Cerita ini dimulai sehari sebelumnya, tepatnya Selasa, 19 Oktober 2010 kemarin. Tahu Pak EsBeye ada di Makassar dan demonstrasi sedang berkecamuk di beberapa langganan titik, saya urung keluar rumah. Hari itu saya tidak masuk kantor. Entah mengapa, saya lebih memilih mengasiki demo mahasiswa UNM dari layar tivi yang ketika itu disiarkan live MetroTV. Teh hangat rasa melati kesukaanku dan sebiji roti coklat buatan pabrik harga seribu rupiah, menjadi teman setia menikmati adegan hujan batu yang dilancarkan mahasiswa ke arah polisi bertameng lengkap. Jalan Raya Pendidikan yang dirimbuni pepohonan kupu-kupu, sedikit banyaknya mampu meromantiskan suasana kasar dan panas di lokasi itu. Meskipun begitu, menyaksikannya dari jarak puluhan kilometer, kurasakan kata-kata tak lagi berfungsi untuk kuucapkan.

"Naga" di langit Makassar. Diputar 90 derajat dari gambar sesungguhnya. (M. Yulanwar. Lapangan SDN PAM. 20 Oktober 2010).
Lelah dihantam tontonan seperti itu, saya beranjak dari kursi panjang. Ganti baju, siapkan peralatan kamera, dan berangkat ke Fort Rotterdam. Tujuan cuma satu, mendokumentasikan perbaikan benteng tua tersebut. Meskipun sulit tembus ke benteng (tentara dan polisi sangat ketat mensterilkan sepanjang kawasan pantai), akhirnya saya lolos juga. Puas mengabadikan beberapa bangunan yang atap dan kulit dindingnya dirontokkan para tukang, saya menuju ke Bastion Bone, dan mendaratkan pantatku di pucuk kepala benteng. Di sini saya menghabiskan waktu bersama pemandangan tentara yang ramai berjaga di sepanjang Jalan Ujungpandang. Dari sini pulalah saya berhasil memotret Pak EsBeye yang melintas, melambai dari dalam mobil hitam berbendera merah putih.
Jepretan pertama saya ambil di Jalan Haji Bau, pukul 13.10. Kepalanya mengarah ke Utara dan ekornya di Selatan. Awan berbentuk naga itu (ular atau belut raksasa?) melintas di atas Wisma Kalla

Jepretan pertama. "Naga" melintas di atas Wisma Kalla. (M. Yulanwar. Jalan Haji Bau. 20 Oktober 2010).
Beberapa detik kemudian, jalan yang tadi hening seketika kembali ramai oleh kendaraan. Makassar yang tadinya seolah lumpuh akibat banyak jalan yang ditutup (dan berakibat macet di banyak titik jalan utama), kini kembali mulai normal. Repot juga ya, (setiap) presiden datang, masyarakat yang kewalahan.
Dari fort saya menuju ke Tanjung Bunga. Ke rumah Pak Yuri, pemimpin umum Versi. Menengok kondisinya yang sakit, saya juga ingin mengaso di halaman rumahnya yang baru di Espana Residen. Singkat cerita, di bawah langit sore yang berawan, bersama kopi coklat panas, kami menikmati angin dan berbagi kisah ringan tentang hari itu. Di kompleks rumahnya-lah saya berhasil mengabadikan awan yang terlihat seperti UFO yang terbang miring menukik.

"Naga" hendak mengunyah sang Saka. (M. Yulanwar. Lapangan SDN PAM. 20 Oktober 2010).
Di sela-sela cerita, Pak Yuri mengingatkan saya betapa uniknya penanggalan besok. “Tanggal 20 bulan 10 tahun 2010”, katanya. Saya tersentak. Mengapa sampai saya tidak memperhatikannya, umpatku membathin. “Sebenarnya tidak ada istimewanya, cuma langka. Seribu tahun akan datang baru bisa didapatkan tanggal seperti itu lagi, tanggal 30 bulan 10 tahun 3010,” tambahnya. Saya kembali tersentak. “Iya ya,” jawab saya refleks. “Sebab tanggal 10 bulan 10 tahun 1010, sudah terjadi seribu tahun yang lalu. Yang lebih istimewa lagi tanggal 11 bulan 11 tahun 1111. Pengulangan angka yang sama ini tidak mungkin terulang kembali, kecuali pada tanggal 11 bulan 11 tahun 11111. Itu adalah penanggalan yang sangat istimewa, karena berulang pada angka yang sama.” Pak Yuri menyelesaikan ceritanya lalu menyeruput kopinya.
“Saya harus hunting besok. Saya mau mengabadikan Kota Makassar tepat di tanggal 20 bulan 10 tahun 2010,” kataku cepat. “Biar generasi seribu tahun ke depan tahu, bagaimana kondisi Makassar seribu tahun yang lalu.” Kopi coklat lekas kuhabiskan. Suara masjid mulai mengaji, saya pun pamit pulang.

Awan mirip UFO, melayang di langit Losari. (M. Yulanwar. Espana Residen. 20 Oktober 2010).
Di rumah pikiranku melayang-layang. Beberapa rencana liar pada berdatangan, tak mudah kujinakkan. Puncak beberapa gedung jangkung di Makassar telah masuk dalam daftar kunjunganku besok. Memotret Makassar dari ketinggian sangat pas untuk dilakukan. Namun, seperti biasa, naskah dan edit foto untuk VERSI membawaku terjaga hingga larut malam. Sesudah itu beberapa tulisan tentang Atlantis ‘yang katanya di Indonesia’ sungguh menarik untuk kuhabiskan.
Apa yang terjadi? Saya kesiangan dan … gelagapan.
Tancap mandi, tanpa perlu sarapan, saya lalu sudah berada di jalan. Tak ada yang istimewa. Makassar tetap seperti sehari yang lalu, panas dan macet. Rencana semalam untuk berada di pucuk-pucuk gedung kubatalkan. Saya cuma bisa keliling (di sedikit bagian) kota. Motret Tunel yang tertancap di Karebosi; pohon kayu korek yang tengah sekarat; kafe eat@out; mal MTC; keramaian Jl. Ahmad Yani; dan demo mahasiswa di depan Monumen Mandala. Saya tidak puas. Pikiranku bekerja. Masa’ cuma itu? Obyek apa yang sebaiknya kuabadikan di angka 20.10.2010 ini? “Pasti ada sesuatu yang menarik di hari yang unik ini”, bathinku.
Langit. “Ya, langit. Lihat ke atas, cari awan. Cari sesuatu yang menarik,” teriak hatiku.

"Sang Naga" menukik ke Timur (ekor di Barat), disambut "jilatan api". (M. Yulanwar. Anjungan Makassar. 20 Oktober 2010).
Saya pun menengadah ke atas. Kumpulan awan berbentuk kepala dengan badan yang menjulur panjang ke belakang tertangkap mataku. Sigap, motor segera kutepikan, dan mengabadikan awan tersebut. Tak kubiarkan diriku menikmatinya. Prinsipnya jelas, foto dulu, baru dinikmati. Soalnya, momen seperti ini harus cepat. Kita beradu dengan waktu.
Jepretan pertama saya ambil di Jalan Haji Bau, pukul 13.10. Kepalanya mengarah ke Utara dan ekornya di Selatan. Awan berbentuk naga itu (ular atau belut raksasa?) melintas di atas Wisma Kalla. Tak puas di lokasi ini, saya pun lanjut. Kebetulan saya harus menjemput anak-anak di sekolah, di SD PAM, Jalan Ratulangi. Tiba di sana saya langsung mencari lapangan, lalu memberondong awan itu dengan jepretan. Tapi tetap belum puas.
Setiba mengantar anak-anak di rumah, saya bergegas ke Pantai Losari. Tak ada areal yang lebih lapang dan luas (yang dekat dari saya) selain pantai yang direklamasi itu. Di sini, saya pun memuaskan diri menghajar naga itu dengan jepretan. Saya bahkan menyempatkan diri mendokumentasikan pembangunan Masjid Makassar 99, yang kini masih taraf pembangunan pondasi di atas laut.

"Jilatan api" di balik Hotel Imperial. Karebosi bagai terbakar. (M. Yulanwar. Anjungan Makassar. 20 Oktober 2010).
Dari gerak ‘berenangnya naga’ itu di langit, posisinya yang awalnya tepat berada di tengah langit (saat itu langit masih bersih, biru, awan masih sedikit, kecuali ‘si naga’ yang nampak sangat jelas) ia lalu condong menukik ke bawah, ke arah Timur dan ekor menjulur ke Barat. Menariknya, naga itu seolah disambut oleh awan berbentuk lidah api (atau seperti bunga pakis haji). Pada saat itu, saya lihat badan sang Naga sudah terpotong (sudah tidak jelas. Tinggal kepala, sedikit leher, dan ekornya) oleh pancaran sinar matahari.
Naga dan DefinisinyaPenampakan awan berbentuk naga atau ular panjang sudah sering terjadi, baik di Indonesia mapun di belahan negara lainnya. Sebut saja seperti di Bengkulu (2007), di Jayapura (2010), Palangkaraya (2009), dan di Himalaya (2004). Tidak jelas, apakah setelah penampakan itu, terjadi sesuatu yang luar biasa; bencana atau hal-hal yang baik.
Naga terbagi dua kategori. Naga mistis dan naga phisik alias nyata. Naga mistis, dalam kebudayaan Cina, adalah makhluk misterius yang diakui turun-temurun sebagai simbol bangsa Cina. Dalam catatan-catatan dinasti kuno Cina, naga dikatakan sering muncul ketika terjadi pergantian dinasti-dinasti di bumi. Naga merupakan legenda yang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan masyarakat Cina. Hewan ini sering hadir dalam kisah-kisah masa lalu Cina dan dianggap sebagai makhluk yang istimewa. Orang Mandarin juga meyakini bahwa mereka adalah titisan dari naga. Sementara secara phisik, naga merupakan reptil yang hidup di samudra pada masa Triasik sekitar 200 juta tahun yang lalu. Naga termasuk makhluk amfibi, ia banyak menghabiskan waktunya di air dan terkadang berjalan ke daratan.

"Sang Naga" menghilang, lebur ke dalam "jilatan api" yang semakin meninggi. (M. Yulanwar. Anjungan Makassar. 20 Oktober 2010).
Tapi legenda Naga, bukan cuma dimiliki Cina saja. Di banyak negara Eropa juga memiliki legenda tentang hewan ini, dengan nama-nama yang berbeda. Menariknya, di Timur khususnya Cina, naga dipersonifikasikan sebagai lambang kebaikan, kebahagiaan, keuntungan, kemakmuran, kesuburan, keperkasaan, kekuatan, dan kekuasaan. Pokoknya dihubungkan dengan segala hal yang baik. Sementara di dunia Barat justru terbalik, naga dianggap sebagai personifikasi dari biangnya kejahatan, kekacauan, dan kebrutalan. Pokoknya dihubungkan dengan segala hal yang tidak baik. Bahkan dalam (Wahyu 12:7) diceritakan: “Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu…”. Naga dalam perspektif kristen adalah ular tua yang menjadi musuh Putra Maryam. Yesus punya dua lawan yaitu iblis dan keturunan iblis. Ular tidak lain adalah iblis. Sementara Yudas dipercaya sebagai keturunan ular.
Kata Naga berasal dari bahasa Sanskrit, diambil dari akar kata Nag yang artinya ular, khususnya Cobra. Yang patut ditelusuri, dalam tulisan-tulisan Buddhis, pengertian Naga tidak selalu yang dimaksud Cobra, namun bisa menunjuk kepada gajah karena belalainya yang panjang dan lentur mirip ular, bahkan bisa juga ditujukan kepada seorang yang misterius/kaum ningrat. Selain itu juga bisa diterapkan pada air/kekuatan air juga kepada orang yang mempunyai kekuatan seperti binatang ataupun kepada binatang yang mempunyai kualitas manusia.

"Sang Naga" dengan posisi sesungguhnya. Melintang tepat di tengah langit. Kepala mengarah ke Utara, dan ekor di Selatan. Mulutnya terlihat mengeluarkan asap. (M. Yulanwar. Lapangan SDN PAM. 20 Oktober 2010).
Adapun kata Dragon berasal dari bahasa Latin, Draco; Yunani Kuno, Dracon. Konon dari kata inilah muncul kata Dragon dalam bahasa Inggris. Namun yang dimaksud dengan Dracon adalah ular yang sangat besar, biasanya ditujukan kepada ular (jenis) Pithon. Uniknya, di Indonesia dragon justru diasosiasikan sebagai Komodoo (Dragon Komodo).
Dalam banyak mitos, baik yang tertulis dalam naskah-naskah kuno maupun cerita rakyat, semua mahluk yang melata dikategorikan sebagai naga. Biasanya adalah ular Pithon walaupun secara literal arti kata naga sendiri lebih ditujukan pada ular Cobra. Pithon dianggap sebagai mahluk ilahi yang menguasai lautan dan gunung sekaligus roh bumi yang menguasai dunia bawah dan akhirnya dikenal sebagai Naga.
Yang tidak kalah menariknya, Naga dalam bahasa Mandarin disebut Long atau Loong. Persoalannya, tak sedikit para ahli yang menganggap keliru menterjemahkan Loong sebagai naga, sebab Long mempunyai kualitas yang berbeda dengan naga/ular. Loong lebih tepat diartikan sebagai hewan berbentuk buaya purba.
Menurut Al-Quran
Apapun itu, awan berbentuk naga adalah fenomena alam yang biasa. Terlepas ada yang menafsirkan macam-macam, menghubungkan ke mana-mana dan menanti pembuktikan ramalan yang akan terjadi. Semuanya harus kita kembalikan kepada Allah SWT. Awan dapat berbentuk apa saja atas izin-Nya. Apakah itu ada maksud atau tanda di baliknya, hanya Allah yang Maha Tahu dan Kuasa.
Apakah tindakan saya sia-sia, sebab Allah sendiri yang telah mengunci hati pendengaran dan penglihatan mereka?
Di tengah dini hari yang dingin, muncul perasaan untuk membuka Al-Quran (terjemahan). Ada keinginan untuk mengutak atik 20.10.2010 ke dalam kitab suci. Hasilnya? Angka 20 ternyata tertuju ke Surah Thaahaa; menceritakan tentang kisah Nabi Musa dan mujizat tongkatnya yang bisa berubah menjadi ular. Sementara angka 10 adalah Surah Yunus; menceritakan tentang tanda-tanda kebesaran Allah dalam alam semesta, dan beberapa kisah nabi lainnya. Adapun angka 2010, saya himpun beberapa ayat sehingga berjumlah 2010. Ayat ke 2010 ternyata menunjuk ke Surah An Nahl, ayat 109, yang berbunyi singkat: “Pastilah mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi”. Sampai di sini saya tertegun. Cukup lama. Saya lalu mengambil diri saya dan bertafakur sejenak. Gerangan mengapa mereka bisa merugi? bisikku.

"Sang Naga" dan "Jilatan Api". Dibalik 180 derajat. (M. Yulanwar. Anjungan Makassar. 20 Oktober 2010).
Saya lalu menyusuri ayat-ayat sebelumnya. Di ayat (105) menjelaskan tentang orang-orang yang mengadakan kebohongan. Sementara ayat (107) menjelaskan tentang orang-orang yang mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat. Adapun ayat (108) berbunyi: “Mereka itulah orang-orang yang hati pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai.” Membaca ayat ini saya bagai mematung. Atmosfir kamar kerjaku tiba-tiba kurasakan menyempit. Air mataku mengalir. Gemuruh di dadaku tak dapat membendungnya. “Siapa lagi yang dapat membukanya jika Allah sendiri yang menguncinya,” tanya bathinku tak karuan.
Sebagai wartawan, apakah ini isyarat untuk saya berhenti mengingatkan, mengeritik, dan ‘melawan’ penguasa yang kerap melakukan pembohongan, kejahatan-kejahatan, dan berlindung di balik pencitraan berbagai program kerja dan istilah-istilah pembangunan berbau dunia (yang nyatanya cuma berisi kesemrawutan dan pelanggaran-pelanggaran akut terhadap aturan dan hukum)? Apakah dibiarkan saja kota ini semakin kotor oleh sampah materi dan sampah moril para penguasanya? Apakah tindakan saya sia-sia, sebab Allah sendiri yang telah mengunci hati pendengaran dan penglihatan mereka?

Perhatikan mulut dan matanya. (M. Yulanwar. Anjungan Makassar. 20 Oktober 2010).
Siapa gerangan yang dimaksud ayat-ayat ini? Para penguasa di kota ini-kah? Wallahu a’lam. Saya ambil saja diri saya, ini peringatan untuk saya, untuk segera bertobat dan mendekatkan diri pada-Nya.
Keesokan harinya, 21 Oktober 2010, entah datang dari mana, muncul keinginan untuk menjumlahkan semua angka itu (20+10+2010) menjadi 2040. Lalu saya mencari ayat ke 2040 itu dalam Al Quran. Hasilnya? Ternyata jatuh di Surah Al-Isra, ayat 21. Membacanya saya semakin terkejut. Apa isinya? Silakan cari sendiri. Baca dan renungkan baik-baik.
Untuk ibu-ibu bahagia yang melahirkan bayinya tepat di tanggal 20.10.2010, kelak ingatkan putra atau putri Anda, di saat kelahirannya, Allah mengukir langit-Nya dengan awan bergambar naga yang berenang di langit Makassar. Insya Allah, atas izin-Nya, semoga salah satu dari mereka akan menjadi pemimpin atau orang yang berpengaruh luas, dimana kekuatan berhimpun padanya untuk mengalahkan kebathilan.
Kejenakaan Tuhan
Croping foto. Lumayan detil. Matanya nampak jelas menantang. (M. Yulanwar. Anjungan Makassar. 20 Oktober 2010).
Tulisan dan gambar ini saya bagi bukan untuk apa-apa, kecuali sekadar menaruh secuil peristiwa remeh di atas punggung raksasa jaman, bahwa pada tanggal 20 bulan 10 tahun 2010 di langit Makassar, kumpulan awan telah membentuk seekor naga yang sedang asyik berenang. Sekadar menjadi cerita bagi generasi yang hidup di seribu tahun akan datang. Siapa tahu, pada tanggal 30 bulan 10 tahun 3010, awan model ini muncul kembali … yang berenang entah di langit kota mana.
Allah itu Maha Indah. Ia menjelaskan kebesaran-Nya dengan banyak cara, termasuk peringatan-peringatan-Nya. Ia terkadang hendak menunjukkan kejenakaan-Nya lewat ciptaan-ciptaan-Nya, termasuk awan-awan yang Ia bentuk; menghibur hamba-hambaNya dengan keindahan langit yang terhampar siang malam, sekaligus menguji mereka yang tidak berpikir dan lemah imannya. [V]
Add your comment