Feedback

artikel

Khairil Anas   •     •  

Kesemrawutan Makassar dan Bahasa Kegagalan ala Penguasa

Apa yang dibutuhkan kota ini, tak lain adalah pertanyaan yang dijawab secara tepat.

Pertanyaan seperti: “Jika pemkot tidak dapat mengendalikan peningkatan penduduk, apa yang harus dilakukan? Jika tidak dapat mengantisipasi tingkat urbanisasi, apa yang harus dilakukan? Jika tidak dapat menahan laju jumlah kendaraan, untuk mengurangi kemacetan, apa yang harus dilakukan? Jika kesemrawutan tata kota sudah terlanjur terjadi, apa yang harus dilakukan? Jika gudang-gudang tetap tidak bisa disterilkan dalam kota, apa yang harus dilakukan? Jika lahan terbuka hijau semakin menyempit digantikan oleh tumbuhan beton, apa yang harus dilakukan? Jika pedagang kaki lima semakin menjamur dan sulit dikendalikan, apa yang harus dilakukan? Dan beberapa pertanyaan lainnya.

Beginilah kenyataan kota yang dikelola pemerintahan yang bermental lembek. Pelanggaran macam ini sangat sering dijumpai di Kota Makassar yang berulang tahun di 9 Nopember 2011 lalu. Ini pelanggaran yang kasat mata, bayangkan bagaimana dengan yang tidak nampak? (Foto: M. Yulanwar. Lokasi: Jl. Riburane. 29 Oktober 2011).
Beginilah kenyataan kota yang dikelola pemerintahan yang bermental lembek. Pelanggaran macam ini sangat sering dijumpai di Kota Makassar yang berulang tahun di 9 Nopember 2011 lalu. Ini pelanggaran yang kasat mata, bayangkan bagaimana dengan yang tidak nampak? (Foto: M. Yulanwar. Lokasi: Jl. Riburane. 29 Oktober 2011).

 



Pertanyaan-pertanyaan ini adalah kenyataan yang dilahirkan oleh pemkot sendiri yang tak mampu dijawab. Pun, jika bisa, atau ada solusi yang didapatkan, itu pun belum selesai sampai di situ. Pertanyaan yang kemudian lahir adalah mampukah wali kota menerapkan solusi itu?

 

Kesemrawutan dan kemacetan yang terjadi di Makassar adalah akibat yang ditimbulkan dari pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan secara sadar dan cermat; yang tidak mungkin luput dari pengetahuan wali kota



Mereka yang memimpin kota dengan sangat berhasil, biasanya mendapatkan pertanyaan-pertanyaan seperti di atas. Persis yang pernah melanda Kota Curritiba, namun dijawab dengan tepat dan ditindaki dengan tegas oleh wali kotanya, Jaime Lerner.

Baliho dipersila dipasang dimana saja, bahkan di area yang dilarang sekalipun. (Foto: Zainal Rachman. Lokasi: Depan Rujab Gubernur Sulsel. 17 Oktober 2011).
Baliho dipersila dipasang dimana saja, bahkan di area yang dilarang sekalipun. (Foto: Zainal Rachman. Lokasi: Depan Rujab Gubernur Sulsel. 17 Oktober 2011).
Ke depan, Makassar nampaknya membutuhkan wali kota yang tidak banyak omong namun terbukti bekerja dengan tegas. Warga tidak butuh slogan panjang, berbunga-bunga, melambung tapi kosong. Kota Makassar lima tahun ke depan membutuhkan sosok yang berani membuktikan kemampuannya untuk menyamankan kota ini dari kemacetan. Itu saja!

Tidak usah terlalu muluk-muluk, buktikan saja satu itu.. Adapun yang lain, masalah ekonomi, budaya, sosial, pendidikan, kesehatan, politik dan keamanan, berikan pada ahlinya di bawah komando wali kota. Kalau tidak becus, ganti!

Berikutnya, Makassar butuh wali kota yang membuka ruang-ruang hijau yang baru, yang luas, untuk kelestarian lingkungan kota dan interaksi sosial masyarakat. Itu saja! Buktikan dengan kekuasaan yang wali kota miliki.

Makassar yang semrawut. Pemandangan ini ditemui di depan rujab wali kota. “Banyak pertanyaan untuk wali kota”. (Foto: M. Yulanwar. Lokasi: Jl. Penghibur. 18 Oktober 2011).
Makassar yang semrawut. Pemandangan ini ditemui di depan rujab wali kota. “Banyak pertanyaan untuk wali kota”. (Foto: M. Yulanwar. Lokasi: Jl. Penghibur. 18 Oktober 2011).
Kota Solo dan Jogja adalah dua kota yang bersahaja yang membuktikan pembangunan kotanya dengan cara tegas namun berpihak pada warga; yang tidak peduli pada slogan macam-macam, apalagi kota dunia, sepanjang warganya merasa nyaman. Apalah artinya meraih pengakuan dunia di tengah ketidaknyamanan warga(?) Tentang kondisi kota, yang lebih tahu dan lebih merasakannya tentu adalah warga, bukan anggota forum internasional.

Tapi apa boleh buat, kota kita ini semakin dipenuhi pertanyaan. Apakah wali kota tidak bisa menjawab? Bisa! Bahkan lancar dan mantap jawaban-jawabannya. Apakah kemudian itu sesuai atau tidak, dijalankan atau tidak, itu persoalan lain; dan itu adalah bahasa kegagalan ala penguasa. Dan yang pasti, kesemrawutan dan kemacetan yang terjadi di Makassar adalah akibat yang ditimbulkan dari pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan secara sadar dan cermat; yang tidak mungkin luput dari pengetahuan wali kota. [V]
 

2 comments

umma azura's picture
umma azura wrote 25 weeks 10 hours ago

Kota yang diatur orang yang

Kota yang diatur orang yang tidak bisa mengatur dirinya sendiri. Kesembrawutan Makassar, cermin pribadi sang penguasanya

Surya Syahrul Rajab's picture
Surya Syahrul Rajab wrote 14 weeks 10 hours ago

Ada kegelisahan yang begitu

Ada kegelisahan yang begitu lama tlah kupendam sebagai seorang manusia yg beretnis Makassar, tidak bisa saya nafikan bahkan berapologi sedikit saja, ketika pandanganku melihat Kota Makassar Secara utuh dewasa ini...Takjub, Kagum dengan pesatnya perkembangan serta progresifitas kemajuan ekonomi di kota ini. Namun, dibalik logika developmentalisme yang menjadi kerangka pikir penguasa ini, saya merasa bahwa semua itu adalah upaya menyingkirkan dan mengalienasi manusia dari dirinya sendiri..Kota Dunia, Hahh...Seperti apakah kiranya bentuk Kota Dunia itu ???Menuju Kota Dunia, hanyalah Eufomisme Penguasa untuk melakukan pemusnahan secara struktural kepada Etnis lokal...Patung SULTAN HASANUDDIN di Lapangan sejarah Karebosi yang di hilangkan oleh kebijakan pemerintah kota Makassar, adalah bukti bahwa ada konspirasi untuk mendistorsi sejarah, sehingga Etnis Makassar :1. Marjinal hingga mulai hilang dari arus sejarah Kota Makassar2. Tidak lagi di anggap ada sebagai entitas masyarakat pribumi3. Kehilangan akses atas struktur ekonomi, politik, budaya dan sosialHal di atas merupakan kerangka hipotesis yang coba saya bangun, untuk mendapatkan setidaknya sedikit penjelasan, mengapa kami mau di hilangkan dalam realitas sosial di Kota Makassar, Padahal ini kampung Halaman Kami....????Sekali lagi saya hanya merasa gelisah, dan kegelisahan ini mesti saya tumpahkan pada tulisan, sebelum meninggalkan kotaku yang kusayangi ini...

Add your comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly. If you have a Gravatar account associated with the e-mail address you provide, it will be used to display your avatar.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd><img>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Image links with 'rel="lightbox"' in the <a> tag will appear in a Lightbox when clicked on.

More information about formatting options