Pada umumnya Umat Islam dapat dibagi menjadi tiga kelompok:
Kelompok pertama adalah mereka yang dunianya terbatas pada lingkaran syari'at yang eksklusif.
Kelompok kedua adalah mereka yang mulai menerjemahkan Islam ke dalam sistem dan tatanan sosial, namun belum punya daya modifikasi untuk menerapkan dan hanya menemukan cara yang mencuat radikal.
Dan kelompok yang ketiga adalah yang sudah mengejawantahkan Islamisasi terhadap watak lingkungan dan ritme perubahan.
Kebiasaan mempelajari Islam secara mendalam namun tidak melebar - pada wawasan pendukung di luar Islam - menjadikan sebagian umat memiliki sikap fanatik yang sempit.
Alhasil, setiap orang yang berdiri di seberang lapangan moralitas Islam-mereka kemudian mereka anggap "musuh utama". Mereka kemudian menghindari orang-orang yang terlihat modis, orang dengan intonasi berbicara tidak ke"arab-arab"an, orang yang jidatnya tidak hitam, disertai seruan;
“Jangan memakai Jeans, itu pakaian orang Amerika. Amerika itu kafir!!!"
"Jangan bermain sepakbola, itu olahraga Belanda, Belanda itu musyrik!!!"
"Jangan pakai Ponsel merk N***A!!!"
"Jangan join facebook!!!"
"Jangan!!!"
Fanatisme kian merasuk, hingga menggilas ruang yang semestinya dihuni oleh Rohmat, Ukhuwah dan Yusron fii diinin. Tumbuhlah sikap sosial yang gampang terjebak pada dikotomi muslim-kafir. Kebiasaan mudah memberi vonis muslim-sesat, muslim-musyrik, islam-sempalan, bahkan oleh indikasi yang teramat sepele.
Kebenaran seolah langka dan menjadi milik segolongan saja, disertai munculnya fobi kepada kelompok lain, prasangka-prasangka terhadap golongan-golongan yang tidak sama.
Sebagian dari kita sudah cukup kenyang dengan vonis kafir, yang justru dilontarkan oleh golongan orang-orang yang katanya mengutuk pengkafiran sesama Islam.
Pun saat kami gencar-gencarnya mendukung bahkan memprakarsai kajian-kajian penyamaan persepsi, - yang salah satu tujuannya adalah membuka mata saudara-saudara kita yang senang bermain dengan vonis kafir maupun sesat - tuduhan dan tudingan tetap saja mengantri jawaban.
Kaum-kaum yang senang bermain vonis ini - setelah ditelusuri - ternyata adalah segolongan umat eksklusif yang hidup penuh dengan stereotip dan sektarianistik. Kaum yang dengan mudah membakari kios-kios pedagang yang ngeyel berjualan pada saat Romadhon, menggebuki sesama muslim lantaran ikut menandatangani kontrak Kebebasan Beragama.
Tapi yang lalu biarlah berlalu…Mari untuk tidak bosan-bosannya menyeru dalam kajian maupun tarbiyah; "Saudara-saudara sebangsa tanah dan sebangsa air! Problema kita tidak akan pernah selesai dengan saling membenci, dengan fobia-fobia serta prejudis emosional. Islamku, mari bersatu!" [V] Syahruddin
Saya sangat setuju dengan
Saya sangat setuju dengan ulasan saudara!
jangan ngeBLOG... jangan...
jangan ngeBLOG... jangan...
Add your comment