Senyumku tidak pernah lahir dari obyek atau pengalaman yang ketika kuberempati dengannya, kutemukan diriku harus melawan. (Maysir Yulanwar)
SETIAP saya melihat foto ini, saya mencari kewarasan penguasa yang kupastikan tercecer di saat ia menghamburkan kata tentang kemajuan kota.

Pemandangan di Makassar.. yang katanya (menuju) kota dunia.
Setiap hari, di koran-koran, kemajuan dan rencana kota diceritakan. Melambung tinggi angan-angan, menuju kota dunia. Datang dari Singapura, menghadiri World Cities Summit yang gagah, wali kota gede rasa. “Makassar sudah diakui menjadi kota dunia”, katanya (Bukan kata siapa-siapa). Padahal itu hanya undangan biasa, yang bertujuan sebagai sharing konstruktif; berintikan instrospeksi pemerintah terhadap kotanya.
Mereka mengira, cerita kota dunia yang mereka bawa akan menghilangkan kesalahan mereka atas kesemrawutan dan kemiskinan yang mendera kota ini. Itu hanya bungkusan
Banyak cerita yang penguasa bawa. Sekeranjang rencana milyaran rupiah pun digagas, tak peduli uang dari mana. “Kami ini tidak punya uang untuk menggerakkan potensi kami. Karena itu, kami butuh uang, dan tentu itu adalah kapitalisme,” ucap konsultan tata kota Danny Pomanto, enteng. Entah dia mengerti apa yang diucapkan atau tidak.
Kapitalisme?

.. di trotoar, di keramaian tukang becak.

.. tak jauh dari rujab wali kota.

Demo ibu-ibu di depan BPS Makassar. Mereka tahu apa itu 'kejahatan statistik'.
Iya. Seorang Danny dan Wali Kota Ilham pulang dari Singapura dengan penegasan kapitalismenya yang gagah. Dapat dibayangkan, bagaimana rupa kapitalisme dengan hukum dan birokrasi yang korup? Bagaimana sifat kapitalisme itu di tangan wali kota yang plin plan, tidak punya ketegasan dan politisi yang cemas?
Sementara itu, berjarak 12 rumah dari rumah jabatan wali kota, seorang ibu menyusui anaknya di atas trotoar; lokasi jalan yang dilewati wali kota hampir setiap hari. Mustahil tidak melihat mereka, berkerumun menunggu belas kasihan warga yang lewat.
Hatiku gelisah. Tidak terima namun tidak bisa berbuat apa-apa. Memotret dan menulis, cuma itu. Saya takut Tuhan mencelaku, merusak niat sedekah dengan berharap keuntungan dari-Nya dengan cara memanfaatkan mereka dengan makanan yang kubagi. Kesalahan yang kubuat tidak bisa kubayar dengan memanfaatkan kemiskinan mereka. Saya bahkan takut berempati –memposisikan diri di kehidupan mereka, di kota dengan pembangunan tanpa arah. Disilaukan janji-janji kapitalisme, berempati dengan kemiskinan adalah penberontakan. Melawan menjadi aksi (sekaligus saksi) yang paling indah disadari sebagai solusi yang diberikan oleh kesempatan.
Di kegugupan mengartikan pesona Singapura, mereka hendak menjual kota ini dengan cara mengingkari pengetahuan akan proses panjang yang dilalui Singapura. Mereka mengira, cerita kota dunia yang mereka bawa akan menghilangkan kesalahan mereka atas kesemrawutan dan kemiskinan yang mendera kota ini. Itu hanya bungkusan. Mereka cuma pintar membuat bungkusan, kemasan yang terlihat mahal dan mentereng, sementara isinya penuh kotoran dan kegagalan.
Setiap saya melihat foto ini, saya mencari nurani penguasa yang kupastikan tercecer di saat ia menghamburkan janji tentang ucap demi rakyat. Setiap kita adalah diri yang lahir dari seorang ibu. Seorang ibu selalu punya alasan untuk mau menyusui anaknya. Tapi di atas trotoar … wali kota harus mencicipinya sebelum berucap kota dunia. [V]
My Notes:Para ahli menyebutnya kemarau basah. Saat di Juli seperti ini, hujan masih saja kerap turun, mengambil jatah kemarau yang mestinya sudah masuk. Seperti Rabu itu, hujan pagi mengguyur Makassar. Berhenti di jam 10, langit berangsur memucat. Meski mendung masih menggantung, matahari mulai muncul dengan sinarnya yang murung. Saya pun mulai beranjak keluar rumah, mau motret di Makam Pangeran Diponegoro.
Menyusuri Jalan H. I. Ahmad Saleh (masih popular disebut Jalan Durian) seperti biasa laju motor kupelankan. Santai saja, dengan pandangan yang senantiasa awas. Di dekat pohon asam tua yang masih basah, dari kejauhan saya melihat seorang ibu terbaring di atas trotoar. Beberapa temannya yang lain –di tempat yang tidak berjauhan- terlihat asyik bergerombol, duduk memeluk lutut di atas trotoar yang mulai mengering.
“Astaga,” bathinku, “ibu itu menyusui anaknya”. Pemandangan itu tersaji begitu saja di depanku. Sesaat setelah melewati ibu itu, saya tercekat beberapa detik. “Pemandangan biasa di tempat yang tidak seharusnya dibiasakan,” kataku. Saya pun menepi dan berhenti di balik dua becak.
Beberapa adegan berhasil kuabadikan. Sampai akhirnya ibu itu sadar, kehadiranku ditangkapnya. Ia bergegas duduk, setelah menutup dadanya rapat-rapat. Beberapa saat, ibu itu menatapku, tidak dengan marah, tidak dengan pesan yang harus kuterima untuk kusadari perbuatanku. Ia cuma terkejut, setidaknya kesan itu yang kutangkap. Setelah itu raut tuanya normal kembali; tersenyum, menepuk lembut anaknya yang terlihat bingung. Kemiskinan yang menderanya, menjadikan semuanya wajar.
Jumlah warga miskin di Makassar pada tahun 2006 lalu, tercatat sebanyak 70.162 KK. Pada 2007 turun menjadi 68.744 KK, dan mengalami stagnasi hingga 2008. Di tahun 2009 angka kemiskinan menurun sebesar 62.096 KK atau 254.000 jiwa, yang jika dipersentasekan mencapai 19,97% terhadap jumlah penduduk Makassar.
Tapi data yang dikeluarkan BPS atas permintaan wali kota ini, ditolak mentah-mentah oleh warga kaum miskin Makassar. Mereka meminta BPS mengubah definisi kemiskinan dan menjelaskan hasil data itu. Mereka menilai data penurunan warga miskin itu dipolitisir untuk kebutuhan pencitraan kinerja wali kota Ilham, dengan program IASMO Bebasnya.
Sementara itu, kurang lebih 1.500 anak di Makassar terancam kurang gizi. Data yang dilansir dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Makassar ini, masih dianggap kurang (bisa bertambah) jika dilihat realitas ekonomi dan kehidupan masyarakat Kota Makassar. Ironinya, anggaran yang disiapkan untuk menangani gizi buruk anak ini hanya sekitar Rp700 juta untuk tahun 2010. Bandingkan dengan biaya ‘jalan-jalan’, kendaran dinas para anggota dewan dan biaya ‘makan’ wali kota, yang bisa menyentuh milyaran rupiah.
Kemiskinan adalah salah satu isi yang memprihatinkan di Makassar, yang oleh penguasa dibungkus dengan label bergengsi ‘Kota Dunia’. Cukup cerdas untuk menarik perhatian dunia, tapi cukup memalukan untuk disaksikan bagaimana sebenarnya Makassar yang oleh Ilham disebutnya kota dunia.
Kini, pengemis di Makassar menjadi salah satu obyek bagi para wisatawan. Di sepanjang Jalan H.I. Ahmad Saleh, Jalan Arif Rate dan Jalan Sultan Hasanuddin (ketiga jalan ini berada di jantung Makassar), para pengemis ramai-ramai dipotret para turis. Melihat semua ini dan menuliskannya kembali, saya menjadi malu sendiri. Mendengar, membaca wali kota menyebut ‘kota dunia’ apalagi mengucapkannya; telinga, mata dan lidah saya menjadi malu. Rasanya hendak kulempar mulut itu dengan sepatu … dan melemparnya sekali lagi.
Di Makassar, malu sudah menjadi (hal yang) tabu untuk dimiliki (penguasa). [V]
Ada 3 hal yang saya pahami
Ada 3 hal yang saya pahami dari tulisan diatas:
1. Kemiskinan yang murni dan ketidakmampuan
2. Kemiskinan dan ketidakmampuan itu dipakai untuk mendatangkan keuntungan bagi mereka yang menjadi korban dan orang-orang yang memanfaatkan apa yang dialami korban
3. Bawa mereka yang mengalami kemiskinan dan ketidakmampuan yang murni kedepan rumah Walikota dan pejabat yang punya segudang rencana tentang pengentasan kemiskinan kaum urban kota, dan tanyakan apa realisasi yang berdampak pada perbaikan kesejahteraan Ibu dan Anak.
semakin byak pemerintah
semakin byak pemerintah mndrikan dan mnjanjikan kemakmuran semkin mbyk jga kemiskinan yg terlihat .............. dunia mengis saat ank " yg hrus nya mersakan hgat nya pelukan ibu nya di malam hri tpi di pikranmerka itu hylah hyalan dan sebuah mimpi yg takan terwujud dalam nyata ...yg merka pikirkan bgaimna merka bisa mmprpnjg hidup mereka dgn menjadi anak jalanan......anak dan ibu kdg mnjadi korban dri keserakaan manusia yg ign mnsuskseskan dri merka sendri ......................................apakh bisa di nmakan kota menju dunia jika potret disetiap persmpagan jaln masih byak dan sggt" byk yg berbalik dri semua janji..... apakh janji hrus di tgih...apa pemerintah atw pun kita sndri tdk pya kesdran dri untuk mnepti janji.........
Add your comment