Konflik antara kedua kelompok ini bermula dari seorang tukang ojek, Darfin Saimen, warga desa Waehaong (muslim) yang tewas kecelakaan di daerah Gunung Nona (Kristen). Namun, informasi tewasnya Darmin berkembang lain, tewas karena dianiaya warga setempat, Sabtu malam, 10 September 2011.
Keesokan harinya, Minggu siang, 11 September 2011, usai Darfin dimakamkan di pekuburan Mangga Dua, massa tak mampu membendung emosi. Tanpa dikomando massa menghentikan serta melempari kendaraan yang melintas di kawasan itu. Warga Desa Waehaong yang tidak terima dengan meninggalnya tukang ojek tersebut melakukan sweeping kendaraaan di daerahnya. Mereka membakar angkutan kota jurusan Kuda Mati dan Gunung Nona. Sebagian lagi warga melakukan aksi penyerangan terhadap warga non muslim dengan membawa senjata tajam. Tawuran antar wargapun pecah, aksi saling lempar batu mewarnai kebrutalan yang terjadi.
Bentrokan dipicu ada tukang ojek muslim kecelakaan tabrak tembok. Namun, isu berkembang lain, tukang ojek tewas dianiaya
Berita mengenai keributan ini sebenarnya telah menyebar sejak siang, namun aparat keamanan tetap tidak mengambil tindakan pencegahan, sampai kemudian bentrokan warga pecah dan makin brutal. Polisi terpaksa melepaskan tembakan untuk membubarkan bentrokan massa ini.
Menurut seorang saksi mata, Hambali, situasi Kota Ambon sangat mencekam. kedua kelompok yang bertikai masih berada di tepi jalan, hanya dijaga beberapa polisi saja.
“Polisi hanya sedikit yang datang, saya kuatir jumlah massa yang lebih besar dibanding polisi menyebabkan bentrokan makin besar dan meluas,” kata Hambali kepada Versi.
Sementara Jeffri Chandra, pemiliki toko di Jl. A. M. Sangadji menduga, bentrokan ini berawal dari kesalahpahaman di kedua kelompok antara non muslim dan muslim. “Bentrokan dipicu ada tukang ojek muslim kecelakaan tabrak tembok. Namun, isu berkembang lain, tukang ojek tewas dianiaya. Saya melihat ada pembiaran dari aparat agar Ambon rusuh lagi,” tuturnya.

Ratusan anggota TNI dan Polri bersiaga di perbatasan Waringin, setalah bentrokan terjadi. Sebanyak tiga buah mobil angkot, jurusan Bentas dan Kudamati rusak dilempar masa saat melintasi kawasan Mangga Dua. Selain itu, dua buah kendaraan motor juga dibakar massa saat melintasi kawasan itu. Satu unit mobil box dibakar massa di depan mesjid An Nur, Jl. A. M. Sangadji oleh warga Muslim, untuk menahan laju pergerakan kelompok Kristen.
Kapolres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, AKBP, Joko Susilo, yang datang ke lokasi ini pun tidak mampu menenangkan massa. Aparat kepolisian kemudian mengeluarkan tembakan peringatan untuk menghalau massa, namun juga tidak mampu. Dua orang warga meninggal terkena tembakan peluru aparat. Sementara puluhan warga lainnya menderita luka-luka dan dilarikan ke Rumah Sakit Al Fatah.
Warga marah karena polisi lamban menangani dan menangkap pelaku pembunuhan Darfin. Akibat peristiwa ini kosentrasi massa pun serentak terjadi di sejumlah titik di kota Ambon, seperti di Mardika, Batu Merah, dan lainnya. Kondisi keamanan kota tiba-tiba saja menjadi kacau tidak terkendali.
Hingga Minggu malam tadi, di beberapa lokasi di Kota Ambon masih terlihat kosentrasi massa, warga di masing-masing kubu terus berjaga-jaga mengamankan wilayahnya masing-masing. Sampai berita ini diturunkan, kepulan asap masih mengepul dari sejumlah rumah warga yang terbakar. Warga desa Batu Merah yang terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak mengungsi ke Masjid An Nur, sementara kaum lelaki dewasa tetap berjaga-jaga di rumah masing-masing. Api terdapat pada empat titik masing-masing di Mardika, Trikora, Pohon dan Pule, Ambon. [V] Khairil Anas dari tempat kejadian.
Add your comment