Michel Rolph Troillot, sang penulis buku: Silencing the Past: Power and the Production of History (1995), pernah menggambarkan tentang adanya permainan kekuasaan berupa penciptaan narasi alternatif dalam penulisan sejarah yang berawal pada pengadaan fakta maupun sumber. Hal ini diawali dengan pembentukan pengetahuan sejarah (historical knowledge) dan narasi-narasi besar (grand narratives).
Akibatnya, lahirlah berbagai karya sejarah yang memuat cerita suatu peristiwa berdasarkan versi serta kehendak penguasa. Sejarah pun tampil sebagai alat legitimasi kekuasaan dan pilar penting bagi tegaknya sebuah rezim. Serentak dengan itu demi eksistensi kekuasaannya, maka dikukuhkanlah ideologi tertentu sebagai falsafah hidup berbangsa dan bernegara dalam paket indoktrinasi.
Jika sejarah merekam kebaikan orang baik, pendengar yang berpikir akan tergerak untuk meniru apa yang baik
Kondisi seperti itulah yang melanda Indonesia, terutama pada masa kekuasaan Rezim Orde Baru. Bahkan era kepemimpinan Presiden Soeharto dengan kompleksitas persoalan kebangsaan yang ditimbulkan ini, sering disebut sebagai mimpi buruk bagi hari-hari yang seharusnya indah dalam hidup berbangsa dan bernegara. Lalu bagaimana dengan narasi tentang kebangkitan nasional kita?.
Akar Sejarah
Kebangkitan nasional adalah masa yang dihubungkaitkan dengan lahirnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme anak-anak bangsa. Kebangkitan ini merupakan manifestasi dari kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, serta membebaskan tanah air dari cengkraman kaum penjajah. Dalam sejarah versi buku pelajaran di sekolah, masa ini dikaitkan dengan kelahiran Boedhi Oetomo (20 Mei 1908).
Figur yang dianggap berjasa antara lain: Sutomo, Gunawan, dr. Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Suryoningrat (Ki Hajar Dewantara), dr. Douwes Dekker, dan lain-lain. Selanjutnya, pada 1912 beberapa organisasi berdiri di antaranya adalah Indische Partij yang dianggap sebagai partai politik paling wahid di Indonesia. Pada masa yang sama Haji Samanhudi juga mendirikan Sarekat Dagang Islam di Solo, sementara KH Ahmad Dahlan sendiri, mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta.
Kebangkitan nasional juga dianggap buah kesepakatan di antara para mahasiswa kedokteran Bumi Putera pada School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Lembaga pendidikan ini juga dikenal sebagai sekolah untuk pendidikan dokter Bumi Putera), yang berada di Weltevreden Batavia (Jakarta pusat sekarang).
Berdirinya organisasi yang dipelopori oleh orang-orang Jawa ini, diimpikan menjadi induk semangat persatuan dan kesatuan masa mendatang. Embrio dari cita-cita itu tampak pada dukungan beberapa lembaga pendidikan di Jawa seperti: sekolah pertanian (landbouw school) dan Sekolah Dokter Hewan (veeartsnij school) di Buitenzorg (Bogor), Sekolah Kepala Negeri (Hoofdenschool) di Magelang, Sekolah malam untuk penduduk (Burger avond School) di Surabaya, Sekolah Pendidikan Guru Bumi Putera di Bandung, dan sebagainya.
Singkat cerita, kelahiran organisasi induk (jika bisa dikatakan begitu) ini, kemudian dikukuhkan sebagai hari kebangkitan nasional. Dengan demikian, memperingatinya setiap tahun pernah dianggap sebagai hal yang sakral.
Tafsir Ganda
Seiring lahirnya kesadaran baru dalam berpikir historis, eksistensi Boedhi Oetomo (BO) sebagai tonggak kelahiran kebangkitan nasional pun digugat. Konsekuensinya, 20 Mei 1908 dianggap tidak sepatutnya diperingati dengan alasan beragam, antara lain: karena organisasi ini dianggap pro penjajah (Belanda), tidak berorientasi pada cita-cita Indonesia merdeka, tidak nasionalis, dan yang lebih ekstrim lagi dicap anti agama.
Selain itu, berdirinya organisasi Syarikat Islam (1905), yang lahir lebih awal dari Boedhi Oetomo (1908) dianggap lebih pantas dijadikan sebagai momentum sejarah peringatan. Bahkan dengan beberapa argumen, SI justru dianggap lebih berhaluan nasionalis, menentang penjajah Belanda, dan berorientasi pada perjuangan Indonesia merdeka.
Eksistensi para pemimpin organisasi ciptaan sekelompok mahasiswa kedokteran STOVIA ini, pun digugat terutama yang menjabat sebagai pemimpin pertama dari BO (T. Tirtokusumo) dianggap orang kepercayaan Belanda. Kedekatan dengan kaum penjajah, juga dihubungkan dengan kebiasaan dalam rapat BO yang notabene menggunakan bahasa Belanda. Selain itu, dari segi tujuan organisasi (Pasal 2 Anggaran Dasar BO) yang memuat tentang keinginan menggalang kerjasama untuk memajukan tanah dan bangsa Jawa serta Madura dianggap sangat lokalistik (Jawa-Madura sentris).
Tafsir ganda dan beberapa argumentasi itu, lalu mengundang pertanyaan sekaligus keraguan historis generasi muda dan anak-anak bangsa di kemudian hari. Boleh jadi efek domino dari lahirnya kecenderungan menggugat sejumlah peristiwa penting yang dianggap “bersejarah” di Indonesia sejauh ini, akan merembes ke ranah “sejarah nasional” yang lain.
Spirit Baru
Sam Winenburg (2006) pernah mengemukakan sebuah konsep tentang pentingnya berpikir historis lewat kalimat “historical thinking and other unnatural acts charting the future of teaching the past”. Makna pernyataan tersebut adalah upaya memetakkan masa depan (acts charting the future), hanya bisa dilakukan ketika seseorang mengetahui (mengajarkan) masa lalu (teaching the past).
Dalam konteks ini, sejarah berguna untuk memberikan inspirasi kepada orang yang mempelajarinya. Singkatnya, belajar sejarah adalah langkah mengetahui tata perilaku manusia (baik individu maupun kolektif) pada masa lampau. Sekaitan dengan itu, bagaimana pelajaran sejarah tentang kebangkitan nasional yang masih kontroversial dapat dijadikan inspirasi dalam membangun kebangkitan nasional baru di Indonesia?
Sejarawan Inggris, Venerable Bede yang mengkaji tentang terbentuknya kebudayaan Anglo-Saxon, dalam bukunya The Elessiastical History of the English menyatakan: “Jika sejarah merekam kebaikan orang baik, pendengar yang berpikir akan tergerak untuk meniru apa yang baik; atau jika ia merekam keburukan orang jahat, pendengar atau pembaca yang taat dan beriman akan tergerak untuk menghindari segala hal yang berdosa dan mati-matian mengikuti apa yang dia ketahui sebagai yang baik dan disenangi Tuhan”.
Munculnya upaya menggugat sejarah termasuk momentum kebangkitan nasional hingga berujung pada lahirnya tafsir ganda terhadapnya, harus dihargai sebagai wujud kesadaran historis baru. Meskipun demikian, tidak boleh dinafikan pula sejumlah peristiwa yang dikisahkan (meski direkayasa secara politisir) memberi andil terhadap pembentukan nasionalisme tahap awal sebelum menjelma menjadi spirit baru kebangkitan nasional.
Dengan kata lain, apa yang salah dan keliru dari penentuan momentum harkitnas di masa lampau menjadi pelajaran untuk menentukan energi baru kebangkitan nasional sekarang. Gerakan bersama pengentasan kemiskinan, pemberantasan korupsi, membasmi teroris, pendidikan moral dan karakter bangsa, serta membebaskan rakyat Indonesia dari seribu satu jenis kebangkrutan nasional merupakan wujud kebangkitan nasional yang diperlukan hari ini. [V]
Add your comment