Potensi sumber daya alam asli Maluku yang sangat kaya rempah-rempah, terutama Maluku Utara dan Maluku Tengah, telah menjadikan daerah ini sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dunia. Jauh sebelum kita mengenal pasar bebas dan ekonomi global seperti saat ini, Maluku sejak dulu telah menjadi ladang produktif beberapa komoditas unggulan dunia, seperti cengkeh, pala, fuli (bunga pala), kayu manis dan pinang.

Awalnya hanya gerobak kecil di tepi jalan. (Foto: Khairil Anas)
Kekayaan alam yang kemudian menarik pedagang dari China,Timur Tengah dan Eropa untuk datang ke daerah ini di Abad VII sampai XI, lalu di awal abad XII menyusul pula Kerajaan Sriwijaya, Melayu dan Majapahit dari Jawa datang mengejar dan membeli rempah-rempah potensial itu. Begitu menggiurkannya hasil perdagangan rempah-rempah ini sehingga abad XVI masuk pula Portugis, lalu di abad XVII menyusul Belanda.
Pendatang asal Makassar dan Bugis yang dikenal sebagai pekerja produktif, hemat, dan bermental baja, memiliki sifat pantang mundur, menjadi alasan utama kebijakan Hasan Slamet dan Akib Latuconsina selaku Gubernur Maluku kala itu untuk mendatangkan mereka ke Maluku

Pendatang Makassar lebih memilih bekerja sebagai pedagang atau pengayuh becak. (Foto: Khairil Anas)
Selain berjumpa dengan agama dan bangsa-bangsa lain dari berbagai belahan dunia, orang Maluku juga mengalami perjumpaan dengan suku-suku lain dari Indonesia. Suku Makassar dan Bugis masuk dan mendiami daerah-daerah di sekitar Maluku Tengah, Maluku Utara dan wilayah-wilayah di Kepulauan Halmahera dan Morotai. Berawal ketika pemerintah Orde Baru dibawah kekuasaan Presiden Soeharto membuat sebuah program transmigrasi ke daerah Maluku. Ambon,Ternate, Soa Siu (Tidore), Tual dan Masohi adalah kota-kota yang menjadi incaran spontan para migran dari Sulawesi Selatan dan Tenggara. Akibatnya kota-kota tersebut menjadi padat penduduk, terutama di Ambon. Migrasi besar-besaran ke daerah ini terjadi antara tahun 1971 sampai 1980.

Hj. Nurhayati Pemilik warung coto pertama di Ambon, datang tahun 1980. (Foto: Khairil Anas)
Secara fisik, Ambon yang pada tahun 1980 hanya seluas 4,2 km2 didiami penduduk sebanyak 208.898 jiwa, tiba-tiba menjadi kota terpadat di dunia. Masuknya migran spontan dari berbagai daerah, khususnya Sulsel menambah rumit kehidupan sosial di Maluku. Pertambahan penduduk yang tidak terduga ternyata memberikan implikasi sosial yang berdampak negatif bagi anak-anak Maluku. Penerimaan PNS dan Militer yang selalu didominasi anak-anak Maluku, bergeser ke para pendatang.
Tetapi tidak banyak pendatang asal Makassar yang tertarik dalam sektor industri maupun informal. Migran asal Makassar yang memiliki mental dagang, lebih memilih bekerja sebagai pedagang maupun pengayuh becak. Sebuah mental yang sulit ditandingi oleh penduduk pribumi Ambon yang tidak memiliki mental seperti itu kala itu.

Toko Ujung Pandang, pemiliknya adalah orang Makassar. (Foto: Khairil Anas)
Pendatang asal Makassar dan Bugis yang dikenal sebagai pekerja produktif, hemat, dan bermental baja, memiliki sifat pantang mundur, menjadi alasan utama kebijakan Hasan Slamet dan Akib Latuconsina selaku Gubernur Maluku kala itu untuk mendatangkan mereka ke Maluku. Kedua gubernur ini berharap, dengan membanjirnya tenaga produktif yang mengisi sektor industri dan informal, dapat mendorong percepatan pembangunan di Maluku.
Hal ini dinyatakan oleh sosiolog Dr.Thamrin Amal Tomagola dari Universitas Indonesia, dalam sebuah catatannya ia mengatakan, masuknya migran dari Makassar dan Bugis ke Maluku, khususnya di Kota Ambon terjadi di era Hasan Slamet menjabat sebagai Gubernur Maluku pada periode kedua. Dan hal serupa juga dilakukan oleh Gubernur Akib Latuconsina. Dengan memasukkan dua suku besar ini dalam jumlah besar diharapkan dapat memenuhi sumber daya manusia pada level menengah ke bawah. Selain itu kedua gubernur Maluku ini juga menginginkan terwujudnya penyeimbangan komposisi penduduk berdasarkan agama Kristen dan Islam.

KKSS gelar acara silaturahmi. (Foto: Khairil Anas)
Namun, tidak dapat dipungkiri meningkatnya arus migran dari luar Maluku cukup mengganggu pranata sosial di Maluku, yang menyebabkan terjadinya kerenggangan persekutuan masyarakat adat. Komunikasi sosial dan kultural yang selama ini berkembang secara alami di Maluku terdistorsi karena dihilangkannya sistem pemerintahan negeri. Karisma Bapak Raja, Kewang, Marinyo, Kepala Soa, Kapitan disingkirkan oleh kehadiran kepala desa, RT/RW, Babinsa, Koramil dan Hansip.

Pantai Losari Ambon, yang beri nama Losari adalah orang Makassar. (Foto: Khairil Anas)
Pendatang asal Makassar masuk ke Maluku berbarengan dengan dikampanyekannya konsep asimilation (pembauran) oleh pemerintah Orde Baru kala itu. Gagasan yang bersifat sentralistik ini berakibat pada hilangnya pranata-pranata adat yang menunjukkan keanekaragaman budaya di Indonesia, yang lalu diganti dengan pranata modern dan uniformis dengan sifat yang sangat nasionalistik.
Selain untuk tujuan berdagang, bertani dan menjadi nelayan, pendatang Makassar juga mencari peluang lain yang lebih prospektif di bidang jasa dan industri. Suku Makassar dan Bugis yang lebih berorientasi pada dunia perdagangan dan jasa lalu menguasai transportasi darat, di antaranya menjadi pengemudi becak dan sopir angkutan kota dan nelayan antar pulau. [V]
Add your comment