang. (Foto: Ariane Mays)
Revitalisasi Pantai Losari. Tak pernah matang. (Foto: Ariane Mays)

 


Apa dan dimana kota tua Makassar itu, kini semakin sulit dijejak. Sengaja dihilangkan, sehingga jangankan dapat pulang, untuk ke sana siapapun akan hilang, tersesat. Air mata tak lagi berharga untuk meratapi keadaan ini. Apa yang dikenal sebagai kota tua Makassar, tak lagi dapat ditemukan dalam terjemahan historis, estetika apalagi fungsi.
 

Makasar memang sakit. Ironinya, nyaris setiap wali kota menambah penyakit baru (bukan menyembuhkan) lalu mentradisi hingga kini. Dan kita bertepuk tangan bersama mereka


Fort Rotterdam. Separuh hati? (Foto: Ariane Mays)
Fort Rotterdam. Separuh hati? (Foto: Ariane Mays)
Di tengah upaya merekonstruksi kembali kota tua, pemerintah mendefinisikan Makassar dalam pembangunan yang jor-joran dan memakai  contextual juxtaposition sebagai pendekatan desainnya: sangat bergantung pada intervensi desain dalam mewujudkan lingkungan yang berkarakter. Persoalannya, jika tidak diolah secara matang, pendekatan yang lebih bersifat radikal ini dapat mengganggu atau bahkan merusak lingkungan. Pendekatan desain ini sangat erat kaitannya dengan Zeitgeist kaum modernis, yang mencoba mendialogkan antara bangunan baru dan bangunan lama atau lingkungan yang sudah ada.  Lagi-lagi Karebosi dan Pantai Losari  adalah contoh korban terbaiknya.

Lapangan terbuka terluas ke-9 dunia itu bukannya lebih diperluas, malah dipersempit dengan segala argumen picik. Karebosi menjadi ‘mainan’ baru atas nama ekonomi, dengan kusir politik. Sebuah lubang lagi yang membolongi bendera kejayaan Makassar sebagai kota (ber)budaya. Sama persis yang dialami Pantai Losari dengan anjungan barunya. Keberadaan anjungan yang tepat berhadapan dengan RS Stella Maris (salah satu bangunan cagar budaya yang dilindungi) itu telah menampar kewarasan kita. Sangat tidak manusiawi. Menyediakan masyarakat tempat berjoget dan bernyanyi keras tepat di depan ‘hidung’ saudara kita yang tengah sakit bahkan sekarat. Belum lagi masalah kemacetan dan kacaunya arus lalu-lintas yang ditimbulkan. Sangat memprihatinkan. 

Kawasan Pecinan. Sudut kota tua Makassar yang tak terurus. (Foto: 'Anto' Sirajuddin)
Kawasan Pecinan. Sudut kota tua Makassar yang tak terurus. (Foto: 'Anto' Sirajuddin)
Makassar sedang sakit. Berdosa rasanya jika menyangkal tidak ada masalah. Membangun Makassar telah diterjemahkan dalam praktek inkonsistensi alias kemunafikan pembangunan; proyek mercusuar adalah kata lainnya.  Kebijakan mengutak-atik kawasan lama untuk menumbuhkan bangunan baru (yang tanpa karakter), menjadi ‘mainan’ penguasa. Jangankan kawasan lama, kawasan pengembangan pun telah terpancung oleh kepentingan sesaat. Kehadiran pusat belanja M’tos di jalan poros Perintis Kemerdekaan, salah satunya. Meski telah diperdakan, daerah yang diperuntukkan sebagai kawasan pendidikan ini, ‘dikhianati’ oleh penggagasnya sendiri bersama sang penguasa di masa pemerintahan yang sama. Sampai di sini, bayangan kekhawatiran tersaji begitu saja: bagaimana nasib kawasan Arupala, dan hamparan luas tanah kosong lainnya, jika pembangunan Makassar (selalu) berada ditangan pemimpin yang tak memiliki sikap.

Makasar memang sakit. Ironinya, nyaris setiap wali kota menambah penyakit baru (bukan menyembuhkan) lalu mentradisi hingga kini. Dan kita bertepuk tangan bersama mereka.

Pecinan di saat malam menjelang. Tertimbun waktu. (Foto: Ariane Mays)
Pecinan di saat malam menjelang. Tertimbun waktu. (Foto: Ariane Mays)
Apa yang menjadi titik berat persoalan di atas, tak lain adalah sudah dianggap perlu dibentuk semacam badan pengawas masterplan dan pengendali perubahan pembangunan (sebagai sikap atas ‘kebancian’ DPRD kota dalam mengawas). Walikota tidak bisa lagi seenaknya melakukan perubahan atas kota yang dipimpinnya. Perlu ditekankan pula bahwa desain tata kota  diharapkan mampu menumbuhkan apresiasi dan kesadaran publik. Sehingga menjadi sangat penting komitmen penaklukan pada egoisme periode, dalam konservasi atau pelestarian, diatur melalui mekanisme sebuah badan independen yang memiliki wewenang setingkat DPRD yang berfungsi menjaga/mengawasi arah masterplan dan pengendali perubahan pembangunan, dimana keanggotaannya steril dari orang partai dan pemerintahan.

Konsep Keterkaitan
Gedung Sociateit Harmoni. Ditelantarkan? (Foto: M. Yulanwar)
Gedung Sociateit Harmoni. Ditelantarkan? (Foto: M. Yulanwar)
Kevin Lynch, arsitektur kondang dari Chicago pernah menulis: “Melihat sebuah kota bagaikan melihat sesuatu yang menyenangkan. Bagaimanapun juga, kota merupakan pemandangan yang mempunyai arti tersendiri.” Ya, sebuah kota mestinya memiliki kekuatan positif tersendiri, khas, yang sedemikian kuatnya sehingga mampu diingat dan diperbincangkan ulang dengan maksud menghadirkan rasa nyaman –dan roman. “Sebuah kota layaknya karya arsitektur, terbentuk dari ruang-ruang dalam skala besar,” tambah Lynch. Mengingatkan kita pada “kota surga” Singapura yang memiliki banyak ruang-ruang luas yang nyaman.

Makassar idealnya dapat memberi citra tersendiri bagi setiap orang yang melihat, terlebih bagi orang yang tinggal di dalamnya. Dalam interaksinya dengan identitas dan citra mental, Makassar dapat mencerminkan kualitas fisik. Hal tersebut dipancarkan dari setiap elemen pembentuknya, mulai dari bangunan, ruang-ruang yang dibentuk bangunan tersebut, hingga jalan-jalan yang terbentuk di antaranya.

Sebagai kota yang akan memasuki usia 403 tahun, Makassar tetap menggeliat, membangun dalam deru ‘perlombaan’ fisik, namun membiarkan identitas terusik. Tapi, benarkah terusik? Ternyata tidak. Sebab identitas itu satu persatu telah dan sedang menemui ketiadaannya. Jika Lynch secara mental menganggap sesuatu yang menyenangkan dari sebuah kota adalah (juga) sebuah identitas, maka itu semakin tak dimiliki oleh kota kita ini.

 

Kalau saja kita mau -sedikit saja- menghargai dan menghormati keberadaan dan kualitas estetik kawasan bersejarah ini sebagai pusat kota tua Makassar yang berkarakter, akan nampak jauh lebih berbudaya dan berkelas kota kita ini.



Makassar terhempas oleh kenyataannya sendiri. Fort Rotterdam cuma dibiarkan diam membisu, layu; sebuah hotel yang tersulap ruko kini berdiri angkuh di depannya. Tenda-tenda sea food pada melukai tubuhnya, menyumbangkan pemandangan kumuh. Perluasan pelabuhan yang menjorok ke laut pun lebih dipilih tumbuh. Sementara itu, nasib Benteng Somba Opu tak kalah suramnya, lumpuh. Kota internasional di jamannya itu, dijadikan sebagai pasar kaget dalam kemasan formal “Pameran Pembangunan”. Kawasan pecinan pun tumbuh cacat: proyek setengah mati yang dilanjutkan setengah hati. Sementara Karebosi, jangan tanya Karebosi. Ia adalah model terbaik kekalahan Makassar atas kepicikan kekuasaan, yang hendak menyembunyikan kebodohannya yang terlambat disadari, dan akhirnya mempertahankan dengan berbagai argumen kepalsuan.

Gedung Museum Makassar. Tak berdaya. (Foto: M. Yulanwar)
Gedung Museum Makassar. Tak berdaya. (Foto: M. Yulanwar)
Padahal, kawasan bersejarah dengan karya bangunan dan lingkungannya (seperti Pantai Losari, Gedung Stella Maris, Fort Rotterdam, Sociateit Harmoni, Pecinan, Kantor Walikota, Museum Kota, Karebosi, Gereja Katedral dan ruang-ruang lainnya) yang terhubung satu sama lain, sesungguhnya memiliki jejaring desain dan sosial yang khas.

Kalau saja kita mau -sedikit saja- menghargai dan menghormati keberadaan dan kualitas estetik kawasan bersejarah ini sebagai pusat kota tua Makassar yang berkarakter, akan nampak jauh lebih berbudaya dan berkelas kota kita ini. Konsep keterkaitan ini menjadi sesuai pada pemanfaatan bangunan lama untuk mengakomodasi kegiatan baru yang relevan (melalui alih fungsi) dimana hal ini dapat dipahami sebagai upaya penafsiran baru terhadap warisan budaya. [V]

No comments

Add your comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly. If you have a Gravatar account associated with the e-mail address you provide, it will be used to display your avatar.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd><img>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Image links with 'rel="lightbox"' in the <a> tag will appear in a Lightbox when clicked on.

More information about formatting options