Sampai sekarang belum ada hasil penelitian yang meyakinkan mengenai awal mula kemunculan Coto Makassar. Awal kemunculannya masih menjadi pertanyaan besar, di mana dan sejak kapan makanan berkuah ini pertama kali dibuat dan dihidangkan. Dugaan sementara, Coto Makassar telah ada sejak Somba Opu (pusat Kerajaan Gowa) berjaya pada tahun 1538. Konon ketika itu masakan bertabur bumbu rempah ini menjadi hidangan bagi kalangan petinggi istana di Kerajaan Gowa dahulu.

Buka Pagi-pagi sebelum ruko lain buka
Namun sekarang coto Makassar sudah sangat populer dan mudah ditemukan mulai dari kelas hotel berbintang, restoran, hingga terhidangkan dalam bentuk warung-warung di beberapa pinggiran jalan.
Konon ketika itu masakan bertabur bumbu rempah ini menjadi hidangan bagi kalangan petinggi istana di Kerajaan Gowa dahulu
Tidak cuma di Makassar saja, hidangan coto yang dalam aliran modern digolongkan sebagai hidangan sup ini telah menyebar hampir di seluruh pelosok Nusantara. Tidak ketinggalan pula di Kota Ambon. Berdasarkan keterangan sejumlah orang, Makanan khas Makassar ini mulai dikenal penduduk Ambon bersamaan dengan kedatangan orang-orang Makassar di daerah ini, sekitar tahun 1980 silam.
Dari sekian banyak warung coto Makassar yang tersebar di kota Ambon, ada satu warung Coto Makassar yang cukup terkenal, menempati sebuah ruko berlantai tiga di bilangan Jl. A. Y. Patty. Warung Coto Makassar yang diasuh oleh Hj. Nurhayati(51 tahun) ini menyematkan label “Coto Anda” untuk nama warung cotonya.

Hj.Nurhayati Pemilik warung coto Pertama di Ambon, datang tahun 1980.
Berdasarkan kisah sejarahnya, Coto Makassar menjadi makanan bagi para pengawal Kerajaan Gowa untuk mengisi perut di subuh hari sebelum bertugas di pagi harinya, dan memang hampir semua warung coto Makassar baik yang ada di Makassar maupun di luar Makassar semuanya selalu buka di awal pagi. Warung “Coto Anda” milik Hj. Nurhayati pun demikian, masih pagi-pagi sekali warung yang menempati ruko berlantai tiga di jantung Kota Ambon itu telah diserbu pelanggan yang akan sarapan sebelum beraktivitas. Waktu yang paling tepat untuk menyantap Coto adalah di pagi hari hingga siang hari, atau malam hingga tengah malam. Tapi itu bukan patokan utama, karena Coto sebenarnya bisa disantap kapan saja.
Menurut pengkuan Hj. Nurhayati, ia bersama suaminya merintis usaha warung coto itu, sejak usianya masih 20 tahun. Pertama kali datang ke Ambon ia membuka tenda gerobak di pinggir jalan tetapi usaha miliknya itu sempat terhenti selama dua tahun akibat kerusuhan di tahun 1999. Awal tahun 2001 dia mencoba lagi, seiring dengan pulihnya keamanan dan semakin banyaknya pendatang dari Makassar yang mulai kembali berdatangan di kota itu, maka usaha warung cotonya makin lama makin meningkat dan tahun 2005 menyewa sebuah ruko sampai kini.
“Beta balum pung anak waktu katong mulai buka ini warung, waktu itu zeng laku, orang balum tau makanan apa itu coto,” ujarnya.

Dinginnya malam terobati dengan hangatnya Coto Makassar
Penduduk kota Ambon seluruhnya sepakat, bahwa warung coto Makassar pertama di Ambon adalah warung ‘Coto Anda’ itu. Bila di Makassar, Coto disajikan dengan harga yang beragam dari Rp 3.500 per mangkuk hingga Rp 7.000, tergantung kelas si pedagang, bahkan beberapa warung Coto di Makassar memberikan paket gratis ketupat, maka lain hal bila kita ingin menikmati coto Makassar di kota Ambon ini, kita harus merogoh kocek agak dalam, karena harga yang harus dibayarkan untuk semangkok coto Makassar sebesar Rp 11.000, itu belum termasuk harga ketupat atau buras yang Rp 1000 per buah.
Bila dalam tradisi masyarakat Eropa menyantap sup disandingkan dengan roti sebagai pengganjal perut di malam hari, maka berbeda dengan sup ala Makassar ini, Coto Makassar dianggap hambar bila tak diiringi dengan ketupat atau burasa. Keenakan menikmati Coto Makassar tak terlepas pula dari tradisi peramuaanya yang secara khusus diolah dalam kuali tanah yang disebut “Korong Butta” atau “Uring Butta”. Sayang sekali Coto Makassar yang diasuh Hj. Nurhayati asal Galesong, kabupaten Takalar ini tidak lagi menggunakan Korong Butta atau kuali (yang terbuat dari) tanah.
“Tea’ mako deh.. teaja nifoto..” (Ndak usah.. saya ndak mau difoto) begitu kata Hj. Nurhayati sambil tertawa ketika Versi membidikkan kamera, meminta izin mengambil potret wajahnya. Meskipun usaha yang digeluti nenek bercucu tujuh ini sudah sedemikian maju, bahkan tengah berencana membuka cabang di Boulevard-Makassar, namun dirinya mengaku tidak terlalu suka dipublikasikan. [V]
Add your comment